Tangerang, Semartara.News — Krisis ketersediaan obat Antiretroviral (ARV) jenis Duviral di sejumlah fasilitas kesehatan Kabupaten Tangerang memicu kekhawatiran berbagai pihak. Kondisi tersebut mendorong Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tangerang mengadakan audiensi bersama Jaringan Indonesia Positif (JIP) Sekda Banten, Yayasan Cita Andaru Bersama (YCAB), mitra penanggulangan HIV, serta perwakilan pasien di RSUD Kabupaten Tangerang, Senin, 18 Mei 2026.
Audiensi yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Instalasi Rawat Jalan RSUD Kabupaten Tangerang itu membahas kondisi stok Duviral yang kosong, sekaligus dampak kesehatan yang mulai dialami pasien akibat pergantian regimen terapi ARV.
Kegiatan tersebut dihadiri Pengelola Program KPA Kabupaten Tangerang Eko Darmawan, perwakilan JIP Sekda Banten Irwanto atau Bang Ir, dr. I Nyoman Sudirga, Sp.PD dari Tim Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) RSUD Kabupaten Tangerang, Marlina Puspita Sari, Dwinanjar, serta sejumlah penerima manfaat layanan HIV.
Ratusan Pasien Terdampak Kekosongan Duviral
Pengelola Program KPA Kabupaten Tangerang, Eko Darmawan, menyebut pihaknya menerima banyak aduan dari pasien terkait tidak tersedianya Duviral di layanan kesehatan. Berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat sekitar 190 sampai 200 pasien aktif yang menjalani terapi ARV, baik dewasa maupun anak-anak.
Dari jumlah tersebut, sekitar 160 pasien masih menggunakan regimen Duviral sebagai bagian utama pengobatan mereka.
“Kami sudah menanyakan langsung ke Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan memang stok Duviral sedang kosong. Saat ini masih diupayakan pemenuhannya,” kata Eko.
Menurutnya, sistem distribusi ARV yang masih tersentralisasi menyebabkan kebutuhan daerah tidak selalu terpenuhi sesuai permintaan. Padahal, pengajuan kebutuhan obat sudah rutin dilakukan melalui Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA).
“Jumlah obat yang diterima belum sesuai dengan kebutuhan pasien di lapangan,” ujarnya.
Penggantian Obat Tidak Bisa Dilakukan Sembarangan
Kosongnya stok Duviral membuat tenaga medis harus mengalihkan sebagian pasien ke regimen lain seperti TLD (Tenofovir, Lamivudine, Dolutegravir). Namun, pergantian terapi itu dinilai tidak dapat diterapkan kepada semua pasien.
Irwanto dari JIP Sekda Banten menjelaskan sebagian besar pengguna Duviral merupakan pasien berusia di atas 50 tahun yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, terutama terkait fungsi ginjal.
“Tidak semua pasien cocok menggunakan TLD. Pada pasien tertentu, terutama lansia, ada risiko terhadap ginjal dan kesehatan tulang,” jelas Bang Ir.
dr. I Nyoman Sudirga turut menjelaskan bahwa penderita HIV dengan infeksi kronis memiliki risiko gangguan pada sejumlah organ vital akibat proses peradangan berkepanjangan di dalam tubuh.
Karena itu, pemilihan regimen ARV harus mempertimbangkan kondisi medis masing-masing pasien agar tidak memunculkan komplikasi baru.
“Masalahnya muncul ketika pasien harus pindah regimen karena efek samping, tetapi stok obat penggantinya juga tidak tersedia,” ujar dr. Nyoman.
Distribusi Terpusat Dinilai Jadi Kendala
Persoalan kelangkaan ARV disebut bukan pertama kali terjadi. JIP mencatat kondisi serupa pernah dialami sejumlah daerah lain di Indonesia akibat mekanisme distribusi obat yang masih bergantung pada pemerintah pusat.
RSUD Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa rumah sakit hanya berperan sebagai penerima distribusi obat, sedangkan kewenangan pengadaan berada di bawah Kementerian Kesehatan RI.
dr. Nyoman mengaku kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi tenaga medis maupun pasien yang sedang menjalani terapi jangka panjang.
“Bagi dokter tentu situasi ini sulit, tetapi pasien yang menjalani pengobatan pasti merasakan dampak yang jauh lebih berat,” katanya.
Melalui audiensi tersebut, komunitas pendamping HIV berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian terkait distribusi ARV agar layanan pengobatan di daerah tidak terganggu.
Dampak yang Dirasakan Pasien HIV
Kekosongan stok ARV dinilai dapat memengaruhi keberlangsungan terapi pasien HIV/AIDS, di antaranya:
- Meningkatnya risiko pasien putus obat yang dapat menyebabkan resistensi virus.
- Pasien dengan gangguan ginjal kesulitan menggunakan regimen alternatif.
- Tekanan psikologis pasien meningkat akibat ketidakpastian pengobatan.
- Tenaga kesehatan mengalami keterbatasan pilihan regimen terapi.
- Upaya pencapaian target nasional pengendalian HIV/AIDS berpotensi terganggu.
Harapan agar Pasien Tetap Mendapat Pengobatan
KPA Kabupaten Tangerang bersama jaringan komunitas dan tenaga medis berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk memastikan stok ARV kembali tersedia di fasilitas kesehatan.
Mereka menilai akses terhadap ARV merupakan kebutuhan mendasar bagi ODHIV yang harus dipenuhi secara berkelanjutan agar pasien dapat terus menjalani terapi dengan aman dan optimal. (*)







