FGD Sespimmen Polri di Sumedang Soroti Rantai Distribusi dan Harga Bahan Pokok

FGD Sespimmen Polri di Sumedang menyoroti rantai distribusi dan harga bahan pokok serta solusi memperkuat ketahanan pangan daerah.
Peserta Sespimmen Polri Dikreg ke-67 TA 2026 bersama Kapolres Sumedang AKBP Reza Ma’ruffi, jajaran Polres Sumedang, dan pemangku kepentingan berfoto bersama usai pelaksanaan FGD di Mapolres Sumedang, Kamis (13/8/2026). FGD membahas rantai distribusi, stabilitas harga bahan pokok, dan penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Sumedang. (Foto: Ist)

Sumedang, Semartara.News – Rantai distribusi dan harga bahan pokok menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Peserta Didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg 67 Poklat 7 di Mapolres Sumedang, Kamis (13/8/2026). Forum tersebut membahas sejumlah persoalan yang dinilai memengaruhi harga sembako di tingkat masyarakat.

FGD melibatkan 11 perwira menengah Polri bersama sejumlah pemangku kepentingan daerah. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kapolres Sumedang, Dr. Reza Ma’ruffi, S.H., S.I.K., M.H., serta diikuti unsur kepolisian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Asosiasi Pengelola Pasar, dan tokoh masyarakat.

Salah satu persoalan yang mengemuka adalah belum adanya pasar induk di Kabupaten Sumedang. Kondisi tersebut dinilai turut menyebabkan rantai distribusi bahan pokok menjadi lebih panjang karena pedagang lokal harus memperoleh pasokan melalui mekanisme distribusi yang melibatkan sejumlah perantara.

Panjangnya rantai pasok tersebut berpotensi meningkatkan harga barang ketika sampai di tingkat konsumen. Karena itu, forum menilai keberadaan pasar induk dapat menjadi salah satu solusi untuk memperpendek mata rantai distribusi dan menciptakan mekanisme perdagangan yang lebih efisien.

Selain pasar induk, peserta FGD juga membahas alternatif lain untuk membantu masyarakat menghadapi fluktuasi harga bahan pokok. Salah satunya melalui pelaksanaan Bazar Pasar Murah yang diharapkan dapat menyediakan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.

Dari sisi pengawasan, kepolisian juga mendorong pemantauan terhadap gudang-gudang distributor. Pengawasan tersebut diperlukan untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat mengganggu ketersediaan pasokan dan berdampak terhadap kenaikan harga sembako.

FGD juga membahas potensi pangan lokal sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan Sumedang. Ubi Cilembu menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomi dan potensi pengembangan yang cukup besar.

Penguatan komoditas lokal tersebut diharapkan tidak hanya mendukung ketersediaan pangan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani serta meningkatkan perekonomian masyarakat.

Tokoh masyarakat H. Sobirin menyambut positif pelaksanaan FGD. Menurutnya, sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, pelaku usaha, pengelola pasar, dan masyarakat diperlukan untuk menjaga distribusi bahan pokok tetap lancar dan harga tetap terjangkau.

Kegiatan tersebut diawasi langsung oleh Brigjen Pol Nurcholis dan disupervisi Kombes Pol Purwanto. Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas persoalan distribusi sekaligus merumuskan sejumlah alternatif solusi.

Melalui FGD tersebut, peserta Sespimmen Polri mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk memperbaiki tata kelola distribusi bahan pokok di Sumedang. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya harga pangan yang lebih stabil sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (*)

Tinggalkan Balasan