Seminar Internasional 40 Tahun IAILM Suryalaya Soroti Transformasi Tarekat di Era AI

IAILM Suryalaya menghadirkan pakar nasional dan internasional untuk mengupas masa depan tasawuf di tengah perkembangan AI.
Para pembicara, akademisi, dan peserta Seminar Internasional 40 Tahun IAILM Suryalaya berfoto bersama di Kampus IAILM Suryalaya, Tasikmalaya, Kamis (3/9/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai kalangan dari dalam dan luar negeri untuk membahas transformasi tasawuf, tarekat, pendidikan, dan dakwah agar tetap relevan tanpa kehilangan nilai spiritual dan kemanusiaan di era digital. (Foto: Ist)

Tasikmalaya, Semartara.News — Transformasi tarekat di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi sorotan utama Seminar Internasional dalam rangka memperingati 40 tahun Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya, Kamis, 3 September 2026.

Mengangkat tema “Digital Sufism: The Transformation of Tariqa in the Cyber Era” atau Tasawuf Digital: Transformasi Tarekat di Era Siber, seminar yang digelar secara hibrida tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, ulama, serta pakar dari dalam dan luar negeri untuk membahas masa depan tasawuf dan tarekat di tengah perubahan teknologi.

Kegiatan yang dipusatkan di Kampus IAILM Suryalaya, Tasikmalaya, dibuka oleh Rektor IAILM, Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag., yang juga menjadi salah satu pembicara utama bersama Prof. Dr. Suhaimi Mhd. Sarif, Wakil Presiden World Academy of Islamic Management (WAIM) dari International Islamic University Malaysia (IIUM).

Transformasi Tarekat di Tengah Disrupsi AI

Ketua Panitia Seminar Internasional, Dr. Nana Suryana, S.Ag., M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan 40 tahun IAILM menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan lembaga dalam menjalankan amanah keilmuan, pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Empat dekade perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kesuryalayaan agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

Menurut panitia, perkembangan teknologi digital dan AI telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, hingga menjalani kehidupan keagamaan. Kondisi tersebut membuat transformasi tarekat menjadi salah satu isu penting yang perlu dikaji secara akademik dan spiritual.

Transformasi digital, kata panitia, tidak semestinya hanya dipahami sebagai perpindahan aktivitas dakwah dari ruang fisik ke ruang digital. Lebih jauh, perubahan tersebut menyangkut persoalan otoritas keagamaan, transmisi ilmu tasawuf, pembentukan komunitas tarekat, serta bagaimana nilai spiritual tetap terjaga di tengah dominasi teknologi.

Dari Dakwah Digital Menuju Networked Khidmah

Persoalan tersebut turut dibahas Dr. Muhamad Kodir, M.Si., Wakil Rektor I IAILM sekaligus Ketua DPP LDTQN Suryalaya, melalui paparannya bertajuk “Beyond Digital Da’wah”.

Ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dari sekadar dakwah digital menuju khidmat berjejaring (networked khidmah).

Menurutnya, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan tarekat dan membangun jejaring pelayanan keagamaan. Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus mempertahankan substansi spiritual, silsilah, dan adab amaliah yang menjadi fondasi tradisi tarekat.

Ia juga mengingatkan agar popularitas di media sosial tidak disamakan dengan legitimasi ruhani (spiritual legitimacy). Jumlah pengikut, views, dan tingkat keterpaparan konten merupakan indikator yang dibentuk oleh algoritma, sehingga tidak otomatis mencerminkan otoritas keilmuan maupun kedalaman spiritual seseorang.

Teknologi Sebagai Instrumen, Manusia Sebagai Pusat

Sementara itu, Prof. Dr. Suhaimi Mhd. Sarif menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya merupakan instrumen. Transformasi yang sesungguhnya tetap berpusat pada manusia (human transformation) dan harus berlandaskan tauhid.

Ia menekankan pentingnya nilai-nilai tasawuf seperti tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, muraqabah, dan muhasabah untuk tetap diintegrasikan dalam kehidupan manusia ketika menghadapi tekanan kinerja modern dan disrupsi AI.

Pandangan tersebut menempatkan perkembangan kecerdasan buatan bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai tantangan terhadap kualitas manusia dalam menjaga kesadaran spiritual, etika, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pakar Nasional dan Internasional Bahas Masa Depan Tasawuf

Seminar internasional tersebut turut menghadirkan sejumlah pakar nasional dan internasional dengan berbagai perspektif mengenai tasawuf, tarekat, pendidikan, dakwah, dan manajemen Islam di era digital.

Prof. Dr. Hj. Faridah Hj. Hassan, Presiden World Academy of Islamic Management (WAIM), membahas adopsi AI dalam kerangka Maqasid Al-Shariah.

Kemudian, Prof. Dr. H. Ajid Thohir, M.A., mengulas dinamika transformasi sufisme di abad ke-21. Prof. Dr. Imam Kanafi, M.Ag., membahas konsep “Digital Sufism for Multiple Transformation”.

Sementara itu, Adjunct Professor Datin Sri Dr. Hj. Norashfah Hanim Yaakop Yahaya Al-Haj bersama Dr. Asep Salahudin, M.Ag., memperkenalkan Ethical Manifestation Theory (EMT).

Paparan lainnya disampaikan Dr. Try Riduwan Santoso, M.A., yang mengkaji transformasi pendidikan dan dakwah sufisme di tengah perkembangan teknologi digital.

Berbagai perspektif tersebut memperlihatkan bahwa transformasi tarekat di era AI tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi sebagai media penyebaran ajaran. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana tarekat mempertahankan otoritas keilmuan, adab, kedalaman spiritual, dan nilai kemanusiaan ketika ruang digital semakin dominan dalam kehidupan masyarakat.

Seminar Internasional 40 Tahun IAILM Suryalaya pun menjadi momentum refleksi perjalanan empat dekade sekaligus peneguhan komitmen lembaga untuk menjaga warisan spiritual dan mengembangkannya agar tetap relevan dengan tantangan zaman.

Melalui semangat sebagai “guardian of spiritual inheritance”, IAILM Suryalaya berupaya mempertemukan kedalaman tradisi tarekat dengan akuntabilitas akademik dalam menghadapi perkembangan era siber dan kecerdasan buatan. (*)

Tinggalkan Balasan