Tiga Bulan Hadapi Kekeringan, Warga Tangsel Terima 727 Ribu Liter Air Bersih

Selama tiga bulan kekeringan, sebanyak 727.750 liter air bersih disalurkan kepada warga terdampak di 21 titik Tangsel.
Petugas menyalurkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga Tangerang Selatan yang terdampak kekeringan. Bantuan telah disalurkan selama sekitar tiga bulan dengan total 727.750 liter hingga akhir Agustus 2026. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News – Warga di sejumlah wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih menghadapi keterbatasan pasokan air bersih di tengah kemarau panjang yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat bantuan air bersih terus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Selama sekitar tiga bulan penanganan kekeringan, sebanyak 727.750 liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak di 21 titik wilayah Tangsel hingga 31 Agustus 2026.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Tangsel Ade Suprizal mengatakan, distribusi air bersih dilakukan sebagai respons terhadap permintaan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Hingga 31 Agustus 2026 sudah kita salurkan 727.750 liter air bersih kepada warga yang terdampak di 21 titik di wilayah Tangsel,” ujar Ade, Rabu (2/9/2026).

Menurut Ade, kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan bagi sejumlah warga. Permintaan bantuan terus masuk dari wilayah yang mengalami kesulitan air dan kemudian dikoordinasikan dengan instansi terkait.

Kondisi tersebut sebelumnya juga terlihat di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, yang menjadi salah satu wilayah dengan kebutuhan distribusi air bersih paling banyak. Pada penyaluran sebelumnya, warga di kawasan tersebut termasuk penerima bantuan akibat berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.

Ade menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan warga, dalam sehari biasanya dikerahkan satu hingga dua mobil tangki. Setiap armada memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter dan dapat melayani satu hingga dua lokasi, bergantung pada kebutuhan di masing-masing titik.

“Dalam sehari, biasanya dikerahkan satu hingga dua mobil tangki dengan kapasitas sekitar 4.000 liter setiap armada. Mobil tangki tersebut dapat melayani satu hingga dua lokasi, tergantung kebutuhan warga di masing-masing titik,” jelasnya.

Air yang tiba di lokasi kemudian ditampung dalam toren yang telah disiapkan warga. Namun, proses distribusi menghadapi tantangan ketika lokasi toren berada di dalam gang atau cukup jauh dari titik yang dapat dijangkau mobil tangki.

Untuk mengatasi kendala tersebut, petugas menggunakan pipa sambungan agar air dari mobil tangki dapat dialirkan menuju toren warga.

“Pipa sambungan menjadi pilihan untuk mengambil air dari mobil tangki ke toren warga,” ucap Ade.

Meski distribusi masih dilakukan, Ade menyebut kondisi kekeringan di Tangsel tahun ini relatif terkendali. Volume air yang telah disalurkan hingga akhir Agustus juga masih lebih rendah dibandingkan periode kekeringan sebelumnya.

Dari 21 titik penerima bantuan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, menjadi salah satu wilayah yang paling banyak membutuhkan pasokan air bersih.

Pemerintah mengimbau warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air agar tidak menunggu kondisi semakin parah. Masyarakat dapat menyampaikan permintaan bantuan melalui RT/RW dan kelurahan untuk selanjutnya diteruskan kepada BPBD maupun DCKTR.

Dengan penyaluran yang terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan, bantuan air bersih diharapkan dapat menjaga pemenuhan kebutuhan dasar warga selama kemarau masih berlangsung. (Idris Ibrahim)

Tinggalkan Balasan