Solo, Semartara.News — Setelah seperempat abad mengabdikan diri sebagai anggota DPR RI mewakili masyarakat Banten, Ananta Wahana memilih pulang ke kota kelahirannya, Solo. Kepulangannya bukan untuk menikmati masa purnatugas, melainkan menghidupkan kembali rumah leluhur yang telah berdiri lebih dari satu abad menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Dari rumah tua itu, ia ingin melanjutkan pengabdian dengan cara yang lebih dekat, lebih sederhana, dan menyentuh kehidupan warga.
Di sudut Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, berdiri rumah yang dibangun pada tahun 1900. Dinding-dindingnya menyimpan sejarah panjang sebuah keluarga, sementara halaman dan pendoponya kini kembali ramai oleh aktivitas warga. Rumah itu diberi nama Omah Leluhur, sebuah ruang yang dibuka untuk siapa saja yang ingin berkegiatan demi kepentingan masyarakat.
“Tempat ini kami namakan Omah Leluhur karena dulunya merupakan rumah kakek saya yang dibangun pada tahun 1900. Usianya sekarang sudah lebih dari 120 tahun,” ujar Ananta, Sabtu (11/7/2026).
Bagi Ananta, rumah warisan tidak cukup hanya dirawat sebagai peninggalan keluarga. Rumah itu harus kembali hidup dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, Omah Leluhur dipersiapkan sebagai ruang bersama untuk rapat warga, kegiatan PKK, Posyandu, forum lintas agama, pertemuan kepemudaan, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya tanpa dipungut biaya.
Keputusan pulang ke Solo juga berangkat dari kesadaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti ketika masa jabatan berakhir. Selama 25 tahun duduk di parlemen, ia merasa telah banyak berbuat untuk masyarakat Banten. Kini, ia ingin melakukan hal yang sama bagi kampung halaman yang telah membesarkannya.
“Selama saya di Banten, saya melakukan banyak hal untuk masyarakat di sana. Masa untuk kampung halaman sendiri saya tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Semangat itulah yang mendorongnya mengundang berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan Omah Leluhur. Saat peresmian, hadir tokoh lintas agama, tokoh nasionalis, tokoh masyarakat, perwakilan RT dan RW, serta sahabat-sahabatnya sejak masa sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, termasuk alumni GMNI dan PMKRI.
Bagi Ananta, rumah itu bukan milik keluarga semata. Omah Leluhur adalah rumah bersama yang terbuka bagi siapa saja selama digunakan untuk kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
“Silakan Omah Leluhur dipakai untuk kegiatan kepemudaan, PKK, Posyandu, atau kegiatan positif lainnya. Semua dipersilakan,” ujarnya.
Kompleks Omah Leluhur terdiri atas tiga bangunan yang masing-masing memiliki makna filosofis. Wisma Karangtumarintis menjadi tempat tinggal Ananta saat berada di Solo. Nama itu mengandung filosofi tentang proses membentuk manusia agar meninggalkan sifat-sifat buruk menuju pribadi yang lebih berakhlak, bijaksana, dan bermanfaat bagi sesama.
Bangunan kedua adalah Rumah Projohandoko, yang menggunakan nama sang kakek sebagai penghormatan kepada pemilik pertama rumah tersebut. Sementara bangunan ketiga, Joglo Singgih Basuki, merupakan pendopo berkapasitas sekitar 50 hingga 60 orang yang dinamai untuk mengenang ayahnya. Pendopo inilah yang diharapkan menjadi ruang dialog, musyawarah, sekaligus tempat tumbuhnya gagasan-gagasan bagi kemajuan masyarakat.
Di tengah kehidupan perkotaan yang kian individualistis, Ananta percaya ruang-ruang komunal masih memiliki peran penting untuk menjaga semangat gotong royong. Melalui Omah Leluhur, ia berharap rumah tua peninggalan keluarganya tidak sekadar menjadi saksi perjalanan masa lalu, tetapi juga menjadi tempat lahirnya kebersamaan, kepedulian, dan pemberdayaan masyarakat.
Barangkali, bagi Ananta Wahana, inilah makna sesungguhnya dari pulang kampung: bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan menghidupkan rumah agar kembali menjadi milik banyak orang. (*)








