Cirebon, Semartara.News — Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon serta Pusat Karir menggelar Seminar Hari Anak Nasional bertajuk “Merawat Masa Depan Anak di Era Kecerdasan Artifisial”. Kegiatan berlangsung di Gedung LP2M Lantai 3 pada Kamis (30/7/2026).
Seminar ini menjadi ruang edukasi bagi orang tua, pendidik, mahasiswa, dan masyarakat untuk memperkuat pemahaman mengenai perlindungan serta pola pengasuhan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Ketua PSGAD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Masriah, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital dan pola pengasuhan yang adaptif. Menurutnya, keluarga memegang peran sentral dalam memastikan teknologi dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan pengembangan potensi anak, bukan justru menjadi ancaman bagi tumbuh kembang mereka.
“Teknologi harus menjadi alat yang mendukung proses belajar anak. Karena itu, pendampingan orang tua menjadi kunci agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Seminar menghadirkan psikolog Naeila Rifatil Muna dan Dian Novitasari sebagai narasumber. Keduanya mengulas berbagai tantangan yang dihadapi anak di era digital, mulai dari penggunaan media sosial, pemanfaatan AI, hingga pentingnya membangun komunikasi yang sehat dan hangat dalam keluarga.
Dalam pemaparannya, Naeila menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang menawarkan banyak manfaat, namun juga menyimpan risiko apabila digunakan tanpa pengawasan. Karena itu, ia menegaskan bahwa kehadiran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam proses tumbuh kembang anak.
“Secanggih apa pun perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, sentuhan, perhatian, serta pendampingan dari orang tua tidak akan pernah tergantikan. Kunci perlindungan anak di era digital adalah kolaborasi, komunikasi, dan pengasuhan yang bijaksana,” katanya.
Sementara itu, Dian Novitasari menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah anak. Menurutnya, perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan seputar pola pengasuhan di era digital, pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, hingga strategi melindungi anak dari berbagai dampak negatif perkembangan teknologi.
Melalui seminar ini, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi digital sekaligus membangun budaya perlindungan anak. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, karakter, dan pengasuhan yang berpusat pada kepentingan terbaik bagi anak. (Hijar/Red)







