Pantau Hotspot dengan Drone, Kementerian LH Perkuat Penanganan Kebakaran TPA Jatiwaringin

KLH memanfaatkan drone untuk memantau hotspot dan memperkuat penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin bersama lintas instansi.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono menyusuri area kebakaran TPA Jatiwaringin, Kecamatan Rajeg, untuk meninjau langsung proses penanganan serta pemantauan titik panas (hotspot) yang dilakukan menggunakan teknologi drone. (Foto: Ist)

Tangerang, Semartara.News – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkuat upaya penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, dengan memanfaatkan teknologi pemantauan udara menggunakan drone untuk mendeteksi titik-titik panas (hotspot) yang masih aktif.

Langkah tersebut disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono saat meninjau lokasi kebakaran bersama Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Diaz, pemantauan melalui drone menjadi bagian penting dalam menentukan strategi pemadaman karena karakteristik kebakaran TPA berbeda dengan kebakaran pada umumnya.

“Saat ini kami sudah melakukan monitoring dan pemantauan menggunakan drone untuk menganalisis titik-titik api atau hotspot di TPA Jatiwaringin. Ke depan kami juga akan berkoordinasi dengan pihak bandara agar pemantauan udara dapat dilakukan secara berkala,” ujar Diaz.

Selain pemantauan udara, KLH juga mengerahkan Mobile Monitoring System untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat sekaligus menjadi dasar dalam pengambilan keputusan selama proses penanganan berlangsung.

Diaz menjelaskan, proses pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin menghadapi tantangan tersendiri karena memiliki karakteristik yang menyerupai kebakaran lahan gambut.

“Di permukaan mungkin terlihat sudah padam, tetapi di bagian bawah masih ada bara api yang sewaktu-waktu bisa kembali menyala. Selain itu, terdapat gas metana (CH4) yang berpotensi menimbulkan ledakan,” jelasnya.

Untuk mempercepat proses pemadaman, KLH turut menggandeng Kementerian Kehutanan yang mengerahkan 30 personel berpengalaman dalam menangani kebakaran lahan gambut.

“Kementerian Kehutanan juga telah membantu kami memadamkan api. Sebanyak 30 personel dari Jawa Barat dan Sulawesi diterjunkan karena memiliki keahlian menangani kebakaran gambut yang karakteristiknya serupa dengan kebakaran di TPA ini,” katanya.

Diaz menegaskan, keselamatan masyarakat dan petugas tetap menjadi prioritas utama selama proses penanganan berlangsung. Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Tangerang yang telah menyediakan pengungsian serta layanan kesehatan bagi warga terdampak.

Di sisi lain, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid memastikan pemerintah daerah terus mendukung seluruh upaya penanganan yang dilakukan pemerintah pusat. Pemkab Tangerang juga telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, menyiapkan dua lokasi pengungsian, serta memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada warga terdampak melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

Selain fokus pada penanganan kebakaran, Diaz meminta Pemkab Tangerang memastikan lahan seluas lima hektare yang telah dialokasikan untuk pembangunan fasilitas Waste to Energy (WTE) tetap terjaga dan tidak dialihfungsikan. Hal tersebut dinilai penting agar program nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo dapat direalisasikan sesuai rencana. (*)

Tinggalkan Balasan