Tasikmalaya, Semartara.News – Rektor Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya, Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag., mendorong transformasi IAILM menjadi universitas sebagai bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi tersebut bagi umat dan peradaban.
Aspirasi itu disampaikan Asep dalam puncak peringatan Milad ke-40 IAILM Suryalaya melalui Sidang Senat Terbuka dalam rangka Tasyakur Binikmat yang digelar di Gedung Sukriya Bakti, Kampus Latifah Mubarokiyah, Pondok Pesantren Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (5/9/2026).
Mengusung tema “Dari IAILM untuk Ummat: 40 Tahun Dedikasi, Inovasi, dan Peradaban”, kegiatan tersebut dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., serta Wakil Bupati Tasikmalaya H. Asep Sopari Al-Ayubi, S.P., M.I.P.
Turut hadir Pangersa Umi, Hj. Yoyoh Sopiah beserta keluarga besar Pondok Pesantren Suryalaya, Ketua Umum Yayasan Serba Bakti Drs. H. Denny H. Gandasapoetra, MM., jajaran senat, pimpinan lembaga di lingkungan pesantren, civitas akademika, serta ratusan tamu undangan.
Dalam pidato rektoralnya, Asep menyampaikan rasa syukur atas perjalanan IAILM yang telah memasuki usia 40 tahun. Perguruan tinggi tersebut didirikan Pangersa Abah Anom, Syekh Ahmad Sohibulwafa Tajul Arifin RA., pada 5 September 1986.
Menurut Asep, empat dekade perjalanan IAILM tidak terlepas dari dedikasi Yayasan Serba Bakti, para pendiri, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika dalam menjaga keberlangsungan pendidikan tinggi Islam di lingkungan Pondok Pesantren Suryalaya.
Memasuki usia ke-40, IAILM ingin melangkah ke tahap pengembangan berikutnya. Salah satu aspirasi yang disampaikan rektor adalah transformasi kelembagaan dari institut menjadi universitas.
Selain perubahan status kelembagaan, Asep menyampaikan sejumlah kebutuhan pengembangan kampus, di antaranya peningkatan fasilitas ruang kelas dan perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa.
Harapan tersebut disampaikan dalam momentum Sidang Senat Terbuka yang dihadiri Direktur Diktis Kemenag RI dan Wakil Bupati Tasikmalaya.
Asep menyebut berbagai harapan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar yang “ditawasulkan” pada momentum Milad ke-40 IAILM sekaligus Milad Pondok Pesantren Suryalaya ke-121.
Pondok Pesantren Suryalaya berdiri pada 5 September 1905. Dengan usia yang telah mencapai 121 tahun, pesantren tersebut memiliki perjalanan panjang dalam pengembangan pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
Empat Dekade Pengabdian
Peringatan Milad ke-40 IAILM tidak hanya diisi Sidang Senat Terbuka. Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah berlangsung selama delapan hari dengan berbagai agenda akademik, sosial, olahraga, dan pengembangan kapasitas.
Kegiatan tersebut antara lain reuni akbar, turnamen bola voli tingkat siswa menengah se-Tasikmalaya dan Ciamis, bedah buku bunga rampai Menjelajah Zaman Merawat Iman, turnamen bulu tangkis, workshop kewirausahaan, santunan anak yatim, serta bedah buku puisi karya penyair Malaysia.
IAILM juga menggelar seminar internasional “Digital Sufism: The Transformation of the Tareka in the Cyber Era” yang diikuti sekitar 500 peserta secara hibrid.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari refleksi empat dekade perjalanan IAILM sekaligus upaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Kemenag Soroti Kurikulum Cinta
Direktur Diktis Kemenag RI Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., dalam orasinya menekankan pentingnya implementasi “Kurikulum Cinta” yang digagas Menteri Agama RI.
Menurutnya, pendidikan harus dibangun tidak hanya melalui penguatan kemampuan intelektual, tetapi juga kecintaan atau mahabbah kepada Allah SWT.
Dari kecintaan kepada Sang Khalik tersebut, diharapkan tumbuh kecintaan kepada sesama manusia, alam, dan seluruh makhluk Allah SWT.
Sahiron menilai nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi pendidikan dan spiritualitas yang selama ini berkembang di Pondok Pesantren Suryalaya.
IAILM Diminta Tetap Berakar pada Pesantren
Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya KH. Akhmad Masykur Firdaus A.R., S.I.Kom., melalui sambutan yang dibacakan H. Sufi Halwani, SE., MM., menyampaikan apresiasi atas konsistensi IAILM selama empat dekade.
Ia berpesan agar momentum milad menjadi energi untuk terus berinovasi, memperkuat keikhlasan, serta meningkatkan ikhtiar dalam melahirkan ulama dan cendekiawan yang mumpuni.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Serba Bakti Drs. H. Denny H. Gandasapoetra, MM., menegaskan pentingnya mempertahankan karakter kepesantrenan di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, kecerdasan intelektual mahasiswa harus tetap berjalan beriringan dengan pembentukan akhlaqul karimah dan kedalaman spiritual.
Yayasan Serba Bakti berkomitmen mendorong penguatan sarana dan prasarana serta peningkatan tata kelola perguruan tinggi agar IAILM mampu berkembang dan berdaya saing secara global tanpa kehilangan jati diri kepesantrenan.
Menatap Babak Baru
Memasuki usia empat dekade, aspirasi transformasi menjadi universitas menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan IAILM Suryalaya.
Transformasi tersebut diharapkan tidak sekadar mengubah status kelembagaan, tetapi juga memperluas ruang pengembangan keilmuan dan kontribusi IAILM dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan dukungan yayasan, pesantren, pemerintah, Kementerian Agama, serta seluruh civitas akademika, IAILM diharapkan mampu memasuki babak baru tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan dan spiritualitas yang menjadi fondasinya.
Puncak Milad ke-40 ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan, kemajuan, dan keberlangsungan perjuangan pendidikan IAILM Suryalaya serta Pondok Pesantren Suryalaya.
Doa juga dipanjatkan agar keberkahan dan karomah para guru mursyid TQN Suryalaya, Syekh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad RA. dan Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin RA., senantiasa menyertai seluruh civitas akademika IAILM Suryalaya. (NS)







