Bedah Buku di Milad ke-40 IAILM Suryalaya Soroti Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

IAILM Suryalaya memperkuat tradisi literasi dan keilmuan melalui bedah buku 40 tahun serta refleksi spiritualitas di era digital.
Sejumlah pimpinan dan sivitas akademika IAILM Suryalaya menunjukkan buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman dalam sesi foto bersama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi literasi dan merawat nilai keilmuan serta spiritualitas Suryalaya. (Foto: Ist)

Tasikmalaya, Semartara.News — Tantangan pendidikan Islam di tengah perkembangan teknologi dan disrupsi digital menjadi sorotan dalam bedah buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman (Bunga Rampai 40 Tahun IAILM Suryalaya) yang digelar Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Pondok Pesantren Suryalaya, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-40 IAILM sekaligus forum untuk merefleksikan peran pendidikan tinggi Islam dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai dan spiritualitas.

Buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman merupakan karya kolaboratif yang menghimpun tulisan 30 dosen IAILM Suryalaya dan satu penulis dari Malaysia. Buku tersebut merekam gagasan dan refleksi akademik sivitas akademika dalam perjalanan IAILM selama empat dekade.

Selain merekam perjalanan institusi, buku ini menjadi bagian dari ikhtiar akademik dan spiritual untuk mendiseminasikan pemikiran, ajaran, serta keteladanan Pangersa Abah Anom, Syekh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin r.a., Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

Melalui forum bedah buku, sejumlah pemikiran dalam bunga rampai tersebut dikaji untuk melihat relevansinya dengan persoalan pendidikan dan kehidupan masyarakat kontemporer. Salah satu perhatian utama adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengesampingkan iman, akhlak, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai spiritual.

Kegiatan tersebut dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya, Rektor IAILM Dr. Asep Salahudin, MA., para wakil rektor, dekan, dosen, mahasiswa, serta sejumlah undangan, termasuk perwakilan sekolah mitra IAILM.

Rektor IAILM Dr. H. Asep Salahudin, MA., hadir sebagai keynote speaker. Sejumlah editor sekaligus perwakilan penulis turut menyampaikan pemikiran mengenai isi buku, yakni Rojaya, M.Ag., Dr. Wawan, M.SI., Dr. Syarief Hasani, M.Pd.I., H. Asriadi Rauf, M.Hum., dan H. Junjun Kurnia, MM.

Adapun pembahas dalam kegiatan tersebut adalah Sansan Ziaul Haq, Lc., M.Hum.

Dalam sambutan tertulisnya, Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya KH. Akhmad Masykur Firdaus, S.I.Kom., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan bedah sekaligus peluncuran buku tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial dalam rangka memperingati Milad ke-40 IAILM. Bedah buku juga menjadi bagian dari upaya membangun tradisi intelektual yang mampu mempertemukan warisan keilmuan dan spiritualitas Suryalaya dengan tantangan kehidupan kontemporer.

Buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pemikiran akademik sekaligus memperkuat nilai-nilai keimanan dalam menghadapi perubahan zaman.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi lembaga pendidikan Islam saat ini. Perkembangan teknologi, digitalisasi, serta dinamika sosial menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi dan melakukan inovasi. Namun, kemampuan beradaptasi tersebut perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga karakter, akhlak, tradisi keilmuan, dan nilai spiritual peserta didik.

Dalam konteks IAILM Suryalaya, tantangan tersebut dipertemukan dengan tradisi pendidikan pesantren dan spiritualitas yang berkembang di lingkungan Pondok Pesantren Suryalaya.

Ketua Panitia Milad ke-40 IAILM, Dr. Nana Suryana, S.Ag., mengatakan bedah buku merupakan bagian dari upaya memperkuat tradisi literasi, riset, dan pengembangan keilmuan di lingkungan IAILM dan Pondok Pesantren Suryalaya.

Menurutnya, penerbitan bunga rampai 40 tahun IAILM memiliki arti penting karena menghimpun gagasan dan refleksi akademik sivitas akademika dalam perjalanan institusi selama empat dekade.

Buku tersebut tidak hanya diposisikan sebagai dokumentasi perjalanan IAILM, tetapi juga sebagai ruang refleksi mengenai bagaimana pendidikan tinggi Islam dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar spiritual dan nilai-nilai yang menjadi fondasinya.

Bedah buku ini menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Milad ke-40 IAILM Pondok Pesantren Suryalaya. Rangkaian kegiatan lainnya meliputi Reuni Kabar IKA IAILM, Turnamen Bola Voli Tingkat SLTA, pertandingan badminton, tenis meja, seminar internasional, seminar motivasi, parade band tingkat SLTA, santunan anak yatim, serta sejumlah kegiatan lainnya.

Seluruh rangkaian Milad ke-40 IAILM dijadwalkan ditutup melalui Sidang Senat Terbuka pada 5 September 2026.

Empat dekade perjalanan IAILM menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus meneguhkan kembali arah pengembangan institusi. Melalui karya ilmiah, forum akademik, dan kegiatan kemasyarakatan, IAILM diharapkan semakin mampu memadukan keunggulan akademik, tradisi pesantren, dan spiritualitas Suryalaya dalam menjawab tantangan pendidikan Islam di era digital. (*)

Tinggalkan Balasan