Tekan Inflasi Musiman, Tangsel Soroti Fenomena Harga Psikologis di Pasar Tradisional

Tangsel soroti harga psikologis jelang Idul Adha 2026 yang memicu inflasi musiman meski stok pangan dalam kondisi aman.
Fluktuasi harga bawang merah, bawang putih, dan cabai kerap menjadi indikator fenomena harga psikologis di pasar tradisional menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Adha. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menyoroti fenomena “harga psikologis” yang kerap muncul menjelang hari besar keagamaan, termasuk Idul Adha 1447 Hijriah atau Juni 2026. Fenomena ini dinilai dapat memicu kenaikan harga di pasar tradisional meski secara faktual ketersediaan barang masih dalam kondisi aman.

Harga psikologis sendiri merujuk pada kondisi ketika kenaikan harga terjadi bukan karena kelangkaan barang, melainkan dipengaruhi oleh sentimen pasar, ekspektasi pedagang, serta meningkatnya permintaan masyarakat dalam waktu singkat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, menjelaskan bahwa tekanan harga seperti ini menjadi salah satu fokus pengawasan pemerintah daerah menjelang Idul Adha.

Menurutnya, tanpa pengendalian yang tepat, persepsi kelangkaan dapat berkembang di masyarakat dan berujung pada perilaku pembelian berlebihan yang justru memperburuk stabilitas harga di pasar.

“Yang sering terjadi bukan barangnya tidak ada, tetapi ada persepsi bahwa barang akan langka. Dari situ muncul kenaikan harga yang tidak sepenuhnya didorong oleh mekanisme pasokan,” ujar Asep dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).

Ia menegaskan, Pemkot Tangsel terus melakukan langkah antisipatif melalui pemantauan harga secara berkala serta koordinasi dengan para pelaku distribusi pangan di berbagai tingkatan, mulai dari distributor hingga pedagang pasar.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat transparansi informasi stok pangan agar masyarakat mendapatkan gambaran yang akurat terkait kondisi ketersediaan barang di lapangan.

Asep menilai, stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh faktor produksi dan distribusi, tetapi juga oleh perilaku pasar yang sangat sensitif terhadap isu-isu menjelang hari besar.

“Karena itu kami tidak hanya fokus pada barangnya, tetapi juga pada psikologi pasar. Edukasi kepada pedagang dan masyarakat menjadi bagian penting agar tidak terjadi spekulasi harga,” jelasnya.

Pemkot Tangsel berharap, dengan pengawasan yang ketat dan komunikasi yang terbuka kepada publik, potensi gejolak harga menjelang Idul Adha dapat ditekan sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang wajar dan stabil. (*)

Tinggalkan Balasan