Kota Tangsel, Semartara.News — Kehadiran teknologi digital membuat remaja semakin mudah terhubung dengan berbagai orang dan informasi melalui dunia maya. Namun, di tengah kemudahan tersebut, kedekatan dengan keluarga di rumah dinilai tetap menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan emosional dan kesehatan mental anak.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, menyoroti perubahan pola komunikasi yang terjadi di kalangan remaja. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat komunikasi antara anak dan keluarga semakin berjarak.
Asep melihat adanya kondisi ketika remaja justru lebih nyaman menyampaikan persoalan pribadi kepada orang lain di dunia maya dibandingkan membuka pembicaraan dengan keluarga.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga karena kedekatan secara fisik belum tentu diikuti dengan kedekatan secara emosional.
“Remaja hari ini lebih memilih meluapkan isi hati, mencari validasi instan, atau mencurahkan keluh kesah kepada sesama pengguna di dunia maya ketimbang membuka ruang dialog dengan anggota keluarga terdekat yang duduk tepat di sebelah mereka,” ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
Ketika Rumah Tak Lagi Jadi Ruang Bercerita
Asep menilai, keluarga semestinya menjadi tempat pertama bagi anak untuk berbagi cerita, menyampaikan persoalan, sekaligus mendapatkan pendampingan ketika menghadapi masalah.
Namun, derasnya interaksi di ruang digital dapat membuat sebagian remaja lebih banyak mencari respons dari lingkungan maya. Media sosial menyediakan ruang bagi seseorang untuk memperoleh perhatian dan tanggapan dengan cepat, tetapi respons tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau kondisi anak.
Jika komunikasi dengan keluarga semakin berkurang, persoalan yang dihadapi remaja berpotensi tidak diketahui sejak awal.
Asep mengatakan, kondisi tersebut dapat memperlebar jarak komunikasi antara anak dan orang tua. Remaja yang merasa tidak memiliki ruang yang cukup untuk bercerita di lingkungan terdekat bisa mencari tempat lain untuk mendapatkan dukungan emosional.
“Ini memperlebar jurang komunikasi antargenerasi dan memicu alienasi emosional,” tuturnya.
Karena itu, menurut Asep, komunikasi dalam keluarga perlu terus dibangun, terutama ketika anak mulai menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan lingkungan pergaulan maupun kehidupan digital.
Orang Tua Perlu Hadir dan Mendengarkan
Asep menekankan bahwa menjaga kesehatan mental remaja tidak cukup hanya dengan memberikan larangan atau membatasi penggunaan teknologi. Kehadiran orang tua sebagai pendamping juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Orang tua, kata dia, perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak memiliki tempat untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi.
Pendekatan tersebut juga penting agar orang tua dapat mengetahui perubahan perilaku maupun kondisi emosional anak sejak dini.
Di sisi lain, Asep mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga remaja tidak hanya berada di lingkungan keluarga. Sekolah dan pemerintah juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
“Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota harus dalam satu kesatuan yang utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini,” terang Asep.
Jangan Serahkan Persoalan Anak kepada Dunia Maya
Asep mengingatkan agar keluarga tidak membiarkan dunia maya menjadi satu-satunya tempat bagi remaja untuk mencari jawaban atas persoalan yang mereka hadapi.
Menurutnya, perkembangan teknologi tetap memiliki manfaat besar apabila digunakan secara tepat. Namun, ketika persoalan pribadi sepenuhnya dibawa ke lingkungan digital, anak dapat berhadapan dengan beragam respons yang belum tentu memberikan solusi maupun pengaruh positif.
Terlebih, remaja masih berada dalam tahap perkembangan sehingga membutuhkan pendampingan dari lingkungan terdekat dalam menghadapi berbagai perubahan.
“Ketika masalah personal diserahkan kepada algoritma atau lingkungan maya yang salah arah, dampaknya sering kali berujung pada kecemasan berlebih, stres, hingga perilaku menyimpang akibat salah pergaulan,” jelasnya.
Karena itu, Asep mengajak keluarga untuk tidak kehilangan peran di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Kehadiran gawai seharusnya tidak menggantikan komunikasi langsung yang dibutuhkan anak dalam membangun rasa aman dan kepercayaan.
Sinergi Keluarga, Sekolah, dan Pemerintah
Menurut Asep, upaya menjaga kesehatan mental remaja membutuhkan kerja bersama. Keluarga menjadi lingkungan terdekat bagi anak, sementara sekolah dan pemerintah dapat memperkuat pendampingan melalui edukasi serta berbagai program yang mendukung perkembangan generasi muda.
Ia menilai sinergi tersebut diperlukan agar remaja tidak menghadapi persoalan sendirian, terlebih ketika mereka berhadapan dengan tekanan yang muncul dari lingkungan sosial maupun dunia digital.
“Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota harus dalam satu kesatuan yang utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini,” tegasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Asep berharap remaja di Tangerang Selatan dapat tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya memberikan akses terhadap teknologi, tetapi juga menghadirkan ruang komunikasi yang sehat.
Di tengah semakin luasnya dunia digital, keluarga tetap diharapkan menjadi tempat bagi anak untuk kembali, bercerita, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan. (*)







