Prof. Hasani Raih Profesor Tafsir Maqasidi, Tekankan Etika Al-Qur’an di Tengah Perkembangan AI

Prof. Hasani menawarkan lima arah Tafsir Maqasidi, termasuk membangun etika AI dan menjawab tantangan masa depan kemanusiaan.
Prof. Dr. H. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A. (Foto: Dok. Pribadi)

Jakarta, Semartara.News — Prof. Dr. H. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A., resmi meraih gelar Guru Besar bidang Tafsir Maqaṣidi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Hasani menekankan pentingnya nilai dan tujuan Al-Qur’an sebagai landasan etika dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pengukuhan Guru Besar tersebut berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Ketua Bidang Dakwah Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) yang juga Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat itu menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pengembangan Tafsir Maqaṣidi dalam Konteks Ke-Indonesiaan: Konstruksi Epistemologi dan Prospek Keilmuan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.”

Dalam orasinya, Prof. Hasani menjelaskan bahwa Tafsir Maqaṣidi tidak hanya diarahkan untuk memahami makna literal ayat Al-Qur’an. Pendekatan tersebut juga berupaya menemukan tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan Al-Qur’an dalam kehidupan manusia.

Perspektif tersebut, menurut Prof. Hasani, menjadi semakin relevan ketika perkembangan teknologi menghadirkan persoalan baru yang tidak selalu ditemukan dalam konteks kehidupan sebelumnya.

Salah satunya adalah perkembangan AI yang membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, komunikasi, ekonomi, penelitian, hingga hubungan sosial.

Al-Qur’an sebagai Landasan Etika Teknologi

Prof. Hasani menilai perkembangan teknologi tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan teknis dan manfaat praktisnya. Perkembangan tersebut juga membutuhkan pertimbangan etis agar teknologi tetap digunakan untuk kepentingan manusia.

Persoalan privasi, keadilan, keamanan informasi, relasi sosial, hingga penggunaan AI membutuhkan kerangka nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi.

Dalam konteks tersebut, Tafsir Maqaṣidi dapat menawarkan perspektif yang menempatkan kemaslahatan, keadilan, martabat manusia, dan keberlanjutan sebagai pertimbangan penting.

“Yang dicari bukan hanya kesesuaian antara ayat dan temuan ilmiah, melainkan bagaimana nilai dan tujuan Al-Qur’an dapat menjadi sumber inspirasi etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi,” kata Prof. Hasani.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuat studi Al-Qur’an memiliki ruang dialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa harus kehilangan pijakan pada prinsip dasar ajaran Islam.

Lima Tawaran Tafsir Maqaṣidi

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Hasani menyampaikan lima tawaran pengembangan Tafsir Maqaṣidi.

Pertama, sebagai pengembangan metodologi tafsir.

Tafsir Maqaṣidi berupaya memperluas pembacaan Al-Qur’an dengan tidak berhenti pada makna literal ayat, tetapi juga menggali tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan.

Dengan demikian, tafsir dapat berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan pada teks dan prinsip dasar Al-Qur’an.

Kedua, sebagai paradigma riset interdisipliner.

Persoalan manusia yang semakin kompleks membutuhkan dialog antara studi Al-Qur’an dengan berbagai bidang ilmu, seperti sosial-humaniora, sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

Menurut Prof. Hasani, pendekatan ini dapat membuka ruang bagi penelitian yang lebih kontekstual dan kolaboratif.

Ketiga, sebagai respons terhadap persoalan sosial-keindonesiaan.

Keragaman agama, budaya, suku, tradisi, serta persoalan sosial di Indonesia membutuhkan pembacaan keagamaan yang mampu berdialog dengan realitas masyarakat.

Tafsir Maqaṣidi dapat digunakan untuk menggali relevansi nilai Al-Qur’an terhadap isu keadilan sosial, toleransi, kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, kemiskinan, dan kehidupan kebangsaan.

Keempat, sebagai penghubung studi Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Perkembangan sains dan teknologi menghadirkan berbagai pertanyaan baru. Tafsir Maqaṣidi, kata Prof. Hasani, dapat menjadi salah satu jembatan antara khazanah keislaman dan perkembangan ilmu modern.

Orientasinya bukan sekadar mencari kesesuaian antara ayat dengan temuan ilmiah, melainkan menggali nilai-nilai Al-Qur’an yang dapat menjadi inspirasi etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Kelima, sebagai basis etika peradaban digital dan masa depan kemanusiaan.

Perkembangan AI menjadi bagian dari perubahan besar peradaban digital. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai peluang. Di sisi lain, muncul persoalan baru terkait privasi, keadilan, keamanan, informasi, relasi sosial, dan martabat manusia.

Tafsir Maqaṣidi dapat ditempatkan sebagai salah satu perspektif untuk membangun kerangka etika agar perkembangan teknologi tetap diarahkan pada kemaslahatan manusia.

Tafsir Maqaṣidi dan Masa Depan PTKI

Prof. Hasani juga mendorong agar Tafsir Maqaṣidi terus dikembangkan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Menurutnya, pendekatan tersebut memiliki peluang untuk mempertemukan studi Al-Qur’an dengan berbagai disiplin ilmu sekaligus menjawab persoalan masyarakat yang terus berkembang.

Tafsir Maqaṣidi dapat menjadi penghubung antara teks dan konteks, tradisi keilmuan Islam dengan ilmu modern, serta nilai-nilai Al-Qur’an dengan tantangan kehidupan masa kini dan masa depan.

“Melalui pengembangan Tafsir Maqaṣidi, PTKI diharapkan dapat semakin berperan dalam melahirkan tradisi akademik yang responsif terhadap perubahan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an dan kemaslahatan manusia,” ujarnya.

Prof. Hasani merupakan alumnus S3 Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta dengan konsentrasi Islamic Studies. Ia juga dikenal sebagai pengasuh kajian tafsir Serambi Islami yang tayang di TVRI setiap Jumat pagi serta aktif tampil dalam sejumlah program televisi nasional.

Selain aktivitas akademiknya, Prof. Hasani dipercaya sebagai Ketua Bidang Dakwah PB Mathla’ul Anwar dan Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat.

UIN Jakarta Kukuhkan Guru Besar dari Berbagai Disiplin

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., mengatakan pengukuhan Guru Besar bukan semata-mata pencapaian jenjang akademik tertinggi, tetapi juga membawa amanah keilmuan yang lebih besar.

Menurut Asep, Guru Besar tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga membangun tradisi berpikir kritis, mengembangkan keilmuan secara berkelanjutan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Selain Prof. Hasani, sejumlah Guru Besar dari berbagai bidang keilmuan turut dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka tersebut.

Mereka antara lain Prof. Dr. Raswan, M.Pd.I. dalam bidang Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab; Prof. Dr. Idris Thaha, M.Si. dalam kajian Agama dan Politik; serta Prof. Dr. Lilik Nida Husna HR., M.Pd., M.A. dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris.

Pada bidang kesehatan dan sains, terdapat Prof. Dr. Yuli Amran, MKM dalam bidang Biostatistik Kesehatan Masyarakat.

Sementara dalam bidang politik, hukum, dan tata kelola kehidupan berbangsa, hadir Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si. dalam bidang Ideologi Politik; Prof. Dr. Jaenal Aripin, M.Ag. dalam bidang Kelembagaan Hukum Islam; Prof. Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H. dalam bidang Ilmu Hukum Ketatanegaraan; serta Prof. Dr. Alfitra, S.H., M.Hum. dalam bidang Hukum Pidana.

Khazanah keilmuan Islam juga diperkuat melalui kepakaran Prof. Dr. Zubair, M.Ag. dalam Linguistik Hukum Islam; Prof. Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A. dalam Metode Tafsir; Prof. Dr. Sapiudin, M.Ag. dalam Pembelajaran Fiqih; serta Prof. Dr. Suwendi, M.Ag. dalam Pemikiran Pendidikan Islam.

Keragaman tersebut memperlihatkan pengembangan keilmuan di UIN Jakarta mencakup rumpun ilmu keislaman, sosial-humaniora, pendidikan, hukum, kesehatan, bahasa, hingga sains.

“Integrasi antara ilmu keislaman, sosial-humaniora, pendidikan, hukum, kesehatan, bahasa, dan sains merupakan bagian penting dari ikhtiar UIN Jakarta dalam menjawab kompleksitas persoalan masyarakat dan tantangan peradaban,” kata Prof. Hasani. (Aat SS)

Tinggalkan Balasan