Reuni Dian Sastrowardoyo dengan Nurman Hakim dan Nan Achnas Hadirkan Film Penuh Makna

Film Yang Datang dan Yang Pergi mempertemukan Dian Sastrowardoyo, Nurman Hakim, dan Nan Achnas dalam kisah cinta dan rahasia keluarga.
Sejumlah pemain dan sutradara film Yang Datang dan Yang Pergi berfoto bersama saat konferensi pers peluncuran poster dan trailer resmi di Jakarta. (Foto: Dok. Triximages/Dash Pictures)

Jakarta, Semartara.News – Pertemuan kembali Dian Sastrowardoyo dengan sutradara Nurman Hakim dan Nan Achnas menghadirkan sebuah karya layar lebar yang tidak sekadar menawarkan kisah romantis. Melalui film terbaru berjudul Yang Datang dan Yang Pergi, ketiganya kembali berkolaborasi dalam cerita tentang cinta, rahasia keluarga, perjalanan waktu, serta pergulatan seorang perempuan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

Film produksi Triximages dan Dash Pictures ini mempertemukan Dian dengan Roy Sungkono. Dian memerankan Sinta, sementara Roy berperan sebagai Banawan, teman masa kecil yang kembali hadir dalam kehidupan Sinta ketika keduanya telah dewasa.

Cerita berpusat pada sebuah guest house tua peninggalan keluarga Sinta. Bangunan tersebut menyimpan berbagai kenangan, rahasia, dan cerita tentang orang-orang yang datang dan pergi. Di tempat itulah masa lalu dan masa kini saling bertemu, menghadirkan berbagai peristiwa yang turut memengaruhi kehidupan Sinta dan keluarganya.

Official trailer film ini memperlihatkan hubungan Sinta dan Banawan yang kembali terjalin. Namun, kehadiran sejumlah laki-laki lain di guest house tersebut membuat perjalanan hidup Sinta semakin kompleks. Harapan, cinta, hingga pengkhianatan menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapinya.

Menariknya, cerita film ini berlangsung dalam tiga periode waktu berbeda, yakni 1965, 1999, dan 2026. Rentang waktu tersebut menjadi bagian penting dalam mengungkap sejarah keluarga Sinta dan bagaimana warisan masa lalu dapat memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

Reuni yang Menghadirkan Perspektif Baru

Bagi Dian Sastrowardoyo, keterlibatannya dalam Yang Datang dan Yang Pergi menjadi kesempatan untuk kembali bekerja sama dengan dua sineas yang pernah mewarnai perjalanan kariernya di industri perfilman Indonesia.

Dian sebelumnya berkolaborasi dengan Nurman Hakim melalui film 3 Doa 3 Cinta (2008). Sementara bersama Nan Achnas, Dian pernah terlibat dalam film Pasir Berbisik (2001), salah satu karya ikonik perfilman Indonesia.

Reuni tersebut mempertemukan kembali pengalaman dan kreativitas ketiganya dalam sebuah cerita yang mengangkat persoalan kehidupan perempuan, hubungan antargenerasi, serta pilihan-pilihan yang menentukan masa depan.

Nurman Hakim, yang bertindak sebagai penulis, produser, sekaligus sutradara bersama Nan Achnas, mengatakan bahwa film ini mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang.

Menurutnya, setiap generasi memang mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, warisan tersebut tidak harus membuat seseorang mengulang jalan hidup yang sama.

“Melalui film Yang Datang dan Yang Pergi, kami ingin mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk kehidupan seseorang, sekaligus bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan tersebut untuk menentukan masa depannya. Setiap generasi tentunya mewarisi cerita dari generasi sebelumnya. Namun, tidak semua cerita harus berakhir dengan cara yang sama,” ujar Nurman.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Nan Achnas. Ia menilai perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan arah kehidupannya, termasuk memilih hal-hal dari masa lalu yang ingin dipertahankan maupun ditinggalkan.

“Setiap generasi memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang ingin ditinggalkan. Bagi perempuan, pilihan tersebut juga berkaitan dengan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, di film ini, Dian sangat kuat memerankan Sinta yang sedang menceritakan fase-fase kehidupannya,” ujar Nan.

Dian Sastrowardoyo dan Perjalanan Sinta Menemukan Pilihan Hidup

Di balik karakter Sinta, Dian melihat persoalan yang dekat dengan kehidupan banyak perempuan. Menurutnya, seseorang tidak semestinya hanya menjadi penerima warisan masa lalu, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menentukan kehidupan yang ingin dijalani.

“Di film ini, karakter Sinta diperlihatkan sebagai perempuan yang bukan hanya sebagai penerima warisan masa lalu, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pilihan terhadap masa depannya, dan menurut saya itu juga sangat merefleksikan apa yang dialami oleh banyak perempuan hingga saat ini,” kata Dian.

Sementara itu, bagi Roy Sungkono, film ini menghadirkan pengalaman baru karena untuk pertama kalinya ia dipasangkan dengan Dian dalam sebuah kisah romantis.

Melalui karakter Banawan, Roy memerankan sosok dari masa kecil Sinta yang kembali hadir dalam kehidupan perempuan tersebut saat dewasa. Hubungan keduanya menjadi salah satu bagian penting dari cerita yang mempertemukan kenangan masa lalu dengan realitas kehidupan saat ini.

“Banawan adalah orang lama dari masa lalu Sinta, yang kembali datang di kehidupannya saat dewasa. Guest house tua keluarga Sinta di film ini akan menjadi ruang tempat masa lalu dan masa kini bertemu, yang memperlihatkan bagaimana sejarah keluarga bisa mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya,” ujar Roy.

Selain Dian dan Roy, film ini juga dibintangi Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah sebelumnya berkolaborasi dalam film Bid’ah Cinta (2017).

Melalui perpaduan drama romantis, rahasia keluarga, dan perjalanan lintas generasi, Yang Datang dan Yang Pergi menawarkan refleksi tentang hubungan manusia dengan masa lalunya. Cerita ini sekaligus mengingatkan bahwa apa yang diwariskan generasi sebelumnya tidak selalu harus menjadi batas bagi generasi berikutnya dalam menentukan masa depan.

Film garapan Nurman Hakim dan Nan Achnas ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026. (Ril)

Tinggalkan Balasan