Identitas Surakman Dipastikan Lewat Pemeriksaan DNA, Korban KM Arupadhatu 1 Ditemukan di Enggano

Jenazah Surakman, korban KM Arupadhatu 1, teridentifikasi lewat pemeriksaan DNA setelah ditemukan di perairan Enggano.
Suasana konferensi pers terkait perkembangan Operasi SAR KM Arupadhatu 1 di Mapolda Banten, yang dihadiri Gubernur Banten Andra Soni, Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki, dan Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad. (Foto: Ist)

Bengkulu, Semartara.News — Identitas jenazah laki-laki yang ditemukan di perairan sekitar Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, akhirnya terungkap. Setelah menjalani proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), jenazah tersebut dipastikan merupakan Surakman (60), salah satu Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu 1.

Jenazah Surakman ditemukan di perairan sekitar Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, pada Sabtu (12/9/2026). Saat ditemukan, identitas korban belum diketahui sehingga diperlukan proses pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa korban tersebut.

Informasi penemuan jenazah kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi antara Polda Bengkulu dan Polda Banten. Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kecocokan waktu dan kondisi dengan insiden hilang kontak KM Arupadhatu 1 yang sebelumnya dilaporkan membawa delapan orang.

DVI Cocokkan Data Korban

Untuk memastikan identitas jenazah, tim melakukan pemeriksaan dengan membandingkan data postmortem korban dengan data antemortem yang diperoleh dari keluarga delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1.

Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki menjelaskan, proses identifikasi dilakukan secara ilmiah setelah pihaknya menerima informasi mengenai penemuan jenazah laki-laki tanpa identitas di Pulau Enggano.

Tim Biddokkes Polda Banten kemudian menyerahkan data antemortem kepada Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu untuk mendukung proses identifikasi.

“Dari delapan keluarga korban, pada satu jenazah telah dilakukan pemeriksaan oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri melalui Kepala Bidang Laboratorium DNA,” jelas Hengki.

Pemeriksaan tidak hanya mengandalkan satu parameter. Tim menggunakan data primer yang meliputi sidik jari, pemeriksaan gigi, serta DNA untuk memperoleh kepastian identitas korban.

Hasil DNA Pastikan Identitas Surakman

Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, jenazah yang ditemukan di Enggano akhirnya teridentifikasi secara genetik sebagai Surakman.

Hasil pemeriksaan DNA juga mengonfirmasi hubungan biologis antara Surakman dengan putra kandungnya, Yayat. Hasil tersebut menjadi bagian dari dasar ilmiah dalam memastikan identitas korban.

Kepastian tersebut sekaligus memberikan jawaban mengenai identitas jenazah yang sebelumnya ditemukan tanpa identitas di wilayah perairan Enggano.

Surakman merupakan salah satu dari delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1. Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga kru ketika bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang.

KM Arupadhatu 1 kemudian dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026 saat membawa rombongan untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Jenazah Akan Dipulangkan ke Banten

Setelah identitas dipastikan, proses pemulangan jenazah Surakman ke Banten mulai dipersiapkan. Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mengatakan jenazah dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026).

“Jenazah akan kami terima langsung bersama Bapak Gubernur Banten dan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten,” terangnya.

Sementara itu, tujuh korban lainnya yang berada dalam KM Arupadhatu 1 masih belum ditemukan. Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, meskipun operasi pencarian secara resmi telah ditutup setelah berlangsung selama 10 hari, pemantauan tetap dilakukan.

Basarnas Banten masih berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir. Pemantauan juga melibatkan para nelayan di sekitar wilayah yang menjadi area pencarian, termasuk perairan Lebak.

“Hingga saat ini, kami terus berkoordinasi dengan Kantor SAR (Kansar) Bengkulu dan Lampung untuk memantau wilayah pesisir serta melibatkan para nelayan sekitar. Meski hasilnya sementara masih nihil, termasuk pemantauan di wilayah perairan Lebak, upaya koordinasi ini tidak dihentikan,” pungkas Al Amrad.

Teridentifikasinya Surakman melalui pemeriksaan sidik jari, gigi, dan DNA menjadi perkembangan penting dalam penanganan insiden KM Arupadhatu 1. Setelah kepastian identitas diperoleh, proses selanjutnya diarahkan pada pemulangan jenazah kepada keluarga, sementara pemantauan terhadap tujuh korban lainnya masih berlanjut. (*)

Tinggalkan Balasan