Dari Game hingga Judi Online, Tangsel Dorong Anak Lebih Bijak Menggunakan Teknologi

Tangsel mendorong anak lebih bijak menggunakan teknologi setelah Disdikbud menyoroti risiko paparan judi online dari game digital.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie bersama jajaran Disdikbud, pihak terkait, dan perwakilan anak dalam sesi foto bersama. Edukasi ini menyoroti pentingnya pendampingan agar anak mampu menggunakan game dan teknologi digital secara bijak serta terhindar dari paparan judi online. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News – Perkembangan permainan digital di kalangan anak menjadi perhatian Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di balik aktivitas bermain yang semakin mudah diakses, terdapat risiko paparan terhadap pola perjudian online yang perlu dikenali sejak dini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tangsel, Deden Deni mengatakan, anak-anak perlu mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak, termasuk ketika mengakses permainan digital.

Menurutnya, paparan judi online tidak selalu hadir dalam bentuk permainan judi secara langsung. Anak dapat mengenali sejumlah pola yang menyerupai aktivitas perjudian melalui permainan yang menggunakan sistem pembayaran, pembelian kuota, maupun pemberian poin.

“Main game yang kadang-kadang berbayar, beli kuota terus juga dapat poin, poinnya bisa dijual. Itu kan secara tidak langsung mereka sudah diracuni dengan gejala-gejalanya judi online,” ujar Deden saat ditemui dalam kegiatan edukasi di SDN Cirendeu 3, Kota Tangsel, Rabu (12/8/2026).

Deden menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, mengingat anak-anak saat ini semakin dekat dengan perangkat digital. Tanpa pendampingan yang memadai, mereka dapat mengakses berbagai permainan dan konten tanpa sepenuhnya memahami risiko yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, menurut Deden, edukasi literasi digital perlu diberikan sejak usia sekolah. Anak tidak hanya diarahkan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana hiburan, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengenali aktivitas digital yang berpotensi merugikan.

Pendampingan Anak Tak Cukup dari Sekolah

Upaya membangun kebiasaan digital yang sehat juga membutuhkan keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar. Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, pendidikan mengenai penggunaan teknologi harus dilakukan secara bersama-sama agar pesan yang diterima anak tidak berhenti di lingkungan sekolah.

Menurut Benyamin, terdapat tiga lingkungan yang memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak, yakni sekolah, rumah, dan lingkungan sosial.

“Tadi sepertiga bagian di sekolah, sepertiga bagian di rumah, sepertiga bagian lainnya di lingkungan. Ini yang harus kita seimbangkan,” kata Benyamin.

Ia menilai kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya diperlukan untuk menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Benyamin juga menekankan pentingnya memberikan pendidikan dan pelatihan kepada anak agar mereka mampu menggunakan teknologi digital secara bijak di tengah era disrupsi teknologi.

“Intinya adalah memberikan pendidikan dan pelatihan, pengajaran kepada anak-anak tentang bijak menggunakan digital. Ini menjadi penting karena mereka berada di era disrupsi teknologi saat ini,” ujarnya.

Buku Jadi Alternatif Aktivitas Anak

Selain persoalan penggunaan teknologi, kegiatan edukasi yang digelar bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tersebut juga mendorong peningkatan minat baca siswa.

DWP PPATK memberikan sekitar 1.600 buku kepada siswa sebagai salah satu upaya menyediakan alternatif kegiatan positif bagi anak di tengah tingginya ketertarikan terhadap permainan digital.

Deden berharap keberadaan buku tersebut dapat membantu mengalihkan sebagian perhatian anak dari permainan digital menuju aktivitas membaca yang lebih edukatif.

“Ini mencoba menaikkan minat baca siswa-siswi. Di tengah anak-anak lebih fokus ke game yang kita tidak bisa mengontrol isinya, aksesnya, maka mengajak anak-anak supaya kembali ke buku-buku,” pungkasnya.

Menurutnya, penguatan literasi perlu berjalan beriringan dengan literasi digital. Dengan begitu, anak diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memilih dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. (*)

Tinggalkan Balasan