Opini  

Peran Tokoh Agama Dalam Membina Moderasi Beragama

Tokoh agama berperan penting membangun moderasi beragama, menjaga toleransi, dan memperkuat kerukunan masyarakat di era digital.
Daud Dzulfadhli. (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.News — Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya dinamika kehidupan masyarakat, tantangan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama semakin besar. Media sosial, misalnya, telah membuka ruang yang sangat luas bagi siapa pun untuk menyampaikan pandangan keagamaannya. Di satu sisi, hal ini memberikan peluang besar untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, di sisi lain, ruang digital juga menjadi tempat berkembangnya ujaran kebencian, fanatisme sempit, hingga pemahaman keagamaan yang ekstrem. Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan bersama.

Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menempatkan seseorang pada jalan tengah, yakni tidak berlebihan maupun mengabaikan ajaran agamanya. Seseorang tetap meyakini kebenaran agama yang dianutnya secara utuh, tetapi pada saat yang sama mampu menghormati hak orang lain untuk memeluk keyakinannya. Moderasi tidak berarti mencampuradukkan ajaran agama atau mengurangi komitmen terhadap akidah, melainkan mengedepankan sikap adil, bijaksana, dan menghargai keberagaman sebagai realitas kehidupan bermasyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, moderasi beragama juga menjadi fondasi penting bagi terciptanya persatuan. Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Karena itu, menjaga harmoni sosial merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Nilai-nilai agama yang mengajarkan keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap warga negara memperoleh hak dan kewajiban yang sama tanpa memandang latar belakang agama maupun identitas lainnya.

Di sinilah tokoh agama memiliki posisi yang sangat strategis. Bagi masyarakat, tokoh agama bukan hanya penyampai ajaran agama, tetapi juga figur yang menjadi rujukan moral dan teladan dalam bersikap. Ucapan, tindakan, bahkan cara mereka menyikapi perbedaan sering kali menjadi contoh yang diikuti oleh umat. Oleh sebab itu, keberadaan tokoh agama sangat menentukan arah kehidupan sosial dan keberagamaan masyarakat.

Peran tersebut menjadi semakin penting di era digital. Saat ini, otoritas keagamaan tidak lagi hanya berada di mimbar masjid, majelis taklim, atau ruang-ruang pendidikan formal. Media sosial telah melahirkan banyak figur yang menyampaikan ceramah keagamaan tanpa memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya lebih percaya kepada konten yang viral daripada kepada ulama yang memiliki kompetensi. Akibatnya, berbagai narasi yang provokatif dan intoleran mudah tersebar dan memengaruhi cara pandang masyarakat.

Kondisi ini menuntut tokoh agama untuk lebih aktif hadir, baik di ruang nyata maupun di ruang digital. Dakwah yang menyejukkan, argumentatif, dan berbasis ilmu harus terus diperkuat agar mampu menjadi penyeimbang di tengah maraknya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh agama tidak cukup hanya menjadi penceramah, tetapi juga harus berperan sebagai mediator ketika terjadi gesekan antarkelompok, penengah dalam menyelesaikan konflik, serta penggerak terciptanya dialog yang sehat di tengah masyarakat.

Upaya membina moderasi beragama dapat dilakukan melalui berbagai langkah yang konkret. Tokoh agama perlu memberikan keteladanan dalam bersikap toleran (tasamuh), adil (i’tidal), mengambil jalan tengah (tawassuth), serta menjaga keseimbangan antara kepentingan agama dan kehidupan sosial (tawazun). Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui ceramah, pengajian, pendidikan agama, maupun kegiatan sosial yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, penguatan nilai kebangsaan dan semangat persaudaraan juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah keagamaan.

Lebih jauh lagi, moderasi beragama tidak akan berhasil jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga keagamaan. Keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi antara tokoh agama, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat secara keseluruhan. Ketika semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk mengedepankan sikap saling menghormati dan menjunjung nilai kemanusiaan, maka kehidupan yang damai dan harmonis bukan sekadar cita-cita, melainkan dapat menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, tokoh agama memiliki amanah besar sebagai penjaga nilai-nilai perdamaian di tengah masyarakat. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, mereka dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyebarkan pesan-pesan yang menyejukkan. Moderasi beragama bukanlah bentuk kompromi terhadap keyakinan, melainkan cara terbaik untuk mengamalkan ajaran agama secara arif, sehingga agama benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Penulis: Daud Dzulfadhli
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)

Tinggalkan Balasan