Opini, Semartara.News — Peradaban modern dibangun di atas keyakinan bahwa manusia adalah pusat kesadaran dan sumber utama pengetahuan. Fondasi cara pandang ini menemukan bentuk paling kuat dalam pemikiran René Descartes melalui diktumnya yang terkenal:
“Aku berpikir maka aku ada” (Cogito Ergo Sum).
Melalui cogito, Descartes menempatkan kesadaran manusia sebagai titik pijak kepastian. Rasio menjadi instrumen utama untuk memahami realitas. Dunia dipandang sebagai objek yang dapat diamati, diukur, dijelaskan, dan dikendalikan melalui akal.
Dari paradigma inilah lahir manusia modern:
manusia rasional yang percaya bahwa kemajuan pengetahuan dan teknologi mampu membawa manusia menuju penguasaan atas realitas.
Namun modernitas tidak berhenti pada rasionalitas semata. Perkembangan teknologi digital, big data, media sosial, dan kecerdasan buatan perlahan mendorong manusia memasuki fase baru peradaban: Society 5.0.
Pada fase ini, manusia tidak lagi hidup hanya dalam ruang sosial dan material, tetapi juga dalam ekosistem algoritmik yang terus bekerja membaca, memprediksi, dan memengaruhi perilakunya.
Jika manusia modern hidup dalam paradigma rasionalitas, manusia kontemporer mulai hidup dalam logika algoritma.
Apa yang dilihat ditentukan algoritma.
Apa yang disukai dipelajari algoritma.
Apa yang dipercayai diarahkan algoritma.
Akibatnya, kesadaran manusia perlahan mengalami transformasi. Eksistensi tidak lagi bertumpu pada kedalaman refleksi diri, tetapi pada visibilitas digital dan keterhubungan jaringan.
“Aku terlihat, maka aku ada.”
“Aku viral, maka aku relevan.”
Di titik ini lahirlah apa yang dapat disebut sebagai manusia algoritmatik.
Manusia algoritmatik adalah manusia yang kehidupannya semakin dibentuk oleh sistem digital, pola rekomendasi, dan arus informasi otomatis. Ia hidup dalam percepatan, stimulasi tanpa henti, dan banjir data yang terus memengaruhi cara berpikir serta cara memahami diri.

Ironisnya, semakin manusia merasa bebas di ruang digital, semakin perilakunya dapat diprediksi.
Perhatian menjadi komoditas.
Emosi menjadi data.
Kesadaran menjadi target algoritma.
Manusia modern dulu takut dikendalikan kekuasaan politik secara langsung. Manusia algoritmatik sering tidak sadar bahwa dirinya diarahkan oleh sistem rekomendasi yang bekerja secara halus dan terus-menerus.
Akibatnya, lahirlah krisis kesadaran.
Manusia menjadi sangat terhubung, tetapi semakin asing dengan dirinya sendiri. Ia mampu mengakses jutaan informasi, tetapi kesulitan menemukan makna. Ia terus bereaksi terhadap dunia luar, tetapi kehilangan ruang untuk mendengar kedalaman batinnya sendiri.
Dalam konteks ini, Society 5.0 tidak hanya melahirkan kemajuan teknologi, tetapi juga problem ontologis baru: manusia perlahan direduksi menjadi pola perilaku yang dapat dibaca dan diprediksi.
Di sinilah kritik filosofis dan spiritual menjadi relevan.
Martin Heidegger sebelumnya telah mengingatkan bahaya ketika manusia hanya memandang realitas secara instrumental. Dunia akhirnya dipahami semata sebagai sesuatu yang dapat digunakan dan dioptimalkan. Akibatnya, manusia kehilangan relasi eksistensial dengan keberadaan itu sendiri.
Sementara tasawuf menawarkan kritik yang lebih mendalam.
Jika modernitas dimulai dari “aku berpikir”, tasawuf memulai manusia dari kesadaran bahwa:
“aku diadakan.”
Manusia bukan pusat mutlak realitas, melainkan makhluk yang keberadaannya terus ditopang oleh Tuhan. Karena itu, manusia tidak boleh kehilangan kesadaran ruhaniahnya di tengah perkembangan teknologi.
Tasawuf mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar data, bukan sekadar perilaku digital, dan bukan sekadar mesin rasional.
Manusia adalah makhluk ruhani yang membutuhkan makna, keheningan, dan kesadaran batin.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, tasawuf mengajarkan tafakur.
Di tengah banjir informasi, tasawuf mengajarkan kejernihan hati.
Di tengah budaya validasi digital, tasawuf mengajarkan keikhlasan dan pengenalan diri.
Karena krisis terbesar di era Society 5.0 bukan sekadar perkembangan AI, melainkan hilangnya orientasi kesadaran manusia.
Teknologi dapat membantu manusia hidup lebih mudah, tetapi tidak otomatis membuat manusia mengenal dirinya sendiri.
Dan mungkin, tantangan terbesar manusia masa depan bukan hanya menciptakan kecerdasan buatan yang semakin canggih, melainkan menjaga agar manusia tetap sadar bahwa dirinya lebih dari sekadar bagian dari sistem algoritma.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)







