Opini  

Semua Akan Kembali kepada Allah: Krisis Keterikatan dalam Kehidupan Modern

Refleksi tentang krisis keterikatan manusia modern dan makna “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” dalam kehidupan.
Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.NewsInnā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn

Dalam tradisi Islam, kalimat “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” sering diucapkan ketika seseorang mengalami musibah atau kehilangan. Namun dalam praktik sosial, kalimat tersebut kerap dipahami secara sempit sebagai ungkapan duka semata. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kalimat itu mengandung pandangan filosofis dan spiritual yang sangat mendasar tentang posisi manusia di hadapan kehidupan.

Kalimat tersebut menegaskan dua hal penting sekaligus: manusia berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain, manusia bukan pemilik mutlak atas apa pun yang ada dalam hidupnya. Seluruh yang dimiliki—harta, jabatan, relasi, bahkan tubuh dan kehidupannya sendiri—pada hakikatnya hanyalah titipan yang bersifat sementara.

Di tengah kehidupan modern, kesadaran semacam ini justru semakin melemah. Masyarakat kontemporer cenderung membangun cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat kendali atas hidupnya sendiri. Kemajuan teknologi, budaya produktivitas, dan logika materialisme perlahan membentuk keyakinan bahwa keberhasilan sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan individu. Akibatnya, manusia modern semakin terbiasa merasa memiliki dan menguasai.

Persoalannya, ketika rasa memiliki tumbuh terlalu kuat, manusia juga menjadi semakin rentan terhadap kehilangan. Semakin besar keterikatan terhadap dunia, semakin besar pula kecemasan yang muncul ketika dunia berubah. Tidak mengherankan jika kehidupan modern dipenuhi dengan kegelisahan psikologis: ketakutan kehilangan pekerjaan, kehilangan status sosial, kehilangan pengaruh, hingga ketakutan menghadapi usia tua.

Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis manusia modern bukan semata persoalan ekonomi atau teknologi, melainkan juga krisis spiritual. Manusia mengalami keterasingan dari kesadaran bahwa hidup memiliki batas dan bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.

Padahal, realitas kehidupan terus memperlihatkan bahwa manusia sesungguhnya berada dalam posisi yang sangat terbatas. Satu musibah dapat menghentikan rencana besar yang dibangun bertahun-tahun. Satu penyakit dapat mengubah seluruh arah kehidupan seseorang. Bahkan kematian dapat datang tanpa mempertimbangkan kesiapan manusia.

Dalam konteks ini, ungkapan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” sesungguhnya bukan hanya seruan kesabaran, tetapi juga kritik terhadap ilusi kepemilikan yang berkembang dalam kehidupan modern. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kehendak Tuhan yang jauh lebih besar.

Kesadaran semacam ini penting karena dapat melahirkan sikap hidup yang lebih proporsional. Seseorang tetap dapat bekerja keras, memiliki cita-cita, dan membangun kehidupan duniawi, tetapi tanpa keterikatan berlebihan yang membuat dirinya hancur ketika kehilangan. Dalam Islam, sikap ini dikenal melalui konsep tawakal dan ikhlas—bukan menyerah tanpa usaha, melainkan kesadaran bahwa hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah.

Di sinilah letak relevansi spiritualitas dalam kehidupan modern. Spiritualitas bukan sekadar ritual individual, tetapi cara pandang yang membantu manusia menjaga keseimbangan batin di tengah ketidakpastian hidup. Ketika manusia memahami bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada Allah, maka ia tidak mudah terjebak dalam kesombongan saat memiliki dan tidak mudah hancur ketika kehilangan.

Dengan demikian, makna terdalam dari “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” sebenarnya tidak terbatas pada peristiwa kematian. Kalimat tersebut merupakan pengingat eksistensial bahwa seluruh perjalanan hidup manusia pada akhirnya adalah proses kembali kepada Tuhan. Kesadaran inilah yang tampaknya semakin dibutuhkan dalam masyarakat modern yang cenderung sibuk mengejar kepemilikan, tetapi sering kehilangan ketenangan batin.

Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)

Tinggalkan Balasan