Opini, Semartara.News — Setiap Iduladha datang, media sosial selalu ikut ramai. Ada yang membagikan foto sapi kurban, video proses penyembelihan, suasana pembagian daging, sampai ucapan selamat dengan desain yang menarik. Linimasa terasa penuh oleh nuansa hari raya. Wajar sebenarnya. Orang ingin berbagi kebahagiaan, menunjukkan rasa syukur, atau sekadar mengabadikan momen bersama keluarga dan warga sekitar.
Namun di tengah semua keramaian itu, kadang penulis bertanya: kapan terakhir kali kita benar-benar merasakan Iduladha dalam keadaan hening?
Bukan hening tanpa suara, melainkan hening di dalam diri. Hening yang membuat kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital, lalu bertanya pada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang kita kurbankan?
Sebab Iduladha sejatinya tidak hanya bicara soal hewan kurban. Ada makna yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang belajar ikhlas. Tentang rela melepaskan sesuatu yang kita cintai. Tentang menahan ego yang selama ini ingin terus dipuji, dilihat, dan diakui.
Di zaman media sosial seperti sekarang, godaan untuk selalu terlihat memang semakin besar. Hampir semua hal terasa ingin dibagikan. Makan difoto, perjalanan direkam, bahkan ibadah kadang ikut dijadikan konten. Tidak ada yang sepenuhnya salah dari itu. Media sosial memang sudah menjadi bagian dari hidup kita.
Tetapi masalahnya, kadang kita terlalu sibuk menunjukkan momen, sampai lupa merasakan maknanya.
Kurban misalnya. Ada yang diam-diam membantu tetangga tanpa pernah mengunggah apa pun. Ada juga yang sederhana, tetapi tulusnya terasa. Di sisi lain, ada pula yang tanpa sadar lebih sibuk memikirkan angle kamera, takarir (caption), dan respons orang lain. Padahal ibadah bukan perlombaan untuk terlihat paling saleh.
Mungkin inilah tantangan terbesar manusia hari ini: menjaga hati tetap tenang di tengah dunia yang terus meminta perhatian.
Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia bisa menjadi ruang berbagi kebaikan, tetapi juga bisa membuat orang pelan-pelan terjebak dalam kebutuhan untuk selalu mendapat pengakuan. Kita jadi mudah merasa harus tampil, harus terlihat aktif, harus mendapat respons. Kalau sepi, rasanya ada yang kurang.
Padahal banyak hal baik justru tumbuh dalam diam.
Keikhlasan misalnya. Ia sering lahir di ruang yang sunyi, bukan di tempat yang ramai tepuk tangan. Sebab tidak semua kebaikan perlu diumumkan. Tidak semua ibadah harus dipamerkan. Ada hal-hal yang mungkin lebih indah ketika hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.
Iduladha seharusnya mengajarkan itu. Bahwa yang paling berat untuk dikurbankan kadang bukan harta atau hewan, melainkan ego kita sendiri. Ego yang ingin dipuji. Ego yang ingin dianggap baik. Ego yang diam-diam senang ketika dilihat orang lain.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising ini, kemampuan untuk tetap sederhana dan tulus adalah bentuk kurban yang juga penting.
Barangkali kita memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari media sosial. Tetapi setidaknya, Iduladha bisa menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu harus ditampilkan. Ada momen yang lebih bermakna ketika dinikmati dalam diam. Ada doa yang terasa lebih dekat ketika tidak disertai kebutuhan untuk dilihat siapa pun.
Karena pada akhirnya, yang sampai kepada Tuhan bukanlah keramaian unggahan kita, melainkan ketulusan hati yang menyertainya.
Penulis: Mohamad Romli
Penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)







