Opini  

Judi Online: Ancaman Tersembunyi Bagi Generasi Masa Depan

Judi online mengancam masa depan remaja Indonesia. Artikel ini mengungkap dampak seriusnya serta solusi berbasis nilai Pancasila.
Fitri Sindi. (Foto: Dok. Pribadi)

 

Opini, Semartara.News – Kita hidup di zaman ketika satu gawai di tangan seorang remaja dapat menjadi jendela pengetahuan—namun pada saat yang sama juga bisa menjadi pintu masuk kehancuran. Di balik layar ponsel yang tampak sunyi, ribuan remaja Indonesia terperangkap dalam dunia gelap judi online. Mereka tak perlu memasuki arena kasino; cukup dengan sentuhan, perjudian hadir seperti permainan biasa, murah, cepat, dan mematikan secara perlahan.

Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran orang tua yang “gaptek”. Data berbicara lebih lantang: sepanjang 2022, lebih dari 1.154 kasus judi online diungkap kepolisian. Sementara itu, hanya dalam tiga bulan, 124.439 konten judi online diblokir Kominfo—angka yang lebih menyerupai volume industri besar ketimbang aktivitas ilegal. Bahkan Drone Emprit mencatat Indonesia sebagai negara dengan pemain judi online terbanyak di dunia, mencapai lebih dari 201 ribu pemain aktif.

Di balik statistik yang mencekam itu, ada satu kelompok yang paling rentan: remaja.

Dengan penetrasi internet mencapai 99,16% pada usia 13–18 tahun (APJII 2022), remaja berada di garis depan paparan teknologi. Menurut UNICEF, prevalensi judi online pada remaja di seluruh dunia 2–4 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Artinya, di balik ruang-ruang sunyi kamar tidur para remaja, sedang terjadi sebuah krisis yang tidak banyak disadari oleh orang tua, sekolah, bahkan negara.

Ketika Judi Online Menggerogoti Masa Depan

Masalah judi online bukanlah sekadar “anak main HP kebablasan”. Dampaknya mencengkeram kehidupan remaja dari segala sisi—finansial, sosial, psikis, akademik, bahkan spiritual.

1. Kemiskinan yang Dibuat Sendiri

Remaja kehilangan uang jajan dalam hitungan menit, meminjam ke teman, bahkan menggadaikan barang berharga. Mereka berlari dari kekalahan demi mengejar kemenangan fiktif yang tak pernah benar-benar datang. Dalam banyak kasus, remaja jatuh ke lubang utang—lubang yang bahkan tidak mereka pahami kedalamannya.

2. Retaknya Hubungan Sosial

Ketika layar menjadi dunia utama, keluarga menjadi asing. Teman dianggap sekadar sumber pinjaman. Tidak sedikit remaja yang akhirnya terlibat perkelahian atau pencurian demi mempertahankan kecanduan. Lingkungan tempat tinggal pun menjadi lahan penyebaran perilaku menyimpang ketika satu orang mulai mengajak yang lain.

3. Kerusakan Psikologis yang Senyap

Judi adalah permainan adrenalin yang tidak pernah memberi jeda. Ketakutan, depresi, kecemasan, dan kehilangan kontrol diri adalah efek bawaan. Remaja yang kecanduan judi online sering menarik diri, cepat marah, dan hidup dalam kecemasan kronis akibat utang dan tekanan sosial.

4. Luntur dan Retaknya Karakter

Muncul kebiasaan berbohong, temperamen meledak-ledak, perilaku kasar, dan hilangnya rasa percaya diri. Kekalahan demi kekalahan membuat remaja merasa tidak berharga, lalu melampiaskan frustrasi dengan membanting barang atau melukai diri sendiri.

5. Kesehatan yang Merosot

Begadang demi “putaran terakhir”, mata merah akibat menatap layar, pusing, konsumsi alkohol, dan merokok menjadi paket lengkap yang menyertai kecanduan judi. Kesehatan remaja dihancurkan bahkan sebelum mereka punya kesempatan membangunnya.

6. Akademik yang Hancur Pelan-Pelan

Nilai anjlok, absen menumpuk, tidur saat pelajaran, bahkan putus kuliah—semua itu bukan lagi cerita satu dua kasus. Judi online mencuri fokus, energi, hingga asa.

7. Jarak dengan Nilai Keagamaan

Waktu untuk beribadah digeser oleh keinginan berspekulasi. Sementara rasa bersalah yang menumpuk justru membuat remaja makin jauh dari ruang spiritual yang seharusnya memberi ketenangan.

Semua dampak ini menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar hobi berisiko. Ia adalah virus sosial yang menghancurkan fondasi karakter dan moral generasi muda.

Ketika Pancasila Tak Lagi Ditanamkan, Hanya Dihafalkan

Di tengah semua kekacauan itu, pertanyaan besarnya adalah: Mengapa remaja kita begitu mudah tergelincir? Jawabannya sederhana, tapi menyedihkan—Pancasila tidak pernah benar-benar ditanamkan, hanya dihafalkan.

Dari semua sila, dua yang paling dilanggar adalah:

1. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Remaja yang berjudi merusak martabatnya sendiri: berbohong, mencuri, menyalahgunakan uang keluarga. Mereka terjebak dalam aktivitas yang tidak adil, tidak etis, dan bertentangan dengan nilai moral bangsa.

2. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Kecanduan judi memutus hubungan sosial dan keluarga. Solidaritas hancur, remaja terasing dari komunitas, dan nilai kebersamaan digantikan individualisme dan hasrat instan.

Krisis ini menunjukkan bahwa pendekatan hukum dan teknis—pemblokiran situs, razia, filter internet—tidak mampu menyentuh akar persoalan. Judi online terus tumbuh karena remaja tidak memiliki benteng moral untuk menolak godaan itu.

Mengapa Hukum dan Teknologi Tidak Cukup

Memblokir situs hanya seperti menutup lubang kecil di tengah banjir. Penyedia judi selalu membuat domain baru; remaja selalu menemukan cara melewati batasan, seperti VPN. Penegakan hukum pun tak mampu mengubah cara berpikir remaja tentang risiko dan nilai diri.

Masalah utamanya bukan di layar—melainkan di dalam diri.

Tanpa nilai yang kuat, remaja akan terus mencari jalan pintas, kesenangan instan, dan pengakuan semu.

Saatnya Menghidupkan Pancasila—Bukan Membacakan Saja

Untuk menyelamatkan generasi masa depan, Pancasila harus kembali menjadi kompas, bukan hafalan. Dan untuk Gen Z yang tumbuh di era digital, penanaman nilai tidak bisa lagi menggunakan metode ceramah formal. Ia harus dihadirkan dengan cara yang kreatif, relevan, dan dekat dengan dunia mereka.

1. Konten Digital “Pancasila dalam Tindakan”

Melalui TikTok, YouTube Shorts, dan Reels, kampanye interaktif dapat menunjukkan bagaimana kerja keras lebih bermakna daripada keberuntungan semu dari judi.

2. Komunitas Kreatif “Pancasila Hive”

Gerakan lintas kota yang mengajak remaja berkarya, membuat proyek digital, sosial, hingga ekonomi kreatif sebagai pengganti aktivitas negatif.

3. “Pancasila Lab” di Sekolah dan Kampus

Sekolah bukan lagi tempat menghafal sila, tapi ruang praktik—menganalisis dampak judi di masyarakat dan merancang solusi nyata berbasis nilai kebangsaan.

4. Kolaborasi dengan Influencer Moral

Influencer Gen Z yang relevan dapat menjadi jembatan yang mampu mengajak audiensnya melihat Pancasila sebagai panduan hidup, bukan teks upacara.

Penutup: Melindungi Masa Depan Dimulai dari Hari Ini

Judi online bukan hanya masalah hukum atau teknologi. Ia merusak sendi-sendi kehidupan remaja: martabat, moral, relasi sosial, akademik, hingga spiritualitas. Karena itu, solusi pun harus menyentuh akar terdalamnya—nilai dan karakter.

Pancasila adalah benteng moral yang kita punya. Namun selama ia hanya dihafalkan, bukan dihidupkan, remaja akan terus menjadi korban gelombang judi online yang tak kenal ampun.

Dengan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan yang kreatif, modern, dan relevan bagi Gen Z, kita tidak hanya mencegah kecanduan judi—kita sedang membangun generasi yang lebih tangguh, bermartabat, dan sadar kontribusi bagi bangsa.

Generasi masa depan tidak boleh dikorbankan.
Dan perjuangan itu harus dimulai dari sekarang.

Penulis: Fitri Sindi, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

Tinggalkan Balasan