Indramayu, Semartara.News — Sebanyak 80 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) diterjunkan ke Kabupaten Indramayu melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026. Selama lebih dari satu bulan, para mahasiswa akan melaksanakan pengabdian di 10 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Juntinyuat, Indramayu, Pasekan, Cantigi, dan Kandanghaur.
Dalam program yang berlangsung pada 6 Juli hingga 14 Agustus 2026 tersebut, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat untuk menggali potensi lokal, mengidentifikasi berbagai persoalan, serta merancang solusi yang mendukung pembangunan desa sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.
KKN Tematik IPB 2026 diawali dengan kegiatan serah terima mahasiswa di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Indramayu, Senin (6/7/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari penguatan sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mendorong pembangunan berbasis potensi lokal.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Bapperida Kabupaten Indramayu, El Gharif Hajar Aswad, mengapresiasi kepercayaan IPB yang kembali memilih Kabupaten Indramayu sebagai lokasi pelaksanaan KKN.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis untuk menjembatani gagasan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
“Selamat datang kepada seluruh mahasiswa dan dosen pembimbing. Kehadiran ini kami harapkan tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga benar-benar menyatu dengan masyarakat dan menghadirkan solusi bagi pembangunan desa,” ujarnya.
El Gharif berharap para mahasiswa dapat segera beradaptasi dengan lingkungan, memahami karakteristik sosial dan potensi wilayah, serta menyusun program kerja yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa.
Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, Beginer Subhan, mengatakan KKN merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan riil serta berkontribusi dalam penyelesaian berbagai tantangan pembangunan di daerah.
“Melalui KKN, mahasiswa kami ditempatkan langsung di tengah masyarakat agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat persoalan dan potensi yang ada di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk membangun kepekaan sosial mahasiswa sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat.
Salah seorang peserta KKN, Faridatun Ainun Nisha dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan FPIK IPB, akan ditempatkan di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur. Desa pesisir tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah yang kerap terdampak banjir rob.
Faridatun mengaku ingin mempelajari secara langsung kondisi masyarakat pesisir, sekaligus memahami berbagai upaya mitigasi dan penanganan banjir rob yang telah dilakukan.
“Saya ingin melihat langsung kondisi masyarakat saat banjir rob dan memahami berbagai upaya penanganan yang telah dilakukan. Harapannya, pengalaman ini bisa memberi manfaat, baik bagi masyarakat maupun bagi kami sebagai mahasiswa,” pungkasnya. (Hijar/Red)







