ISPS 2026 Hadir di Yogyakarta, HIPJI Dorong Kolaborasi Penerbit dan Akademisi

HIPJI menggelar ISPS 2026 di Yogyakarta untuk memperkuat kolaborasi penerbit dan akademisi demi meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia.
Sejumlah pengurus HIPJI, narasumber, dan peserta berpose bersama dalam gelaran Indonesian Scholarly Publishing Summit (ISPS) 2026 di Gadjah Mada University Club, Yogyakarta, Kamis (15/10/2026). (Foto: Ist)

Yogyakarta, Semartara.News— Himpunan Penerbit Ilmiah Indonesia (HIPJI) mendorong penguatan kolaborasi antara penerbit ilmiah dan akademisi melalui penyelenggaraan Indonesian Scholarly Publishing Summit (ISPS) 2026 di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (15/10/2026). Forum berskala nasional ini menjadi ruang pertukaran gagasan untuk meningkatkan profesionalisme, kualitas, dan daya saing publikasi ilmiah Indonesia di tingkat global.

Pembukaan ISPS 2026 ditandai dengan sambutan Prof. Dr. Karona Cahya Susena, Sekretaris Jenderal HIPJI. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara penerbit ilmiah, akademisi, dan regulator dalam membangun ekosistem penerbitan yang berkualitas, profesional, serta mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan.

Mengusung tema “People, Ideas, Collaboration, and Lasting Impact”, ISPS 2026 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan penerbitan ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan penguatan standar profesional dalam pengelolaan publikasi akademik.

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran Lembaga Sertifikasi Profil (LSP) Penerbitan Ilmiah Indonesia. Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kompetensi sumber daya manusia sekaligus mendorong profesionalisme dalam industri penerbitan ilmiah nasional.

Hadirkan Pembicara dari Berbagai Sektor

ISPS 2026 menghadirkan pembicara dari kalangan organisasi penerbit ilmiah, lembaga pemerintah, lembaga sertifikasi profesi, dan organisasi internasional. Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan memperluas perspektif peserta mengenai tantangan dan peluang pengembangan publikasi ilmiah Indonesia.

Para pembicara yang tercantum dalam agenda kegiatan meliputi:

  • Dr. Andri Putra K, M.IP., Ketua Umum HIPJI.
  • Epik Finilih, S.Si., M.Hum., Direktur LSP PII.
  • Dr. Irham Hanif Nabawi, S.Sos., M.Hum., Pustakawan Ahli Muda Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
  • Miftakul Azis, S.H., M.H., anggota komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
  • Dr. Ir. Syauqi Soeratno, M.M., Wakil Ketua II Komite III DPD RI.
  • Rocio Gaudioso Pedraza, Community Engagement Manager di Crossref.

Keterlibatan pembicara lintas sektor tersebut membuka ruang diskusi mengenai tata kelola penerbitan, sertifikasi kompetensi, standar kualitas publikasi, serta penguatan jejaring kerja sama di tingkat nasional dan internasional.

Dalam keterangan yang disampaikan di sela-sela pembukaan, perwakilan pengurus HIPJI menyatakan bahwa pengembangan ekosistem penerbitan ilmiah perlu memperhatikan kualitas dan dampak jangka panjang, bukan hanya jumlah publikasi yang dihasilkan.

“Melalui ISPS 2026, kita ingin membangun ekosistem penerbitan ilmiah yang tidak hanya produktif secara kuantitas, tetapi juga memiliki dampak keberlanjutan (lasting impact) serta standar kualitas yang terakreditasi secara profesional,” ungkap perwakilan pengurus HIPJI.

Perkuat Profesionalisme Penerbitan Ilmiah

Kolaborasi antara penerbit dan akademisi menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan publikasi ilmiah. Penerbit tidak hanya berperan dalam memproduksi dan menyebarluaskan karya ilmiah, tetapi juga mendukung proses penerbitan yang memenuhi standar mutu dan tata kelola profesional.

Di sisi lain, akademisi memiliki peran strategis dalam menghasilkan penelitian dan pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat. Sinergi kedua pihak, dengan dukungan regulator dan organisasi terkait, diharapkan mampu memperkuat kualitas publikasi serta memperluas jangkauan hasil penelitian Indonesia.

Melalui diskusi interaktif dan pertukaran pengalaman selama ISPS 2026, penyelenggara berharap muncul rekomendasi serta langkah konkret untuk mendukung kebijakan riset dan penerbitan nasional.

Penguatan kolaborasi, inovasi, dan kompetensi sumber daya manusia diharapkan dapat menjadi fondasi bagi ekosistem penerbitan ilmiah Indonesia yang lebih profesional, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat internasional. (Ril)

Tinggalkan Balasan