Hari Anak Nasional 2026 di Tangsel, Sinergi Pemerintah dan Sekolah Perkuat Perlindungan Anak

Hari Anak Nasional 2026 di Tangsel mendorong sinergi pemerintah dan sekolah dalam menciptakan lingkungan aman bagi anak.
Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Kota Tangerang Selatan berlangsung semarak dengan partisipasi anak-anak PAUD yang hadir dalam suasana penuh keceriaan dan edukasi. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) untuk memperkuat sinergi bersama satuan pendidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga pendidik, dan seluruh elemen sekolah, Tangsel terus mendorong hadirnya ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap anak dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Peringatan HAN ke-42 yang digelar di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan (Puspemkot), Kamis (23/7/2026), menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk lingkungan yang mampu memenuhi kebutuhan anak secara menyeluruh.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel, Deden Deni, mengatakan sekolah tidak hanya menjadi tempat anak memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bagi mereka untuk merasa aman, dihargai, dan didukung dalam proses tumbuh kembang.

Menurutnya, keberhasilan menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat.

“Momentum Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ini menjadi pengingat bahwa menyayangi anak harus diwujudkan dengan melindungi hak-hak mereka dan memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman,” ujar Deden.

Ia menjelaskan, salah satu upaya yang terus diperkuat Dindikbud Tangsel yakni implementasi Gerakan Nasional #RANA (Ruang Aman Nyaman Anak) di lingkungan sekolah.

Melalui gerakan tersebut, sekolah didorong untuk menjadi ruang yang mampu mencegah berbagai persoalan yang dapat menghambat perkembangan anak, seperti perundungan, kekerasan, diskriminasi, hingga intoleransi.

Deden menegaskan, para pendidik memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa nyaman dalam berekspresi dan menyampaikan pendapat.

“Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua adalah memastikan anak-anak tumbuh tanpa rasa takut, dihormati hak-haknya, serta didengar suaranya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Tangsel, Roro Truetami Ajeng Soediutomo Pilar, menyampaikan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam melanjutkan proses pengasuhan dan pendidikan yang telah dimulai dari keluarga.

Menurutnya, lingkungan pendidikan yang positif akan membantu anak membangun rasa percaya diri, mengembangkan potensi, serta membentuk karakter yang baik.

“Melindungi anak berarti menciptakan rumah dan sekolah yang bebas dari rasa takut, kekerasan, maupun tekanan yang dapat merusak tumbuh kembang mereka. Anak juga perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa dihakimi,” ungkap Roro.

Ia menambahkan, penguatan layanan PAUD Holistik Integratif juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang memperhatikan berbagai kebutuhan dasar anak, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, hingga perlindungan.

Roro menilai, kerja sama antara pemerintah dan sekolah menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak.

Dengan adanya sinergi tersebut, Tangsel diharapkan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang tidak hanya mencetak anak berprestasi, tetapi juga membentuk generasi yang sehat, bahagia, percaya diri, dan berkarakter.

“Harapannya, melalui peringatan Hari Anak Nasional tahun ini, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak semakin meningkat, sehingga Tangsel dapat terus berkembang sebagai kota ramah anak,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan