Di Balik Rumah yang Roboh, Ada Perjuangan Beny yang Didengar Abe

Abe mengunjungi Beny, warga Bonang yang rumahnya roboh dimakan rayap. Ia menyerahkan bantuan dan mendengarkan kondisi keluarga Beny.
Anggota DPRD Provinsi Banten Abraham Garuda Laksono (Abe) mengunjungi Beny di Bonang, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Rabu (14/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Abe berbincang langsung dengan Beny untuk mendengarkan kondisinya setelah rumahnya roboh dimakan rayap. (Foto: Ist)

Tangerang, Semartara.News — Saat masih harus memulihkan kesehatan setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Beny, warga Bonang, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, menghadapi kenyataan pahit: rumahnya roboh dimakan rayap dan tak lagi bisa ditempati. Di tengah kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, ia bersama keluarganya harus mencari tempat berteduh sementara. Situasi inilah yang menggerakkan Abraham Garuda Laksono atau Abe, anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDI Perjuangan, untuk menyambangi Beny dan mendengarkan langsung keadaannya, Rabu (14/10/2026).

Bagi Beny, pulang dari rumah sakit semestinya menjadi awal untuk kembali memulihkan diri di rumah bersama keluarga. Namun, rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat dan merasa aman justru sudah tidak dapat dihuni. Ia masih menjalani rawat jalan, sementara urusan tempat tinggal menjadi persoalan lain yang harus dihadapi.

Beny, umat Katolik dari Jemaat St. Mikail, kini tinggal sementara bersama keluarganya di rumah kosong milik seorang warga. Di tengah keadaan itu, keluarga tetap harus menjalani hari-hari mereka dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski tempat tinggal yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan mereka telah rusak.

Saat menyambangi Beny, Abe berbincang langsung dengannya, mendengarkan cerita tentang kondisi yang sedang dihadapi, sekaligus melihat situasi tempat tinggalnya. Dalam kunjungan tersebut, Abe menyerahkan bantuan berupa sembako dan uang tunai untuk membantu meringankan sebagian kebutuhan keluarga.

“Ketika kita melihat langsung kondisi masyarakat, kita bisa memahami bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak selalu sederhana. Pak Beny sedang berusaha memulihkan kesehatannya, sementara keluarganya juga harus menghadapi persoalan tempat tinggal. Saya berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban mereka,” ujar Abe.

Bagi keluarga Beny, bantuan tersebut mungkin belum menjawab seluruh kebutuhan yang ada. Namun, di tengah situasi yang tidak mudah, perhatian dan kesediaan untuk mendengarkan menjadi bentuk dukungan yang berarti. Ada ruang bagi Beny untuk menceritakan keadaannya, sementara persoalan yang dihadapinya dapat dilihat lebih dekat dan dipahami secara langsung.

Dalam kunjungan tersebut, Abe mendapatkan informasi Beny tercatat dalam desil 6 sehingga tidak menerima bantuan sembako dan sejumlah bantuan sosial lainnya. Informasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian data kesejahteraan dengan kondisi nyata yang sedang dihadapi keluarganya.

Menanggapi hal tersebut, Abe menekankan pentingnya pencocokan data dengan keadaan masyarakat di lapangan agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

“Data kesejahteraan harus terus dicermati agar sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jika ada perubahan keadaan atau informasi yang belum sesuai, perlu ada mekanisme verifikasi dan pemutakhiran data. Dengan begitu, penyaluran bantuan bisa dilakukan secara lebih tepat sasaran,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan