Opini  

Berhala di Kepala, Ego di Balik Dzikir: Ketika Manusia Merasa Menjadi Pusat Segala Sesuatu

Kritik antroposentrisme manusia, berhala dalam pikiran, dan ego di balik dzikir: refleksi tentang akal, alam, dan spiritualitas manusia.
Mohamad Romli (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.News — Apalah artinya berpikir jika kita tidak mampu mengenali berhala di dalam kepala sendiri? Apalah artinya berdzikir jika kita masih memberhalakan diri sendiri?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan mendasar tentang manusia. Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan berkembang pesat, teknologi semakin canggih, dan manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah dunia. Kita bisa menjelajahi ruang angkasa, memetakan genom, membangun kecerdasan buatan, dan menjelaskan berbagai fenomena yang dahulu dianggap misterius. Namun, di tengah seluruh kemajuan itu, satu pertanyaan tetap relevan: apakah kemampuan kita memahami dunia juga membuat kita semakin mampu memahami keterbatasan diri sendiri?

Jangan-jangan, persoalan manusia bukan semata-mata karena ia tidak mengetahui banyak hal, melainkan karena ia terlalu mudah menganggap apa yang diketahuinya sebagai kebenaran terakhir. Manusia bisa menggunakan akal untuk mencari kebenaran, tetapi juga untuk membenarkan keyakinannya sendiri. Ia dapat memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sekaligus mengabaikan kehidupan lain yang tidak memberikan keuntungan langsung. Bahkan, ia bisa menjalankan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi tanpa sadar tetap memelihara ego yang ingin dipuji, diakui, dan dianggap lebih suci daripada orang lain.

Di sinilah kita perlu membicarakan antroposentrisme: cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat atau ukuran utama dalam menilai dunia, terutama dalam hubungannya dengan alam dan makhluk nonmanusia.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada hubungan manusia dengan alam. Ada kecenderungan lain yang patut kita periksa: keinginan untuk menjadikan perspektif, kepentingan, dan keyakinan sendiri sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Dalam tulisan ini, kecenderungan tersebut menjadi jembatan untuk menghubungkan kritik antroposentrisme dengan persoalan pengetahuan dan keakuan manusia, tanpa menyamakan ketiganya sebagai konsep yang identik.

Sebab, manusia tidak hanya berpotensi menjadikan dirinya pusat dunia. Ia juga dapat menjadikan pikirannya pusat kebenaran dan citra dirinya pusat kehidupan spiritual.

Ketika Alam Hanya Dianggap Berguna bagi Manusia

Lihatlah bagaimana manusia memperlakukan alam. Hutan sering kali dihitung berdasarkan nilai kayunya, sungai berdasarkan potensi ekonominya, dan tanah berdasarkan harga jualnya. Gunung dapat dipandang sebagai sumber mineral, sementara makhluk hidup dinilai berdasarkan manfaatnya bagi kebutuhan manusia.

Tentu, manusia membutuhkan alam. Kita memerlukan air, pangan, energi, dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Memanfaatkan sumber daya alam tidak dengan sendirinya merupakan kesalahan moral. Persoalan muncul ketika manfaat bagi manusia menjadi satu-satunya ukuran yang menentukan apakah sesuatu layak dihargai, dipertahankan, atau bahkan dibiarkan hidup.

Ketika hutan hanya dipandang sebagai komoditas, fungsi ekologisnya dapat diabaikan. Ketika sungai hanya dianggap sebagai sumber keuntungan, kerusakan lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya berisiko dikesampingkan. Alam seolah-olah tidak memiliki arti di luar apa yang dapat diberikan kepada manusia.

Inilah salah satu persoalan yang dikritik oleh antroposentrisme dalam etika lingkungan: kecenderungan menempatkan kepentingan manusia sebagai pertimbangan yang paling utama, bahkan ketika keputusan tersebut mengorbankan kehidupan nonmanusia.

Kritik ini bukan berarti manusia harus berhenti memanfaatkan alam atau menganggap kepentingannya tidak penting. Yang perlu dipertanyakan adalah keyakinan bahwa segala sesuatu harus dinilai berdasarkan kegunaannya bagi manusia.

Bukankah manusia sendiri bergantung pada jaringan kehidupan yang jauh lebih luas daripada dirinya? Udara yang dihirup, air yang diminum, tanah yang menghasilkan pangan, dan berbagai organisme yang menopang keseimbangan ekosistem bukanlah hasil kerja manusia seorang diri.

Ironisnya, manusia sering merasa sebagai penguasa alam, padahal keberlangsungan hidupnya bergantung pada proses-proses alam yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan.

Antroposentrisme menjadi persoalan ketika kemampuan manusia mengelola alam berubah menjadi keyakinan bahwa manusia berhak menentukan segalanya tanpa mempertimbangkan batas ekologis dan kepentingan makhluk lain.

Berhala yang Bersembunyi di Dalam Kepala

Namun, ada persoalan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia memperlakukan pikirannya sendiri.

Kita sering menganggap berpikir kritis sebagai kemampuan membantah pendapat orang lain, membongkar kelemahan suatu teori, atau menunjukkan kesalahan dalam cara berpikir kelompok yang berbeda. Kita merasa telah menjadi manusia merdeka karena tidak mudah percaya kepada orang lain.

Tetapi, apakah kita juga berani mempertanyakan keyakinan yang paling kita cintai?

Seseorang bisa membaca banyak buku, menguasai berbagai teori, memahami filsafat, bahkan mengkritik ideologi yang dianggap menyesatkan. Namun, semua pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya terbebas dari kesombongan. Ia masih mungkin menggunakan kecerdasannya untuk mempertahankan prasangka, menyusun pembenaran, dan menolak kenyataan yang tidak sesuai dengan keyakinannya.

Di sinilah berhala dalam pikiran menemukan maknanya.

Berhala tidak selalu berbentuk patung atau benda yang disembah. Dalam konteks ini, berhala merupakan metafora bagi sesuatu yang kita tempatkan begitu tinggi sehingga tidak lagi bersedia kita periksa. Ia dapat berupa ideologi, teori, identitas kelompok, keyakinan politik, atau bahkan citra diri sebagai manusia yang merasa paling rasional.

Kita mungkin mengaku sedang mencari kebenaran, padahal sesungguhnya hanya ingin membuktikan bahwa diri kita benar. Kita merasa sedang membebaskan diri dari dogma, tetapi tanpa sadar membangun dogma baru. Kita mengkritik fanatisme orang lain, tetapi menjadi fanatik terhadap keyakinan sendiri.

Akibatnya, pengetahuan yang semestinya membuka cakrawala justru menjadi pagar yang membatasi pandangan. Teori yang seharusnya membantu kita membaca kenyataan berubah menjadi tirai yang menutupinya.

Kita tidak lagi membiarkan kenyataan mengoreksi teori. Sebaliknya, kita memaksa kenyataan agar sesuai dengan teori yang sudah kita percaya.

Padahal, teori hanyalah perangkat untuk memahami kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Pengetahuan manusia selalu terbuka terhadap pengujian dan koreksi karena kemampuan kita memahami dunia tidak pernah berarti bahwa kita telah mengetahui seluruhnya.

Pikiran yang merdeka bukanlah pikiran yang tidak memiliki keyakinan, melainkan pikiran yang berani memeriksa keyakinannya sendiri.

Ketika Ego Menyamar sebagai Kebenaran

Pada titik ini, kritik terhadap antroposentrisme bertemu dengan persoalan ego, meskipun keduanya tidak sama.

Antroposentrisme berbicara tentang kedudukan manusia dalam menentukan nilai, terutama dalam hubungannya dengan alam. Egoisme berbicara tentang kecenderungan mengutamakan kepentingan diri sendiri. Sementara itu, kesombongan intelektual muncul ketika seseorang menganggap pengetahuan atau kemampuan berpikirnya sebagai alasan untuk merasa lebih unggul daripada orang lain.

Ketiganya memiliki wilayah yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam satu kecenderungan: memusatkan penilaian pada diri atau kepentingan sendiri, lalu mengabaikan hal-hal yang berada di luar pusat tersebut.

Kita dapat melihat kecenderungan ini dalam kehidupan sosial. Orang yang berbeda pandangan dianggap bodoh. Kelompok lain dicurigai hanya karena tidak sepaham. Kritik diperlakukan sebagai serangan pribadi. Perdebatan tidak lagi diarahkan untuk memahami persoalan, melainkan untuk memenangkan pertarungan dan mempertahankan harga diri.

Dalam keadaan seperti itu, akal tidak lagi sepenuhnya digunakan untuk mencari kebenaran. Ia menjadi pengacara bagi ego, sibuk membela kepentingan pemiliknya.

Manusia tidak lagi bertanya, “Apakah pendapatku benar?” Ia lebih sibuk bertanya, “Bagaimana caranya agar pendapatku tetap terlihat benar?”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya besar. Pertanyaan pertama membuka ruang untuk belajar, sedangkan pertanyaan kedua mendorong seseorang mempertahankan diri sekalipun berhadapan dengan bukti yang berlawanan.

Karena itu, persoalan kita bukan sekadar kekurangan informasi. Kita juga menghadapi persoalan tentang bagaimana informasi diterima, ditafsirkan, dan digunakan untuk membangun citra diri.

Kita bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi tetap tidak bijaksana. Kita bisa memenangkan perdebatan, tetapi gagal memahami persoalan. Kita bisa membuktikan kesalahan orang lain, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memeriksa kesalahan sendiri.

Apalah Artinya Berdzikir jika Ego Masih Disembah?

Persoalan keakuan menjadi semakin menarik ketika kita memasuki wilayah spiritual.

Dalam tradisi tasawuf, dzikir bukan sekadar aktivitas melafalkan nama Allah. Dzikir juga berkaitan dengan kesadaran mengingat Allah, sementara muhasabah mengajak manusia memeriksa niat, perilaku, dan keadaan batinnya sendiri.

Namun, praktik spiritual tidak secara otomatis menghapus ego. Manusia tetap dapat membawa keinginan untuk dipuji, dihormati, dan dianggap lebih unggul ke dalam ruang ibadah.

Seseorang bisa tekun menjalankan ritual, tetapi masih sulit menerima koreksi. Ia bisa berbicara tentang kesabaran, tetapi mudah merendahkan orang lain. Ia bisa mengajarkan kerendahan hati, tetapi diam-diam bangga karena merasa dirinya lebih rendah hati daripada orang lain.

Di sinilah paradoks itu muncul: lisan menyebut nama Tuhan, tetapi ego masih menuntut pengakuan.

Kesalehan bahkan dapat berubah menjadi identitas yang dipertahankan. Ibadah yang semestinya menjadi jalan pembentukan diri berisiko digunakan untuk membangun citra sebagai manusia yang lebih suci, lebih benar, atau lebih dekat kepada Tuhan.

Tentu, kita tidak dapat mengukur kedalaman ibadah seseorang hanya berdasarkan penampilan luarnya. Kita juga tidak dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang tekun beribadah sedang memelihara ego. Kritik ini justru harus dimulai dari diri sendiri, bukan digunakan sebagai senjata untuk menghakimi orang lain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah dzikir membuat kita semakin mampu mengendalikan kesombongan, menjaga perilaku, dan memperbaiki hubungan dengan sesama? Apakah ibadah membuat kita lebih terbuka terhadap koreksi, atau justru semakin merasa berhak menghakimi?

Dalam perspektif tasawuf, pertanyaan tersebut mengarah pada muhasabah dan perjuangan melawan dominasi hawa nafsu. Bukan untuk menghapus keberadaan diri sebagai manusia, melainkan untuk menata keakuan agar tidak menjadi penguasa atas seluruh tindakan dan penilaian kita.

Di sini, kritik spiritual bertemu dengan kritik terhadap pemutlakan diri. Namun, keduanya tetap berbeda: antroposentrisme membahas kedudukan manusia dalam pertimbangan nilai, sedangkan tasawuf membahas hubungan manusia dengan Allah dan pembentukan batinnya.

Hubungannya terletak pada sebuah refleksi: manusia dapat menggunakan sesuatu yang bernilai—pengetahuan, ideologi, bahkan ibadah—untuk mempertahankan ego apabila ia tidak bersedia memeriksa dirinya sendiri.

Jangan sampai kita menggunakan nama Tuhan untuk memperbesar diri, ketika ibadah semestinya mengajari kita merendahkan keakuan di hadapan-Nya.

Bukan Menolak Manusia, Melainkan Menolak Pemutlakan Diri

Kritik terhadap antroposentrisme tidak berarti kita harus membenci manusia, menolak akal, atau menganggap kepentingan manusia tidak penting. Manusia tetap memiliki martabat, kebutuhan, dan tanggung jawab moral.

Demikian pula, kritik terhadap pengetahuan tidak berarti kita harus berhenti berpikir. Mengakui keterbatasan akal justru merupakan bagian dari penggunaan akal secara bertanggung jawab. Kita tidak perlu menolak teori untuk menyadari bahwa tidak ada satu teori pun yang layak diterima tanpa pemeriksaan.

Kita juga tidak perlu mencurigai setiap praktik spiritual untuk menyadari bahwa manusia dapat membawa ego ke dalam ibadahnya.

Yang perlu ditolak adalah pemutlakan: ketika kepentingan manusia dianggap selalu lebih utama daripada nilai kehidupan lain; ketika perspektif pribadi dianggap sebagai keseluruhan kenyataan; dan ketika kesalehan dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada sesama.

Manusia tetap dapat mengelola alam, tetapi perlu mempertimbangkan keberlangsungan ekosistem. Manusia tetap dapat mempertahankan keyakinan, tetapi harus bersedia mengujinya. Manusia tetap dapat menjalankan ibadah, tetapi perlu memeriksa apakah praktik tersebut tercermin dalam perilaku dan kerendahan hati.

Dengan kata lain, kita tidak perlu menghapus diri untuk keluar dari perangkap ego. Kita perlu berhenti menganggap diri sebagai ukuran mutlak segala sesuatu.

Sikap ini menuntut kerendahan hati intelektual, tanggung jawab etis, dan kejujuran spiritual. Ketiganya bukan hal yang sama, tetapi dapat saling menguatkan dalam membentuk manusia yang lebih sadar akan keterbatasannya.

Meruntuhkan Berhala yang Tak Terlihat

Barangkali, berhala yang paling sulit dikenali bukanlah sesuatu yang berdiri di luar diri kita, melainkan sesuatu yang telah menyatu dengan cara kita memahami dunia dan menilai diri sendiri.

Ia dapat bersembunyi dalam teori yang tidak lagi bersedia diuji, kepentingan yang dianggap selalu paling utama, atau kesalehan yang diam-diam menjadi sumber kebanggaan.

Karena itu, kritik terhadap antroposentrisme tidak cukup berhenti pada hubungan manusia dengan alam. Kita juga perlu memeriksa bagaimana manusia menempatkan dirinya dalam proses memahami kenyataan. Namun, perlu diingat bahwa pemusatan perspektif, egoisme individual, dan keakuan spiritual bukanlah konsep yang identik. Hubungan di antara ketiganya harus dibangun melalui refleksi yang jernih, bukan sekadar disamakan melalui metafora.

Pada akhirnya, persoalan ini mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita benar-benar sedang mencari kebenaran, atau hanya ingin mempertahankan keyakinan sendiri? Apakah kita sedang berusaha memahami kehidupan, atau hanya menghitung segala sesuatu berdasarkan manfaatnya bagi manusia? Apakah kita sedang mendekat kepada Tuhan, atau masih sibuk membangun citra diri sebagai orang yang dekat dengan-Nya?

Apalah artinya berpikir jika kita hanya menggunakan akal untuk membenarkan diri? Apalah artinya berdzikir jika ego masih kita pertahankan sebagai pusat pengakuan?

Jangan sampai kita sibuk mencari kesalahan dalam pikiran orang lain, tetapi tidak bersedia memeriksa keyakinan sendiri. Jangan sampai kita mengatasnamakan kepentingan manusia sambil mengabaikan kehidupan yang menopangnya. Jangan sampai kita menyebut nama Tuhan, tetapi menggunakan kesalehan untuk meninggikan diri.

Sebab, persoalannya bukan karena manusia berpikir, memiliki kepentingan, atau beribadah. Persoalannya muncul ketika manusia memutlakkan dirinya: ketika perspektif dianggap sebagai keseluruhan kenyataan, kepentingan dianggap sebagai satu-satunya ukuran nilai, dan kesalehan dijadikan pembenaran bagi ego.

Mungkin, salah satu langkah menuju kebijaksanaan adalah menyadari bahwa dunia tidak sepenuhnya tunduk pada kehendak kita, kebenaran tidak selalu sesuai dengan keyakinan kita, dan perjalanan spiritual tidak semestinya berakhir pada kekaguman terhadap diri sendiri.

Berpikir menuntut keberanian untuk mengoreksi pikiran. Berdzikir menuntut kejujuran untuk memeriksa keakuan. Dan hidup menuntut kesediaan untuk mengakui bahwa manusia bukan satu-satunya ukuran bagi nilai seluruh kehidupan.

Jangan hanya bertanya apakah kita telah menemukan kebenaran. Bertanyalah juga apakah kita telah berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pemilik tunggalnya.

Penulis: Mohamad Romli
Jurnalis, penikmat teks filsafat dan tasawuf. (*)

Tinggalkan Balasan