AI Ubah Dunia Kerja, Bedah Buku 21 Lessons Dorong Generasi Muda Terus Belajar

Bedah buku 21 Lessons for the 21st Century mengajak warga Cengkok memahami pentingnya kemampuan belajar dan beradaptasi di era AI.
Foto bersama usai kegiatan bedah buku 21 Lessons for the 21st Century yang digelar TBM Cengkok Cerdas Mandiri bersama IPPC di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan diikuti tokoh masyarakat, mahasiswa, guru, pelajar, dan pemuda untuk membahas literasi, pendidikan, serta kesiapan menghadapi perkembangan AI. (Foto: Ist)

Tangerang, Semartara.News — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Di tengah perubahan tersebut, generasi muda didorong untuk tidak berhenti belajar agar mampu beradaptasi dengan dunia kerja yang terus bergerak.

Pesan itu mengemuka dalam bedah buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari yang digelar Taman Baca Masyarakat (TBM) bersama Ikatan Pemuda Pemudi Cengkok (IPPC), Sabtu malam, 19 September 2026.

Kegiatan berlangsung di Lapangan IPPC, Cengkok, Sentul, Balaraja, Tangerang, dan diikuti mahasiswa, guru, pelajar, pemuda, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Pembedah buku, Ade Irawan, mengatakan perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat generasi muda tidak cukup hanya menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan saat ini.

Menurut mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) tersebut, kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat atau lifelong learning menjadi semakin penting karena jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat dapat berubah seiring perkembangan teknologi.

“Pendidikan di masa depan bukan tentang mempersiapkan anak menghadapi dunia yang kita kenal, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum kita ketahui.”

AI dan Perubahan Dunia Kerja

Dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari membahas sejumlah tantangan yang dihadapi manusia pada abad ke-21, termasuk perkembangan teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan.

AI dan otomatisasi berpotensi mengambil alih sebagian tugas yang sebelumnya dilakukan manusia. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan yang hilang, tetapi juga dengan munculnya jenis pekerjaan dan keterampilan baru.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika tuntutan dunia kerja berubah.

Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, memahami informasi, berkomunikasi, dan terus memperbarui pengetahuan menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Tantangan lainnya adalah banjir informasi. Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan mudah. Namun, kemampuan mendapatkan informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami persoalan.

Manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi, membedakan fakta dari informasi yang menyesatkan, memeriksa konteks, dan menghubungkan berbagai informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Pendidikan Tak Cukup Mengajarkan Pengetahuan Hari Ini

Perubahan teknologi juga menuntut dunia pendidikan untuk melihat kembali cara mempersiapkan generasi muda.

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan yang dianggap penting pada saat ini. Peserta didik juga perlu dibekali kemampuan untuk belajar kembali ketika pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat berubah.

Ade mengatakan, semakin cepat perubahan berlangsung, semakin penting seseorang memiliki fleksibilitas mental dan kemampuan beradaptasi.

“Semakin cepat perubahan terjadi, semakin penting manusia memiliki kemampuan untuk terus belajar (lifelong learning), memiliki fleksibilitas mental, mampu beradaptasi, dan siap memulai kembali ketika keadaan berubah,” ujarnya.

Menurutnya, generasi muda akan memasuki dunia yang belum tentu sama dengan dunia yang dikenal generasi sebelumnya.

Pekerjaan yang saat ini dianggap penting dapat berubah. Teknologi baru dapat melahirkan profesi baru, sementara sejumlah pekerjaan lama dapat mengalami perubahan bentuk.

Karena itu, kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi salah satu bekal untuk menghadapi ketidakpastian tersebut.

Bedah Buku Jadi Ruang Literasi

Kegiatan bedah buku dipandu Alin Febrian, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua IPPC Ilham Roza, Ketua RT Moch. Sidik, tokoh agama Ubaidilah MD, tokoh pendidikan Saripudin Zuhri, serta mahasiswa, guru, pelajar dan pemuda Sentul, Balaraja.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin dua mingguan yang digelar untuk menumbuhkan minat literasi di Tangerang.

TBM Cengkok Cerdas Mandiri bersama IPPC menjadikan forum tersebut sebagai ruang bertemu dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk perkembangan teknologi dan masa depan pendidikan.

Di tengah perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI, generasi muda tidak hanya dituntut menguasai teknologi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan memahami perubahan yang terjadi di sekitarnya. (*)

Tinggalkan Balasan