Kabupaten Tangerang Darurat Penyebaran HIV/AIDS pada Usia Muda

Tangerang, Semartara.News – Penyebaran HIV/AIDS di kalangan usia muda di Kabupaten Tangerang menjadi perhatian serius. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tangerang menunjukkan kasus HIV/AIDS telah ditemukan di seluruh kecamatan dengan kelompok usia produktif, termasuk remaja, masih menjadi kelompok paling rentan. Kondisi tersebut mendorong KPA menggandeng Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri dan SMK Negeri se-Kabupaten Tangerang melalui Workshop Upaya Penanggulangan HIV/AIDS dalam Dunia Pendidikan yang digelar di Auditorium Universitas Esa Unggul Kampus Tangerang, Kecamatan Panongan, Senin (30/6/2026).

Peningkatan penyebaran HIV/AIDS yang tidak lagi terpusat di wilayah tertentu menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Berdasarkan data pemutakhiran KPA Kabupaten Tangerang hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 6.156 kasus, terdiri atas 4.734 kasus HIV dan 1.422 kasus AIDS.

Data tersebut juga menunjukkan kelompok usia produktif 15–64 tahun masih mendominasi jumlah kasus. Melihat tren tersebut, KPA Kabupaten Tangerang menempatkan remaja berusia 10–24 tahun sebagai kelompok prioritas dalam upaya pencegahan melalui penguatan edukasi sejak di lingkungan sekolah.

Guru BK dinilai memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dan menjadi pendamping dalam pembentukan karakter serta perilaku remaja. Melalui workshop ini, para guru dibekali kemampuan mengenali perilaku berisiko sejak dini sekaligus menyampaikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai HIV/AIDS dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Selain itu, mereka juga didorong untuk menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif serta bebas dari stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).

Sekretaris KPA Kabupaten Tangerang, Efi Indarti, S.KM., M.Kes., mengatakan penyebaran HIV/AIDS yang kini telah merata di seluruh kecamatan membutuhkan langkah pencegahan yang lebih sistematis dengan melibatkan seluruh sektor, terutama dunia pendidikan.

“Dunia pendidikan tidak boleh menutup mata. Guru BK adalah benteng psikologis sekaligus edukator utama siswa di sekolah. Kita tidak hanya berbicara tentang menekan angka kasus baru, tetapi juga membangun lingkungan sekolah yang inklusif, aman, dan bebas dari stigma terhadap mereka yang terdampak HIV,” ujar Efi.

Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Wilayah Kabupaten Tangerang, Ahmad Suhaeri, S.Pd., M.Si., menambahkan sekolah memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan perilaku remaja di tengah perkembangan teknologi, informasi, dan pengaruh budaya yang semakin kompleks.

“Saat ini kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi, informasi, dan budaya yang memengaruhi perilaku remaja. Karena itu, saya berharap setelah kegiatan ini para Guru BK dapat memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam menangani peserta didik yang menunjukkan perilaku berisiko maupun apabila ditemukan siswa yang hidup dengan HIV. Dengan demikian, sekolah memiliki pedoman yang jelas sekaligus mampu memberikan perlindungan terbaik bagi anak-anak kita,” kata Ahmad.

Workshop tersebut diikuti oleh 40 Guru BK yang mewakili 33 SMA Negeri dan 7 SMK Negeri di Kabupaten Tangerang. Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang memberikan materi dari perspektif kesehatan masyarakat dan psikologi.

Melalui kegiatan tersebut, KPA Kabupaten Tangerang tidak hanya berupaya meningkatkan kapasitas Guru BK dalam pencegahan HIV/AIDS, tetapi juga mendorong lahirnya komitmen bersama untuk mengintegrasikan edukasi pencegahan HIV/AIDS ke dalam program sekolah secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan menjadi fondasi penguatan perlindungan generasi muda Kabupaten Tangerang dari risiko penularan HIV/AIDS. (*)

Tinggalkan Balasan