UMN Perkenalkan U-Tapis, Teknologi AI Pendukung Penyuntingan Bahasa Jurnalistik

UMN memperkenalkan U-Tapis, teknologi AI yang mendukung penyuntingan dan koreksi bahasa dalam naskah jurnalistik.
Peluncuran buku Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Rabu (30/9/2026). Buku tersebut membahas pengembangan U-Tapis sebagai teknologi AI pendukung penyuntingan bahasa jurnalistik. (Foto: Ist)

Tangerang, Semartara.News — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) memperkenalkan U-Tapis, teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan untuk mendukung proses penyuntingan bahasa jurnalistik. Aplikasi ini dirancang untuk membantu mendeteksi dan mengoreksi kesalahan berbahasa sehingga jurnalis dan editor dapat meningkatkan ketelitian naskah sebelum dipublikasikan.

U-Tapis menjadi bagian dari buku Sunggi Bahasa: Bahasa Indonesia Jurnalistik Berbasis U-Tapis, Aplikasi Akal Imitasi Penapis Kesalahan Berbahasa, karya Dr. Niknik Mediyawati, M.Hum., Samiaji Bintang Nusantara, S.T., M.I.Kom., Marlinda Vasty Overbeek, S.Kom., M.Kom., Rudi Sutomo, S.Kom., M.Si., M.Kom., dan Moeljono Widjaja, B.Sc., M.Sc., Ph.D.

Buku tersebut diperkenalkan dalam kegiatan From Manuscript to Bookshelf: Book Launch & Dialogue on the Art of Writing di Ruang Borneo, P.K. Ojong–Jakob Oetama Tower Lantai 20, UMN, Rabu (30/9/2026).

U-Tapis Dikembangkan untuk Penyuntingan Bahasa

Marlinda Vasty Overbeek menjelaskan, U-Tapis dikembangkan untuk mendeteksi sekaligus membantu mengoreksi kesalahan berbahasa. Aplikasi tersebut memanfaatkan sejumlah pendekatan kecerdasan buatan, termasuk machine learning dan deep learning.

Menurut Vasty, tim telah mengembangkan sekitar 11 modul untuk menangani berbagai persoalan kebahasaan.

Konsep “tapis” menggambarkan proses penyaringan bahasa. Sistem bekerja dengan membangun aturan-aturan kebahasaan yang kemudian diterjemahkan ke dalam model matematis dan algoritmik.

Dengan pendekatan tersebut, U-Tapis diarahkan untuk mengenali bentuk bahasa, menemukan bagian yang berpotensi salah, kemudian memberikan koreksi berdasarkan kaidah yang telah dibangun.

Membantu Jurnalis dan Editor

Samiaji Bintang Nusantara menegaskan bahwa U-Tapis tidak dimaksudkan untuk menggantikan jurnalis maupun editor.

Menurutnya, kesalahan bahasa dalam produk jurnalistik dapat terjadi karena berbagai faktor. Jurnalis bekerja dalam situasi yang menuntut kecepatan, menghadapi tenggat waktu, serta harus segera menyajikan informasi kepada publik.

“Kesalahan-kesalahan ini pada dasarnya tidak sepenuhnya berdasarkan kesengajaan,” ujarnya.

Karena itu, U-Tapis ditempatkan sebagai alat bantu yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketelitian bahasa sebelum berita dipublikasikan.

Teknologi tersebut diharapkan menjadi perangkat tambahan bagi pekerja media, sementara keputusan editorial dan tanggung jawab terhadap isi berita tetap berada pada manusia.

Bahasa Indonesia Menjadi Fondasi

Pengembangan U-Tapis tidak berdiri sendiri. Teknologi tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam buku Sunggi Bahasa, yang mempertemukan bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi.

Dr. Niknik Mediyawati menjelaskan, istilah “Sunggi” dipilih sebagai simbol menjunjung sesuatu di atas kepala. Dalam konteks buku tersebut, Sunggi Bahasa dimaknai sebagai upaya menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus bagian dari kecintaan terhadap Indonesia.

“Dengan Sunggi Bahasa ini, kita sebagai akademisi mampu menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” ujar Niknik.

Menurut Niknik, kata “sunggi” merupakan usulan seorang mahasiswa UMN bernama Anissa yang memberikan gagasan tersebut sebelum meninggal dunia beberapa hari menjelang kegiatan peluncuran buku.

Memadukan Bahasa, Jurnalistik, dan Teknologi

Rudi Sutomo mengatakan Sunggi Bahasa tidak dapat ditempatkan hanya sebagai buku tata bahasa ataupun buku teknologi informasi.

Buku tersebut dibangun dari pertemuan tiga bidang, yakni bahasa Indonesia, jurnalistik, dan teknologi.

“Buku ini menggunakan kaidah bahasa sebagai fondasi, tetapi bukan hanya buku tentang tata bahasa. Buku ini juga membahas bahasa dalam praktik jurnalistik dan bagaimana teknologi yang digunakan dapat membantu mendeteksi kesalahan bahasa,” katanya.

Karena itu, pembahasan buku mencakup kaidah bahasa Indonesia, penerapannya dalam jurnalistik, serta teknologi yang digunakan untuk membantu proses penyuntingan.

AI Tidak Menggantikan Rasa dalam Jurnalistik

Dalam sesi diskusi, jurnalis Tangerang Mohamad Romli menyoroti perbedaan antara bahasa yang benar secara kaidah dengan bahasa yang memiliki karakter manusiawi.

Menurutnya, produk jurnalistik tidak hanya menyampaikan informasi. Dalam sejumlah bentuk tulisan, terutama narasi dan feature, bahasa juga digunakan untuk membangun kedekatan emosional, menyentuh pembaca, dan mendorong kesadaran.

Bintang menegaskan bahwa U-Tapis tidak dimaksudkan untuk menggantikan kreativitas manusia.

Pengembangan U-Tapis justru diarahkan untuk memperkuat kekhasan bahasa Indonesia dengan mempertimbangkan kekayaan kebahasaan seperti peribahasa, pantun, idiom, dan unsur bahasa daerah.

Dengan demikian, teknologi tersebut tidak hanya mengikuti pola bahasa dari sistem AI global, tetapi berupaya membangun perangkat yang lebih dekat dengan karakter bahasa Indonesia.

Data dan Anotasi Manusia

Pengembangan U-Tapis membutuhkan data sebagai bahan untuk membangun pola kebahasaan. Tim menggunakan sekitar 10 ribu artikel mentah sebagai salah satu sumber data dalam pengembangan sistem. Data tersebut antara lain diperoleh melalui dukungan Tribunnews.

Data kemudian diproses untuk menemukan pola bahasa yang dibutuhkan dalam pengembangan berbagai modul.

Anotator manusia juga memiliki peran penting dalam memberikan pelabelan terhadap data berdasarkan kaidah kebahasaan. Pelabelan tersebut menjadi dasar bagi sistem untuk mempelajari bentuk-bentuk bahasa yang benar dan salah.

Proses koreksi dilakukan melalui rangkaian atau pipeline, mulai dari pendeteksian, pengolahan aturan kebahasaan, hingga koreksi.

Teknologi berbasis transformer juga digunakan pada tahap tertentu untuk membantu proses pemodelan bahasa.

U-Tapis Masih Dikembangkan

U-Tapis saat ini belum sepenuhnya dibuka untuk publik. Aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian.

Sejumlah algoritma yang dikembangkan juga tengah diproses dalam pengajuan kekayaan intelektual atau paten.

Untuk sementara, U-Tapis dapat digunakan secara terbatas di lingkungan UMN. Pengembangan lebih lanjut dilakukan melalui penelitian, termasuk dengan dukungan BRIN.

Tim berharap aplikasi tersebut dapat terus dikembangkan hingga nantinya dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Teknologi sebagai Pendukung, Bukan Pengganti Manusia

Moeljono Widjaja melihat perkembangan AI sebagai peluang yang perlu disikapi secara kritis.

Menurutnya, AI dapat digunakan untuk membantu manusia memahami persoalan dan menemukan solusi, tetapi tidak semestinya membuat manusia berhenti belajar atau menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Karena itu, Sunggi Bahasa menempatkan teknologi sebagai bagian dari ekosistem kerja yang melibatkan bahasa, jurnalistik, dan kemampuan manusia.

Niknik menyebut kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan utama buku tersebut.

Keilmuan bahasa Indonesia berkolaborasi dengan jurnalistik, sistem informasi, dan teknik informatika untuk menjawab persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dari satu disiplin.

“Keilmuan akan menemukan sesuatu yang bermakna ketika mampu berkolaborasi dengan ilmu yang lain,” tuturnya.

Melalui U-Tapis, UMN mengembangkan teknologi yang dapat mendukung proses penyuntingan bahasa jurnalistik. Sementara konteks, kreativitas, keputusan editorial, dan tanggung jawab terhadap publik tetap menjadi bagian dari peran manusia. (*)

Tinggalkan Balasan