Dari Bandung hingga Riau, Sayembara Batik Tangsel 2026 Tarik Peserta dari Berbagai Daerah

Sayembara Batik Tangsel 2026 diikuti peserta dari berbagai daerah, mulai Bandung, Cianjur, Madiun, Jombang hingga Riau.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan bersama jajaran berfoto dengan para desainer yang berhasil melaju ke tahap grand final Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan 2026. Para finalis sebelumnya telah melalui rangkaian proses seleksi untuk menentukan desain terbaik. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News — Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026 tidak hanya menarik minat peserta dari wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya. Ajang yang digelar Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tersebut turut diikuti desainer dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah peserta tercatat berasal dari Bandung, Cianjur, Madiun, Jombang hingga Riau. Keikutsertaan peserta dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan semakin terbukanya ruang partisipasi dalam pengembangan desain batik khas Tangerang Selatan.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, keterlibatan peserta dari berbagai daerah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan sayembara. Menurutnya, ajang tersebut dapat menjadi ruang bagi para desainer untuk memperkenalkan karya sekaligus berkompetisi dalam menghasilkan desain batik terbaik.

Hal itu disampaikan Pilar dalam kegiatan Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan Tahun 2026 di Serpong, Senin (31/8/2026).

Sayembara tahun ini merupakan pelaksanaan yang kelima. Pendaftaran telah dibuka sejak 20 Juli 2026 dan ditutup pada 19 Agustus 2026.

49 Peserta Ikuti Seleksi Administrasi

Pada tahap awal, sebanyak 49 peserta mengikuti seleksi administrasi. Setelah melalui proses tersebut, 10 peserta dinyatakan terpilih untuk mengikuti tahap seleksi desain.

Para peserta yang lolos kemudian melanjutkan proses ke tahap wawancara dan presentasi yang dilaksanakan secara hybrid.

Rangkaian seleksi tersebut dilakukan untuk menentukan karya yang dinilai paling sesuai dengan kriteria Sayembara Desain Batik Khas Tangerang Selatan 2026.

Dalam proses penilaian, dewan juri mempertimbangkan sejumlah aspek pada setiap desain yang diajukan. Beberapa di antaranya meliputi konsep desain, warna, filosofi, kedalaman makna serta unsur sejarah yang terdapat dalam motif.

Penilaian melibatkan juri yang memiliki kompetensi di bidang batik dan desain, termasuk perwakilan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Pusat serta penggiat batik.

Dari seluruh proses tersebut, nantinya akan dipilih tiga desain terbaik untuk ditetapkan sebagai juara pertama, kedua, dan ketiga.

Jadi Ruang Perkenalkan Karya

Pilar menilai keterlibatan peserta dari luar daerah memperlihatkan bahwa sayembara tersebut dapat menjadi wadah yang lebih luas bagi para desainer untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Tidak hanya berorientasi pada penentuan pemenang, sayembara juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperkenalkan gagasan dan karya melalui desain batik yang mereka hasilkan.

“Ini merupakan bentuk support kami kepada para pelaku ekonomi kreatif supaya mereka memiliki ruang seluas-luasnya untuk merancang karyanya dan ditampilkan seperti itu,” kata Pilar.

Menurutnya, ruang kreatif seperti ini penting untuk terus dikembangkan agar semakin banyak pelaku ekonomi kreatif memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya dan memperluas jangkauan mereka.

Ia berharap para desainer dapat memanfaatkan pengalaman mengikuti sayembara sebagai bagian dari proses untuk mengembangkan potensi dan membangun karya yang lebih luas.

“Harapannya banyak para desainer-desainer muda, banyak pelaku ekonomi kreatif yang tumbuh di Tangerang Selatan dan di nasional bisa mengembangkan potensi yang kalian punya,” ujarnya.

Pilar juga mendorong peserta agar tidak berhenti pada tingkat lokal. Menurutnya, karya yang berkembang dari kompetisi daerah dapat menjadi pijakan untuk memasuki persaingan yang lebih luas.

“Memang dimulai dari step yang paling kecil yaitu tingkat lokal. Act locally, think globally,” ucapnya. (*)

Tinggalkan Balasan