Turap Beton hingga Bronjong Batu Kali, Ini Metode Penanganan Tebing Sungai di Tiga Lokasi Tangsel

Pilar Saga Ichsan meninjau pembangunan turap dan bronjong di tiga lokasi Tangsel yang ditargetkan rampung akhir 2026.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan meninjau langsung pembangunan turap dan bronjong di salah satu lokasi penanganan tebing sungai di Tangsel, Rabu (2/9/2026). Pembangunan menggunakan metode berbeda, mulai dari turap beton hingga bronjong batu kali, sesuai kondisi masing-masing lokasi. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News – Penanganan tebing sungai di Tangerang Selatan (Tangsel) dilakukan dengan metode konstruksi yang berbeda di setiap lokasi. Pemerintah daerah menyesuaikan jenis penanganan dengan karakteristik wilayah, kondisi tebing, serta aliran sungai di masing-masing titik.

Hal tersebut terlihat dalam pembangunan turap dan bronjong di tiga lokasi, yakni Vila Pamulang, Grand Serpong, dan Nusa Indah, yang ditinjau langsung Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan, Rabu (2/9/2026).

Pilar menjelaskan, kondisi setiap lokasi tidak sama sehingga metode konstruksi perlu disesuaikan. Penentuan metode tersebut menjadi bagian penting agar struktur yang dibangun dapat berfungsi optimal dalam memperkuat tebing sungai.

Di kawasan Vila Pamulang, misalnya, penanganan dilakukan menggunakan bronjong batu kali yang dipasang secara bertahap. Pekerjaan tersebut telah mendapatkan izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Bronjong digunakan sebagai struktur penahan yang ditempatkan di bagian tebing untuk membantu mengurangi dampak pengikisan akibat aliran air. Pemasangannya dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi lokasi pekerjaan.

Sementara di lokasi lainnya, pemerintah menggunakan metode turap beton. Struktur tersebut ditujukan untuk memperkuat tebing sekaligus mengurangi risiko longsor dan pergeseran tanah di sekitar bantaran sungai.

Perbedaan metode itu menunjukkan bahwa penanganan persoalan tebing sungai tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Kondisi lapangan menjadi pertimbangan sebelum konstruksi ditentukan dan dikerjakan.

Pilar menyebut progres pekerjaan sejauh ini masih berjalan sesuai desain yang telah ditetapkan. Salah satu pekerjaan yang ditinjau telah mencapai sekitar 30 persen.

Meski pekerjaan terus dikebut, Pilar meminta konsultan pengawas dan penyedia jasa tetap memperhatikan kualitas konstruksi. Percepatan pembangunan, kata dia, tidak boleh mengurangi kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Ia juga menekankan penggunaan material sesuai perencanaan, termasuk mutu beton, campuran agregat, tulangan, serta material konstruksi lainnya.

“Target seluruh pekerjaan dapat rampung pada akhir 2026. Pekerjaan dipercepat agar tidak terkendala ketika musim penghujan tiba, lalu terkendala sama waktu,” ujar Pilar.

Selain metode konstruksi, kebersihan area kerja juga menjadi perhatian. Pilar meminta material sisa pembangunan segera diangkut agar tidak mengganggu aliran sungai setelah pekerjaan selesai.

Menurutnya, aliran sungai harus tetap optimal, terutama ketika memasuki musim penghujan. Material yang tertinggal di sekitar bantaran berpotensi mengganggu aliran air dan menghambat penataan kawasan.

Dalam peninjauan itu, Pilar juga menemukan bangunan di sekitar bibir sungai yang berpotensi menghambat proses pembangunan. Ia meminta kecamatan dan kelurahan segera berkomunikasi dengan warga untuk mencari solusi bersama.

“Jangan sampai kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan publik. Harapannya, penataan bantaran sungai dan pembangunan turap maupun bronjong dapat berjalan tanpa hambatan sehingga selesai sesuai target dan memberikan solusi bagi warga yang terdampak longsor maupun persoalan banjir,” pungkasnya. (Idris Ibrahim)

Tinggalkan Balasan