Jakarta, Semartara.News – Ketua Majelis Alumni Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Prof. Dr. Siti Nur Azizah, S.H., M.H., mengajak perempuan Indonesia mengambil peran lebih besar dalam memperkuat ekonomi rakyat melalui koperasi, kewirausahaan, dan berbagai bentuk usaha berbasis gotong royong. Seruan tersebut disampaikan dalam pelantikan pengurus Majelis Alumni IPPNU yang dirangkaikan dengan peluncuran Gerakan Perempuan Membangun Negeri di Jakarta.
Mengusung tema “Bersama Alumni IPPNU Membangun Negeri”, kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen alumni IPPNU untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi kerakyatan, pelestarian lingkungan hidup, dan penguatan solidaritas sosial.
Dalam sambutannya, Siti Nur Azizah menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa, termasuk sebagai penggerak utama ekonomi keluarga dan ekonomi komunitas.
Menurutnya, pembangunan yang berkualitas tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari sejauh mana manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus menghadirkan keadilan, membuka kesempatan yang setara, memperkuat ekonomi rakyat, dan memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal,” ujarnya.
Ia menilai perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi rakyat karena selama ini terbukti mampu menjaga ketahanan keluarga sekaligus mengembangkan berbagai usaha produktif di tingkat komunitas.
Karena itu, perempuan perlu mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pendidikan, penguatan kapasitas, pembiayaan usaha, serta lembaga ekonomi yang sehat dan berkeadilan.
“Kita membutuhkan ekonomi yang bertumpu pada gotong royong, bukan ekonomi yang hanya memperkaya segelintir orang. Koperasi adalah jalan untuk memperkuat rakyat, memperluas kepemilikan ekonomi, melindungi masyarakat dari praktik rentenir, dan memastikan hasil pembangunan dapat dinikmati secara lebih merata,” tegasnya.
Siti Nur Azizah juga menyampaikan apresiasi kepada Farida Farichah, kader dan alumni IPPNU yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia.
Menurutnya, kehadiran Farida menjadi bukti bahwa kaderisasi IPPNU mampu melahirkan perempuan-perempuan pemimpin yang berkiprah pada posisi strategis dan berkontribusi langsung dalam pembangunan nasional.
Selain mendorong penguatan ekonomi rakyat, Siti Nur Azizah mengingatkan bahwa perempuan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan harus menjadi aktor utama perubahan sosial.
“Perempuan harus hadir sebagai pelopor pendidikan, pelopor ekonomi rakyat, pelopor lingkungan hidup, pelopor solidaritas sosial, dan pelopor persatuan bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Majelis Alumni IPPNU juga meluncurkan Gerakan Perempuan Membangun Negeri sebagai arah pengabdian organisasi dalam memperkuat peran perempuan di berbagai sektor pembangunan.
Gerakan tersebut dibangun di atas lima pilar utama, yakni Perempuan Merdeka, Perempuan Mandiri, Perempuan Visioner, Perempuan Hijau, dan Perempuan Peduli.
Pilar Perempuan Mandiri menjadi salah satu fokus utama gerakan dengan mendorong penguatan koperasi, pengembangan UMKM, kewirausahaan perempuan, serta peningkatan ketahanan ekonomi keluarga.
Sementara itu, pilar lainnya diarahkan untuk memperluas akses pendidikan dan literasi, meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan, memperkuat peran perempuan dalam pelestarian lingkungan hidup, serta menumbuhkan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Pada akhir sambutannya, Siti Nur Azizah mengajak seluruh keluarga besar Majelis Alumni IPPNU untuk bersatu dan memusatkan energi pada agenda pengabdian kepada umat dan bangsa.
“Tidak ada lagi kelompok ini atau kelompok itu. Yang ada adalah satu keluarga besar Majelis Alumni IPPNU dengan satu tujuan besar: mengabdi kepada umat, memberdayakan perempuan, memperkuat ekonomi rakyat, dan membangun Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak kerja sama, persatuan, dan semangat gotong royong untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan.
“Ketika perempuan bergerak, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kuat. Ketika masyarakat kuat, bangsa akan kuat. Dan ketika alumni IPPNU bersatu, tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan lahirnya kebaikan bagi negeri ini,” pungkasnya. (Ril)







