Wagub Banten Dimyati Natakusumah Soroti Filosofi Catur di Turnamen UIN SMH Banten

Serang, Semartara.News — Wakil Gubernur (Wagub) Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, menilai permainan catur mengajarkan pentingnya kesabaran, kehati-hatian, dan kemampuan memperhitungkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya berlaku di atas papan catur, tetapi juga relevan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut disampaikan Dimyati saat membuka Turnamen Catur Piala Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten antarpelajar tingkat SLTA/sederajat se-Provinsi Banten di Multifunction Hall Kampus 2 UIN SMH Banten, Kota Serang, Kamis (15/10/2026).

Dimyati menjelaskan, setiap langkah dalam permainan catur perlu diperhitungkan dengan cermat. Pemain tidak cukup hanya memikirkan langkah yang akan diambil, tetapi juga harus mempertimbangkan kemungkinan respons lawan dan dampaknya terhadap posisi berikutnya.

Prinsip tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting dalam mengambil keputusan. Langkah yang tidak dipikirkan secara matang dapat menimbulkan dampak yang merugikan, sebagaimana keputusan dalam kehidupan yang berpotensi memengaruhi berbagai hal di kemudian hari.

“Dalam permainan catur, jika salah melangkah akan berdampak buruk, dan ini sama halnya dengan kehidupan. Kita harus memikirkan setiap langkah agar berkelanjutan. Catur mengajarkan kita untuk tidak mengorbankan satu sama lain, karena kita tidak bisa berjalan sendirian,” paparnya.

Kesabaran dan Strategi Menentukan Langkah

Dalam permainan catur, pemain dihadapkan pada situasi yang terus berubah. Setiap pergerakan lawan dapat memengaruhi strategi yang telah disusun sehingga pemain perlu menjaga konsentrasi dan menyesuaikan langkah berdasarkan kondisi permainan.

Kesabaran menjadi salah satu aspek penting karena keputusan yang terburu-buru dapat membuka peluang bagi lawan. Sebaliknya, pertimbangan yang matang membantu pemain membaca situasi dan menentukan langkah yang lebih tepat.

Bagi Dimyati, prinsip tersebut dapat menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak tergesa-gesa dalam menentukan pilihan. Setiap keputusan perlu disertai pertimbangan yang rasional serta pemahaman terhadap konsekuensi yang mungkin muncul.

Filosofi Bidak Pion dan Perjalanan Meraih Cita-Cita

Dimyati juga menyoroti filosofi bidak pion yang memiliki peluang berkembang menjadi buah catur lain dengan kemampuan lebih kuat apabila berhasil mencapai sisi seberang papan.

Menurutnya, pergerakan pion menggambarkan bahwa pencapaian membutuhkan proses, strategi, dan dukungan. Sesuatu yang pada awalnya memiliki kemampuan terbatas tetap berpeluang berkembang apabila diarahkan dengan langkah yang tepat.

“Ini sama seperti generasi muda yang membutuhkan mentor, pendamping, dan pelindung agar mereka dapat mencapai cita-cita,” tambahnya.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya proses dalam pengembangan diri. Generasi muda perlu terus belajar, memanfaatkan kesempatan, dan mempertimbangkan setiap pilihan agar dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Turnamen Catur Diikuti 54 Pelajar

Pesan tentang filosofi catur tersebut disampaikan dalam Turnamen Catur Piala Rektor UIN SMH Banten yang diikuti 54 pelajar tingkat SLTA/sederajat dari berbagai wilayah di Provinsi Banten.

Kegiatan yang digelar untuk memeriahkan Dies Natalis ke-64 UIN SMH Banten itu menjadi ajang bagi para pelajar untuk mengasah kemampuan bermain catur sekaligus menerapkan konsentrasi, kesabaran, dan strategi selama pertandingan.

Melalui permainan catur, para peserta berhadapan dengan situasi yang menuntut ketelitian dalam membaca posisi dan kecermatan menentukan langkah. Pengalaman tersebut sejalan dengan pesan Dimyati mengenai pentingnya mempertimbangkan setiap keputusan sebelum bertindak. (*)

Tinggalkan Balasan