Hardiknas 2026: Pendidikan di Cirebon dan Kuningan Meningkat, Pemerataan Masih Jadi Tantangan

Hardiknas 2026 jadi refleksi pendidikan Cirebon dan Kuningan yang meningkat, namun pemerataan mutu sekolah masih tantangan.
Nurohmat, Pengawas SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Provinsi Jawa Barat. (Foto: Ist)

Cirebon, Semartara.News – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum reflektif bagi perkembangan pendidikan di wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Kuningan. Secara umum, kualitas pendidikan di kawasan ini dinilai terus menunjukkan tren positif, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan strategis.

Pengawas SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Jawa Barat, Nurohmat, mengungkapkan bahwa hasil supervisi memperlihatkan adanya peningkatan pada jenjang SMA/sederajat. Angka Partisipasi Sekolah (APS) tercatat mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, menandakan semakin banyak siswa yang mengakses pendidikan. Namun demikian, Angka Partisipasi Murni (APM) masih perlu didorong agar lebih optimal.

“Transformasi digital di sekolah sudah berjalan cukup masif. Namun, masih ada tantangan berupa disparitas mutu antar satuan pendidikan, terutama antara sekolah favorit dan non-favorit dalam aspek literasi dan numerasi,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Ia menjelaskan, terdapat tiga isu utama yang perlu mendapat perhatian di tingkat SMA. Pertama, distribusi guru yang belum merata. Kedua, implementasi pembelajaran mendalam dalam Kurikulum Merdeka yang masih perlu penguatan. Ketiga, inovasi dalam penguatan karakter berbasis nilai Pancawaluya yang belum maksimal.

Lebih lanjut, Nurohmat menegaskan bahwa Hardiknas seharusnya tidak dimaknai sekadar seremoni tahunan. Momentum ini perlu dijadikan ruang kontemplasi untuk membangun kembali semangat pendidikan yang benar-benar memerdekakan peserta didik.

“Hardiknas bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan momentum refleksi dan rekonstruksi pendidikan. Ini juga menjadi penegasan komitmen bersama untuk menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu dan inklusif,” tegasnya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan, di antaranya pendampingan berbasis data melalui Rapor Pendidikan, penguatan karakter Pancawaluya, akselerasi digitalisasi pembelajaran, serta peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan.

Ke depan, Nurohmat berharap APM siswa SMA di wilayah Cirebon dan Kuningan dapat terus meningkat, seiring dengan upaya pemerataan kualitas antar sekolah.

“Harapannya, lulusan SMA tidak hanya memenuhi standar kompetensi, tetapi juga memiliki kecakapan unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan era disrupsi digital serta tuntutan abad ke-21,” pungkasnya. (Hijar/Red)

Tinggalkan Balasan