Berdiri Sejak 2007, Usaha Jahit Ciput di Plumbon Cirebon Tembus 100 Kodi per Minggu, Ini Peluang dan Tantangannya

Usaha jahit ciput milik Ade Hermawan di Plumbon Cirebon mampu memproduksi hingga 100 kodi per minggu sejak dirintis pada 2007.
Pemilik usaha jahit ciput, Ade Hermawan (kiri), bersama penulis artikel, Etin Herlina (kanan), berpose di lokasi usaha konveksi rumahan di Desa Bode Lor, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. (Foto: Dok. Etin Herlina)

Ekonomi, Semartara.News — Usaha jahit ciput atau dalaman hijab milik Ade Hermawan di Desa Bode Lor, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, mampu bertahan hampir dua dekade sejak dirintis pada 2007. Usaha konveksi rumahan tersebut kini menerima pesanan rata-rata mencapai 100 kodi setiap pekan.

Berlokasi di Blok Kedemangan Wetan, Desa Bode Lor, RT 14 RW 04, usaha ini memproduksi berbagai jenis ciput dengan model, warna, dan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna hijab.

Selama perjalanan usahanya, Ade mengembangkan sekitar 18 model ciput. Beberapa di antaranya ciput anti geser, basic tali, aram polos, ninja Malay, ninja tali, ciput cemol, ciput pet, pando, hingga bandana.

Bahan utama yang digunakan adalah PS Spandek. Proses produksinya memanfaatkan mesin jahit dan mesin obras untuk menghasilkan produk yang siap dipasarkan.

Dalam menjalankan kegiatan produksi, Ade dibantu sekitar tujuh penjahit dengan sistem kerja fleksibel atau tidak tetap, serta tiga tenaga pengemasan. Keberadaan usaha tersebut sekaligus membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Pasarkan Produk Secara Grosir dan Online

Untuk menjangkau konsumen, Ade mengandalkan penjualan grosir kepada distributor, terutama melalui jaringan perdagangan di Pasar Tegal Gubug, Kabupaten Cirebon.

Selain pemasaran konvensional, produk ciput juga dipasarkan melalui platform digital. Konsumen dapat menemukan produk tersebut melalui toko online Conida Collection di Tokopedia dan TikTok Shop, serta pemesanan langsung melalui WhatsApp.

Berdasarkan keterangan pemilik, pesanan yang diterima rata-rata mencapai 100 kodi per minggu. Jika permintaan berlangsung stabil, jumlah tersebut setara dengan 400 kodi per bulan atau 4.800 kodi dalam setahun.

Dengan asumsi satu kodi berisi 20 buah, volume pesanan diperkirakan mencapai 96.000 buah ciput per tahun. Angka ini merupakan estimasi berdasarkan rata-rata pesanan mingguan, bukan akumulasi penjualan yang telah diverifikasi melalui pencatatan historis.

Permintaan produk juga mengalami perubahan mengikuti musim. Ade menyebut pesanan biasanya meningkat menjelang Ramadan hingga setelah Lebaran, sementara pada bulan-bulan di luar periode tersebut permintaan cenderung menurun.

Dari sisi kebutuhan produksi, pemilik memperkirakan modal sekitar Rp20 juta untuk pengadaan 10 rol kain dengan 10 pilihan warna. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting agar pesanan dapat dipenuhi sesuai jadwal.

Proyeksi Permintaan hingga 2029

Potensi pengembangan usaha tersebut turut dianalisis dalam kajian kelayakan bisnis yang disusun penulis.

Dalam kajian tersebut, tahun 2026 digunakan sebagai tahun dasar dengan asumsi permintaan sebanyak 4.800 kodi per tahun. Proyeksi kemudian disusun menggunakan tiga skenario pertumbuhan hingga 2029.

Pada skenario optimistis, dengan asumsi pertumbuhan permintaan 15 persen per tahun, jumlah permintaan diproyeksikan mencapai sekitar 7.300 kodi pada 2029.

Sementara itu, skenario moderat dengan pertumbuhan 8 persen per tahun memperkirakan permintaan mencapai sekitar 6.047 kodi. Adapun skenario pesimistis dengan asumsi penurunan 5 persen per tahun memperkirakan permintaan turun menjadi sekitar 4.115 kodi.

Dari ketiga skenario tersebut, pertumbuhan moderat dinilai lebih realistis untuk dijadikan dasar perencanaan usaha karena memperhitungkan peluang peningkatan permintaan secara bertahap.

Meski demikian, seluruh angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan asumsi pertumbuhan, bukan data penjualan historis. Realisasi permintaan tetap bergantung pada kondisi pasar, kemampuan produksi, persaingan, dan strategi pemasaran.

Ketersediaan Bahan Baku Jadi Tantangan

Di balik peluang pasar yang masih terbuka, usaha konveksi ciput milik Ade Hermawan juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga keberlangsungan produksi.

Salah satu kendala utama adalah ketersediaan bahan baku. Ketergantungan terhadap pasokan kain dari pabrik maupun benang untuk kebutuhan penjahit berpotensi menghambat proses produksi apabila terjadi keterlambatan pasokan.

Keterbatasan bahan baku dapat berdampak pada waktu penyelesaian pesanan, terutama ketika permintaan meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran.

Selain itu, perubahan tren fashion muslim serta berkurangnya pesanan dari distributor juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi stabilitas permintaan.

Ketika pesanan meningkat, kapasitas produksi perlu disesuaikan melalui kesiapan bahan baku, tenaga penjahit, mesin produksi, hingga tenaga pengemasan. Tanpa perencanaan yang baik, peningkatan permintaan justru berpotensi menimbulkan keterlambatan pengiriman.

Pencatatan Keuangan dan Data Pelanggan Perlu Diperkuat

Kajian kelayakan bisnis tersebut juga mengidentifikasi sejumlah aspek administrasi dan pengelolaan usaha yang masih perlu diperbaiki.

Beberapa data penting yang belum tersedia secara lengkap meliputi jumlah pelanggan aktif, tingkat konversi pelanggan, frekuensi pembelian, harga jual per kodi, rincian biaya produksi, serta catatan penjualan historis.

Keterbatasan data tersebut membuat perhitungan omzet, biaya operasional, dan keuntungan usaha belum dapat dilakukan secara akurat.

Atas dasar temuan tersebut, hasil kajian memberikan status REVISE atau perlu perbaikan. Status ini menunjukkan bahwa usaha memiliki peluang untuk berkembang dan berpotensi terus berjalan, tetapi membutuhkan pembenahan pada sejumlah aspek sebelum melakukan ekspansi.

Perbaikan yang direkomendasikan mencakup pencatatan penjualan secara berkala, pendataan pelanggan, penyusunan rincian biaya produksi, peningkatan pelayanan, serta penguatan strategi pemasaran digital.

Keberadaan usaha jahit ciput Ade Hermawan menjadi gambaran bagaimana UMKM rumahan di Kabupaten Cirebon mampu bertahan di tengah perubahan kebutuhan pasar. Dengan pengalaman usaha sejak 2007, jaringan distribusi grosir, serta pemanfaatan platform digital, peluang pengembangan usaha masih terbuka.

Namun, keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pesanan. Pengelolaan produksi, kepastian pasokan bahan baku, dan pencatatan keuangan yang tertib juga menjadi fondasi penting agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Penulis: Etin Herlina, mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. (Red)

Tinggalkan Balasan