Pemkab Tangerang Dorong Modernisasi Pertanian untuk Jaga Produksi Pangan di Tengah Ekspansi Industri

Pemkab Tangerang mendorong modernisasi pertanian untuk menjaga produksi pangan dan produktivitas lahan di tengah ekspansi industri.
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid meninjau lahan persawahan yang akan dipanen di Desa Tegal Kunir Kidul, Kecamatan Mauk, sembari berdiskusi dengan petani di atas traktor, Kamis (15/10/2026). Pemanfaatan teknologi dan dukungan sarana pertanian menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas lahan serta keberlanjutan produksi pangan di tengah perkembangan kawasan permukiman dan industri. (Foto: Ist)

Tangerang, Semartara.News — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang mendorong modernisasi sektor pertanian untuk menjaga produktivitas lahan dan keberlanjutan produksi pangan di tengah perkembangan kawasan permukiman dan industri. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pertanian, penyediaan sarana produksi, serta percepatan masa tanam setelah panen.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, saat menghadiri kegiatan panen padi sawah sekaligus penyerahan bantuan sarana pertanian di Desa Tegal Kunir Kidul, Kecamatan Mauk, Kamis (15/10/2026).

Menurut Maesyal, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan pangan daerah. Karena itu, produktivitas lahan perlu dipertahankan melalui pengelolaan pertanian yang lebih efisien, dukungan teknologi, dan kolaborasi berbagai pihak.

“Dalam rangkaian HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, kita mengusung semangat ‘Mari Kita Terus Bergerak, Semakin Berdampak’. Semangat ini harus kita wujudkan melalui pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan,” ujar Maesyal.

Teknologi Pertanian Pangkas Waktu Panen

Salah satu upaya modernisasi yang didorong adalah pemanfaatan alat dan mesin pertanian untuk meningkatkan efisiensi kerja petani. Maesyal menjelaskan, penggunaan mesin pemanen padi atau combine harvester dapat memangkas waktu panen secara signifikan dibandingkan metode manual.

Menurutnya, panen satu hektare sawah secara manual membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Sementara itu, penggunaan mesin pemanen dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam waktu sekitar dua jam.

Efisiensi waktu ini dinilai penting untuk membantu petani mengelola kegiatan panen dan mempersiapkan lahan bagi musim tanam berikutnya. Dengan pengelolaan yang tepat, waktu kerja dapat dipersingkat sehingga proses produksi pertanian berpeluang berjalan lebih efektif.

Meski demikian, modernisasi pertanian tidak hanya bergantung pada penggunaan mesin. Ketersediaan air, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang tepat, dan pengelolaan lahan juga menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman.

Jaga Produktivitas di Tengah Perkembangan Kawasan

Hamparan sawah di wilayah Kelompok Tani Cibentek, Kecamatan Mauk, memiliki luas sekitar 275 hektare yang dikelola oleh delapan kelompok tani. Dengan varietas padi Inpari 32 dan perkiraan produktivitas 6,2 ton per hektare, lahan tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 1.705 ton gabah.

Potensi tersebut menunjukkan peran lahan pertanian dalam mendukung ketersediaan pangan di Kabupaten Tangerang. Oleh karena itu, keberadaan lahan produktif dan kesinambungan kegiatan tanam perlu mendapat perhatian di tengah perkembangan kawasan permukiman dan industri.

Maesyal mendorong petani segera menyiapkan lahan untuk penanaman kembali setelah panen. Ia menyebut kelompok tani dan petani setempat telah menyepakati batas waktu maksimal 14 hari setelah panen untuk kembali melakukan penanaman.

“Jangan terlalu lama dibiarkan setelah panen. Maksimal 14 hari ya,” tegasnya.

Percepatan masa tanam tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan produksi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang tersedia.

Bantuan Sarana Produksi Dukung Modernisasi

Untuk menunjang upaya tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan berupa dua unit traktor tipe crawler, 25 unit pompa air berukuran empat inci, benih padi varietas Inpari 32 sebanyak 1,5 ton, pestisida nabati untuk lahan seluas 500 hektare, serta alat pemotong rumput.

Bantuan itu diharapkan membantu petani mengolah lahan, memenuhi kebutuhan air, dan memelihara area pertanian. Dukungan sarana produksi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi kegiatan budi daya serta mempersiapkan musim tanam berikutnya.

Maesyal menegaskan, penguatan sektor pertanian membutuhkan sinergi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Banten, dan Pemerintah Kabupaten Tangerang, baik dalam penyediaan sarana produksi maupun modernisasi alat dan mesin pertanian.

“Jadi ini kolaborasi APBN, APBD Provinsi Banten dan APBD Kabupaten Tangerang. Membantu para petani untuk lebih lagi sejahtera. Lebih berkah lagi panen padinya supaya bisa bermanfaat bagi masyarakatnya. Termasuk di dalamnya adalah bisa dia menghasilkan pendapatan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya dilihat dari jumlah hasil panen, tetapi juga dari peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani. Karena itu, dukungan pemerintah perlu diikuti pemanfaatan bantuan secara optimal dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Cibentek, Idep Bustomi, mengapresiasi dukungan sarana pertanian yang diberikan pemerintah. Ia mengatakan, bantuan traktor, pompa air, dan benih dapat membantu petani mengatasi kendala pengolahan lahan serta keterbatasan air yang selama ini memengaruhi kegiatan tanam.

Dengan pemanfaatan teknologi, dukungan sarana produksi, dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, Pemkab Tangerang berharap produktivitas pertanian tetap terjaga sehingga sektor tersebut dapat terus berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan dan kesejahteraan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan