Sumedang, Semartara.News — Dari kawasan hulu Manglayang Timur di Kabupaten Sumedang, sebuah gagasan tentang bagaimana pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan menemukan bentuk nyatanya. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026), Pentahelix Center bersama Kelompok Tani Berdikari meluncurkan Koperasi Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT) sebagai instrumen untuk memperkuat ekonomi rakyat sekaligus menjaga kelestarian kawasan hulu.
Peluncuran SIKOMAT disertai deklarasi manifesto “7 Seruan Manglayang Timur”, sebuah dokumen yang memuat arah perjuangan bersama untuk mewujudkan kawasan hulu yang lestari, petani yang berdaulat, dan desa yang mandiri.
Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, mengatakan koperasi tersebut lahir dari kesadaran bahwa agenda konservasi tidak akan berjalan tanpa adanya kesejahteraan masyarakat yang hidup dan bergantung pada kawasan hulu.
“SIKOMAT bukan sekadar koperasi yang mencari keuntungan. Ini adalah instrumen perjuangan ekonomi-ekologis yang lahir dari kesadaran bahwa kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Tidak ada pelestarian lingkungan tanpa kesejahteraan petani,” ujar Alip.
Menurutnya, selama ini petani kerap ditempatkan hanya sebagai objek dalam berbagai program konservasi. Padahal, mereka seharusnya menjadi subjek utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari upaya menjaga lingkungan.
Karena itu, koperasi diposisikan sebagai wadah yang mampu memperkuat kelembagaan petani, membuka akses pasar yang lebih adil, sekaligus memastikan nilai tambah produk pertanian kembali ke desa.
Manifesto “7 Seruan Manglayang Timur” sendiri memuat tujuh agenda utama, yakni rekonservasi kawasan hulu, peneguhan hak kelola lahan dan hak ekonomi petani, pendidikan rakyat berbasis kawasan, penguatan petani berdikari, pembangunan pasar yang berkeadilan, pengembalian nilai tambah produk pertanian ke desa, serta menjadikan koperasi sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat.
Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat, SIKOMAT diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk membangun model pembangunan kawasan yang berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah budidaya kopi berbasis agroforestri. Sistem tersebut dinilai mampu menjaga tutupan vegetasi, melindungi sumber mata air, sekaligus memberikan pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar hutan.
“Ketika petani mandiri sejak pembibitan hingga pupuk, memiliki kepastian hak kelola lahan, dan mendapatkan harga yang adil melalui koperasi, mereka akan menjadi garda terdepan penjaga hutan. Menjaga pohon bukan lagi beban, tetapi menjadi kebutuhan ekonomi dan bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat desa,” kata Alip.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Sumedang. Dalam kegiatan Coffee Brand bersama Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, Kepala Dinas Ayuh Hidayat turut menandatangani manifesto “7 Seruan Manglayang Timur” sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan koperasi dan pemberdayaan ekonomi petani.
Dukungan serupa juga disampaikan dalam sesi Coffee Talk di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang. Kepala Bidang Pangan Iwan Gustiawan, Kepala Bidang Perkebunan Sunsun Gartini, serta Penyuluh Pertanian Imas Kurniasari turut membubuhkan tanda tangan sebagai simbol komitmen terhadap agenda konservasi dan penguatan ekonomi rakyat.
Rangkaian kegiatan ditutup melalui Coffee Retreat di kawasan perkebunan kopi Manglayang Timur pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Di tengah hamparan kebun kopi dan udara pegunungan yang dingin, para peserta berdiskusi hingga larut malam mengenai masa depan kawasan hulu, penguatan koperasi, serta strategi meningkatkan kualitas kopi rakyat.
Dari lereng Manglayang Timur, peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 tidak berhenti pada seruan moral. Ia melahirkan sebuah langkah konkret melalui hadirnya SIKOMAT, sebuah koperasi yang diharapkan menjadi jembatan antara konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga hutan tetap lestari dan petani semakin berdaya. (Ril)







