Berita  

Penggunaan Kapal Cantrang Kembali Diperbolehkan KKP

kapal cantrang
Ilustrasi Kapal Cantrang. (Foto - Mongabay)

Jakarta, Semartara.NewsKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), membuat regulasi baru terkait penggunaan Kapal Cantrang untuk nelayan. Dalam regulasi yang tertuang di peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 59 Tahun 2020, para Nelayan kembali diperbolehkan menggunakan Cantrang, asal bisa memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan KKP.

“Pengaturan alat penangkapan ikan yang sebelumnya dilarang, sekarang kami berikan relaksasi dengan pembatasan,” kata Plt Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Muhammad Zaini, dikutip dari LKBN Antara di Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Penggunaan kembali alat cantrang dengan sejumlah persyaratan tersebut, terang Zaini, agar ketentuan tentang panjang jaring, kantong, dan tali selambar sesuai dengan SNI. Dia menjelaskan, sejumlah persyaratan lainnya dalam operasionalisasi kembali Cantrang, adalah penggunaan square mesh window, agar ikan berukuran kecil yang terjaring dapat lolos. Syaratnya antara lain, memiliki desain Alat Penangkapan Ikan (API) berbentuk kerucut, menggunakan tali selembar panjang sebagai penarik jaring (biasanya terbuat dari lilitan kain pada tali), selambar dilingkarkan pada perairan dan untuk memperoleh daerah sapuan yang luas, digunakan tali selambar yang panjang, serta, penarikan jaring menggunakan gardan atau mesin penggulung tali selambar.

Kemudian, penarikan dan pengangkatan Cantrang, dilakukan dari kapal dengan posisi kapal berhenti. Kapal berbobot 10-30 GT, hanya boleh beroperasi di jarak 4-12 mil laut, sedangkan kapal di atas 30 GT, hanya boleh beroperasi dalam jarak lebih dari 12 mil laut guna menghindari konflik horizontal antarnelayan. Kapal cantrang tersebut, juga harus menerapkan mekanisme pengawasan melalui VMS dan logbook, serta, bersedia ditempatkan observer on board dengan metode sampling.

Tak sebatas itu saja, KKP juga bakal memberlakukan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang lebih besar untuk kapal yang menggunakan alat tangkap kurang ramah lingkungan. Berdasarkan data KKP, saat ini terdapat sekitar 6.800 kapal yang menggunakan cantrang. Sehingga, diperkirakan ada ratusan ribu nelayan yang bergantung dengan menggunakan alat tangkap tersebut.

“Ada sebanyak 115.000 orang yang tercatat bergantung kepada hasil tangkapan (dengan menggunakan kapal cantrang),” katanya.

Zaini menambahkan, nelayan kecil kerap menanggung biaya operasional untuk melaut, bila mereka menyewa kapal cantrang kepada pemilik kapal.

Sebelumnya, Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan, menyoroti inkonsistensi dan ketidakpastian dari aturan alat tangkap perikanan, terkait regulasi yang membolehkan penggunaan alat tangkap trawl.

Moh Abdi Suhufan menyatakan, sebelum ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, sempat mengeluarkan aturan penting, yaitu, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 59/2020, tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Alat Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia Dan Laut Lepas.

Aturan ini membolehkan penggunaan alat tangkap yang sebelumnya dilarang oleh PERMEN KP No. 71/2016, tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Alat Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, dan Laut Lepas. PERMEN KP No. 59/2020 sekaligus menganulir PERMEN KP No. 2/2015, tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hela (trawl) dan Pukat Tarik (seine nets).

“Menteri Edhy lupa, 40 tahun lalu Presiden telah mengeluarkan Keputusan Presiden No.39/1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl. Dalam PERMEN KP No. 59/2020, alat tangkap yang kembali diizinkan beroperasi, adalah, cantrang, dogol, pukat ikan dan pukat hela dasar udang,” paparnya.

Di lain pihak, Peneliti DFW Indonesia, Muh Arifuddin menyatakan, transisi dan perubahan ini berpotensi menimbulkan ruang transaksi di tengah laut. Sehingga, berdampak kepada ekonomi biaya tinggi masih terjadi dan nelayan, serta pelaku usaha yang akan menanggung akibatnya.

Tinggalkan Balasan