Edukasi Lingkungan di HPSN 2026, Pilar Dorong Siswa Tangsel Pilah Sampah

Pilar dorong siswa Tangsel biasakan pilah sampah sejak dini lewat HPSN 2026, edukasi lingkungan dimulai dari sekolah dan rumah.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan memberikan sambutan pada peringatan HPSN 2026 di SDN Pondok Jagung 02, Serpong Utara. (Foto: Ist)

Kota Tangsel, Semartara.News – Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Tangsel, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menegaskan pentingnya menerapkan budaya memilah sampah sejak dari bangku sekolah.

Usai menghadiri acara di UPTD SDN Pondok Jagung 02, Serpong Utara, Pilar menyampaikan bahwa masalah pengelolaan sampah harus dimulai dari kesadaran individu. Ia menilai sekolah merupakan tempat yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai peduli lingkungan sejak usia dini.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena menjadi momen untuk mengedukasi anak-anak tentang hidup bersih, sehat, dan peduli terhadap lingkungan. Saat ini, Tangsel tengah menggalakkan program bank sampah dan pemilahan sampah, dan semua harus dimulai dari institusi pendidikan,” ujarnya.

Pilar juga menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan memengaruhi pola pikir yang lebih positif. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, menurutnya, sangat penting dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab.

“Jika kita peduli lingkungan, insya Allah cara berpikir kita akan semakin maju. Sampah harus diolah dengan bijak, jangan sampai menumpuk atau dibakar karena itu dapat mencemari lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Donny Herawan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangsel menyampaikan bahwa tema HPSN tahun ini adalah kolaborasi lintas sektor. Pemilihan lokasi di sekolah bertujuan agar edukasi langsung menyasar anak-anak.

“Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak agar edukasi bisa diterima langsung oleh siswa,” katanya.

Dalam acara tersebut, berbagai kegiatan digelar, mulai dari operasi semut atau aksi pungut sampah, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga simulasi pembuatan lubang biopori. Sampah organik dimanfaatkan untuk pembuatan biopori, sementara sampah anorganik dikumpulkan melalui drop box untuk dikelola melalui bank sampah.

Donny berharap, kegiatan ini dapat menanamkan kesadaran sejak dini agar siswa mampu menerapkan pola hidup bersih tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.

Sementara itu, Kepala UPTD SDN Pondok Jagung 02, Sawiah Susanti, mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah menanamkan berbagai kebiasaan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Setiap kelas memiliki jadwal piket harian agar lingkungan tetap bersih dari sampah.

“Kami membiasakan siswa menjaga kebersihan setiap hari. Setelah pulang sekolah, mereka menyisir lingkungan sekolah agar tetap bersih,” ujarnya.

Selain itu, sekolah juga mengelola sampah secara berkelanjutan, termasuk memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan ternak melalui budidaya ayam kampung yang dikelola sekolah.

“Untuk mengurangi sampah sisa makanan, kami manfaatkan sebagai pakan ternak. Sekolah memiliki hampir seratus ekor ayam kampung,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa siswa rutin memisahkan sampah organik dan anorganik serta mengikuti kegiatan bersih-bersih setiap Jumat.

“Alhamdulillah, lingkungan sekolah menjadi lebih bersih dan nyaman. Ini semua berkat kebiasaan yang dibangun bersama antara guru dan siswa,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan