Jakarta, Semartara.News — Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode Agustus 2026 menunjukkan mayoritas masyarakat menginginkan Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet. Sebanyak 63,5 persen responden menilai reshuffle perlu dilakukan, sementara 36,5 persen menyatakan sebaliknya.
Tingginya dorongan publik terhadap reshuffle sejalan dengan penilaian masyarakat terhadap kinerja sejumlah menteri yang dianggap belum memuaskan. Dalam survei tersebut, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menempati posisi teratas sebagai menteri yang dinilai berkinerja buruk dengan angka 51,8 persen, disusul Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo 48,5 persen dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni 45 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan terdapat korelasi yang kuat antara persepsi publik terhadap kinerja menteri dengan tuntutan pergantian kabinet.
“Persepsi terhadap menteri yang berkinerja buruk dengan persepsi menteri yang dianggap layak di-reshuffle, ini posisinya sama,” kata Dedi.
Menurut Dedi, tingginya angka dukungan terhadap reshuffle menjadi sinyal bahwa publik menginginkan evaluasi lebih serius terhadap kinerja para pembantu presiden.
“Yang menyatakan perlu reshuffle itu 63,5 persen. Ini tinggi sekali harapan publik menyatakan bahwa reshuffle perlu dilakukan,” ujarnya.
Pada pertanyaan mengenai menteri yang paling layak diganti, Natalius Pigai kembali berada di posisi teratas dengan 57,5 persen. Berikutnya Dody Hanggodo sebesar 51 persen dan Raja Juli Antoni 46,9 persen. Nama lain yang juga muncul adalah Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait 5,8 persen, Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono 3,5 persen, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli 1,2 persen, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 1 persen.
Dedi menilai kesamaan komposisi antara daftar menteri berkinerja buruk dan menteri yang layak di-reshuffle menunjukkan publik memiliki penilaian yang relatif konsisten terhadap kinerja kabinet.
“Ini linear. Menteri yang dinilai buruk oleh publik juga menjadi menteri yang paling banyak dipilih untuk diganti,” katanya.
Survei IPO sendiri dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar ±2,9 persen. (*)







