Survei IPO: PSI Dikenal 70,2 Persen Publik, Tapi Elektabilitas Masih 1,9 Persen

Survei IPO mencatat PSI dikenal 70,2 persen publik, tetapi elektabilitasnya masih 1,9 persen dalam simulasi partai DPR RI.
Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei periode Juli–Agustus 2026 dalam pemaparan bertajuk Evaluasi Kebijakan Publik dan Stabilitas Sosial-Politik Nasional di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Jakarta, Semartara News — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah dikenal atau setidaknya pernah dilihat logonya oleh 70,2 persen publik, tetapi tingkat elektabilitasnya masih berada di angka 1,9 persen. Temuan ini menunjukkan tingginya pengenalan terhadap PSI belum otomatis berujung pada dukungan elektoral.

Data tersebut merupakan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Dalam simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI, PSI masih berada di bawah delapan partai politik lainnya.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan elektabilitas PSI relatif stagnan dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Kondisi tersebut belum banyak berubah meski Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) belakangan aktif melakukan roadshow ke sejumlah daerah.

“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” kata Dedi saat memaparkan hasil survei IPO di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Dikenal Banyak Orang, Dipilih Sedikit

Perbedaan antara tingkat pengenalan dan elektabilitas menjadi salah satu temuan menarik dalam survei tersebut.

Sebanyak 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI. Angka itu menunjukkan keberadaan PSI sudah cukup dikenal oleh publik yang menjadi responden survei.

Namun, pengenalan tersebut belum sejalan dengan tingkat dukungan. Ketika responden diberikan simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI, hanya 1,9 persen yang memilih PSI.

Dengan demikian, tantangan PSI tidak hanya berkaitan dengan memperluas pengenalan partai. PSI juga perlu mengubah tingkat pengenalan tersebut menjadi kepercayaan dan pilihan politik.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan adanya jarak yang cukup lebar antara popularitas dan elektabilitas PSI.

Efek Roadshow Jokowi Belum Terlihat

Aktivitas Jokowi yang kembali melakukan kunjungan ke berbagai daerah juga belum terlihat memberikan perubahan berarti terhadap elektabilitas PSI dalam survei IPO.

Meski demikian, Dedi menilai peluang perubahan masih terbuka. Efek dari aktivitas politik Jokowi bisa saja belum tercermin karena rangkaian roadshow masih berlangsung ketika survei dilaksanakan.

“Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” ujar Dedi.

Artinya, hasil survei kali ini belum dapat menjadi ukuran akhir mengenai dampak aktivitas Jokowi terhadap elektabilitas PSI. Pengaruhnya masih mungkin terlihat dalam survei berikutnya apabila aktivitas tersebut berlangsung secara konsisten.

PSI Masih di Bawah Delapan Partai

Dalam simulasi elektabilitas partai politik, Gerindra berada di posisi teratas dengan 17,5 persen.

PDI Perjuangan berada di posisi kedua dengan 12,8 persen, disusul Golkar 10,4 persen dan Demokrat 8,1 persen.

Berikutnya terdapat PKB dengan 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.

PSI berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas 1,9 persen.

Dengan angka tersebut, terdapat delapan partai politik yang memiliki elektabilitas lebih tinggi dibandingkan PSI dalam simulasi IPO.

Temuan ini memperlihatkan bahwa meski PSI telah dikenal oleh sebagian besar responden, tingkat pengenalan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong partai masuk ke jajaran dengan elektabilitas lebih tinggi.

Metodologi Survei IPO

Survei IPO menggunakan metode multistage random sampling. IPO terlebih dahulu menentukan Primary Sampling Unit (PSU) pada sejumlah kelurahan atau desa, kemudian memilih RT secara acak menggunakan random Kish grid paper.

Pada setiap RT dipilih dua keluarga secara acak. Dari masing-masing keluarga kemudian dipilih satu responden yang memenuhi syarat, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.

Komposisi responden laki-laki dan perempuan ditetapkan masing-masing 50 persen.

Survei berlangsung pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen. (*)

Tinggalkan Balasan