Berita  

Jalan Megawati dan Ahli Waris Partai Marhaenis

Jalan Megawati dan Ahli Waris Partai Marhaenis
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat memberikan pengarahan pada pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah (Foto - Ekslusif)

Syamsuddin Haris, peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyatakan bahwa seperti periode 1950-an, partai-partai baru yang muncul pada era Reformasi adalah partai-partai dengan warna dan semangat ideologis yang tinggi. Partai-partai beraliran Islam, nasionalis, sosialis, dan Kristen yang muncul pada Pemilu 1955, lahir kembali menjelang pemilu 1999 dan 2004.

Selain PDI Perjuangan, partai-partai nasionalis lain adalah PNI Front Marhaenis, PNI Supeni, PNI Massa Marhaen 1927, PNI Irawan Soenario, PNI Massa Marhaen, PNI Marhaenisme, Partai Indonesia (Partindo), dan Partai Nasional Banteng Kerakyatan (PNBK). 

“Sejumlah partai berbasis massa nasionalis yang lebih kecil, juga dengan identifikasi tanda gambar kepala banteng PNI pada 1955, berharap dapat memobilisasi dukungan kalangan abangan di Jawa pada Pemilu 1999 dan 2004, tetapi pada umumnya tidak memperoleh suara signifikan secara nasional,” tulis Syamsuddin Haris dalam Partai, Pemilu, dan Parlemen Era Reformasi.

Berbeda dari kakaknya yang memimpin PDI Perjuangan, Sukmawati Sukarnoputri bersiteguh untuk bergabung di dalam Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dihidupkan kembali oleh Ny. Supeni pada 1998. Supeni adalah politikus kawakan dari PNI. Dia pernah menjadi anggota parlemen di masa pemerintahan Sukarno. Dalam Pemilu 1999, PNI yang didirikannya didaftarkan atas nama PNI Supeni, untuk membedakan dengan PNI lainnya.

Pada Pemilu 1999 PNI Supeni memperoleh 0,36 persen suara. Berdasarkan Undang-undang No. 31/2002, PNI Supeni tidak berhak mengikuti Pemilu berikutnya di tahun 2004. Maka demi lolos ke arena pertarungan Pemilu berikutnya, PNI harus mengubah nama dan mendaftar diri sebagai partai baru untuk bisa ikut Pemilu. Pada 20 Mei 2002, PNI Supeni menyelenggarakan kongres yang menghasilkan keputusan mengubah nama partai menjadi PNI Marhaenisme dan memilih Sukmawati Sukarnoputri sebagai ketua umumnya.

Jalan untuk memenangkan pertarungan pun licin dan berliku. Persoalan organisasi mulai dari pendanaan dan rekrutmen kader di dalam iklim politik elektoral jadi tantangan tersendiri. Untuk mendanai kegiatan partai, Sukmawati memilih untuk menggalang dana dari anggota. “Kami menyelenggarakan iuran dan sumbangan dari anggota, itu pun tidak banyak,” kata Sukmawati yang ditemui di kantor Yayasan Bung Karno di Gedung Proklamasi, Jakarta Pusat.

Beragam cara ditempuh untuk bisa merekrut massa sebanyak mungkin sebagai bekal persiapan menghadapi Pemilu 2004. Pada akhir 2003, Partai Indonesia (Partindo) yang dihidupkan kembali pada 2002 oleh Kemal Asmara Hadi, anak keempat Asmara Hadi pendiri Partindo, menyatakan diri untuk bergabung dengan PNI Marhaenisme di bawah Sukmawati. Waktu itu Partindo sudah memiliki cabang di 22 provinsi dan di 84 kabupaten. 

Bergabungnya Partindo ke dalam PNI Marhaenisme berkebalikan dengan peristiwa sejarah Partindo ketika berdiri pada 1957. Partindo dibentuk karena ketidakpuasan sebagian anggota PNI sekaligus beritikad untuk menjalankan gagasan Marhaenisme Sukarno secara konsisten. Namun pada 2003, kedua partai yang berinduk kepada “trah” yang sama itu kemudian bersatu lagi dengan alasan taktis menghadapi Pemilu 2004.

Namun penggabungan itu tak serta merta membawa dampak besar pada suara partai di dalam Pemilu 2004. Karena pada kenyataannya menurut Sukmawati fusi partai “tidak berjalan dengan baik dan banyak kader tidak bekerja secara maksimal.”

Menurut Sukmawati, suara pendukung PNI yang pada zaman dulu datang dari kalangan rakyat jelata dan pegawai tak bisa lagi dijadikan basis karena fusi 1973 telah mengubah banyak hubungan massa dengan PNI. Ini justru lebih menguntungkan PDI Perjuangan, sebagai partai yang meneruskan PDI hasil fusi yang jauh lebih mudah mendapatkan dukungan dari basis massa nasionalis pendukung PNI. “PNI itu seperti ada dan tiada,” kata Sukmawati.

Pada kenyataannya, dalam arena politik nasional, PDI Perjuangan yang tetap bertahan dengan segala macam klaim identitasnya: sebagai partai nasionalis, pewaris sah ajaran Bung Karno sekaligus diperkuat oleh kenyataan bahwa Megawati Sukarnoputri adalah anak biologis dari pendiri PNI itu. 

Tulisan ini dikutip dari tulisan Bonnie Triyana, dihalaman historia.id .

Tinggalkan Balasan