Surakarta, Semartara.News — Berangkat dari skena underground Solo, band pop punk HESAID kini melangkah ke ranah yang lebih luas dengan merilis EP debut bertajuk Waktu Terbaik di berbagai platform digital streaming.
HESAID yang terbentuk pada 2017 dikenal dengan karakter musik pop punk yang catchy, dipadukan lirik emosional yang dekat dengan realitas kehidupan pendengarnya. Melalui EP ini, mereka menghadirkan lima lagu yang merangkum beragam fase kehidupan, mulai dari proses bertumbuh, kisah cinta, refleksi spiritual, hingga perpisahan.
Seluruh materi dalam Waktu Terbaik ditulis oleh Rifqi Bimo (Bimo) dan Rosyid Al Anshori. Lirik-liriknya lahir dari pengamatan keduanya terhadap dinamika pemikiran dan pengalaman manusia dalam momen-momen berkesan, yang kemudian diolah menjadi karya musikal yang personal sekaligus relevan.
Vokalis sekaligus gitaris, Bimo, menegaskan bahwa judul Waktu Terbaik memiliki makna yang sangat dekat dengan perjalanan band.
“Judul ini sangat personal, karena memang ini adalah momen dari semua personel. Bisa dibilang, ini adalah waktu terbaik kami,” ujar Bimo, Rabu, 22 April 2026.
Menurutnya, benang merah dari kelima lagu dalam EP ini adalah tentang momentum—waktu yang tepat dalam kehidupan seseorang untuk berubah, memahami, dan menerima berbagai keadaan.
Cerita Personal dalam Setiap Lagu
EP ini memuat lima trek, yakni Waktu Terbaik, 1.3.4, Save, Maapp, dan April. Lagu pembuka Waktu Terbaik menjadi fondasi pesan tentang keberanian untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Sementara itu, lagu April dan Maapp disebut sebagai karya yang paling merepresentasikan kondisi HESAID saat ini, sekaligus paling menantang dalam proses pembuatannya.
“April dan Maapp itu yang paling mewakili HESAID sekarang, dan juga paling sulit, baik secara emosional maupun teknis,” kata Bimo.
Sejumlah lagu dalam EP ini juga berangkat dari pengalaman nyata. Lagu Save menghadirkan nuansa spiritual yang kuat sebagai refleksi pribadi, sedangkan Maapp dan April terinspirasi dari kisah nyata tentang hubungan dan perpisahan.
“Save itu refleksi pengalaman pribadi. Kalau Maapp dan April, itu juga cerita nyata,” ujarnya.
Produksi dan Identitas Musik
Proses produksi Waktu Terbaik berlangsung sekitar dua bulan. Seluruh rekaman dilakukan di Sufi Record, dengan tahap mixing dan mastering dikerjakan oleh Heby.
Dalam eksplorasi musiknya, HESAID menggabungkan elemen pop punk dengan sentuhan emo, easycore, hingga punk rock. Mereka mengaku terinspirasi oleh band-band seperti Paramore, Neck Deep, All Time Low, dan Mayday Parade.
HESAID sendiri terdiri dari dua personel inti, yakni Rifqi Bimo sebagai gitaris sekaligus vokalis dan Rosyid Al Anshori sebagai bassis, dengan dukungan additional player untuk gitar dan drum.
Dikenal dengan lirik emosional dan nuansa pop punk alternatif, HESAID berupaya menghadirkan karya yang menjadi representasi perasaan banyak orang.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Melalui EP debut ini, HESAID berharap dapat menjangkau lebih banyak pendengar dan menghadirkan karya yang terasa dekat secara emosional.
“Harapannya, banyak yang relate dengan cerita di lagu-lagu ini, dan bisa jadi sahabat baru di playlist mereka,” ujar Bimo.
Untuk pendengar yang sedang berada di titik terendah, lagu Save direkomendasikan sebagai penguat.
“Karena lagu ini mengingatkan bahwa seberat apa pun hidup, selalu ada Tuhan yang membersamai,” katanya.
Saat ini, HESAID juga tengah menjalani rangkaian tur, gigs, dan showcase sebagai bagian dari promosi EP Waktu Terbaik ke berbagai kota. (*)







