Mengenal Masada, Unit Alternatif Bandung dengan Lirik Sarat Kritik Sosial

Masada merilis single terbaru berjudul Mereka, memadukan alternative rock atmosferik dengan kritik sosial tajam soal paradoks kekuasaan.
Personel Masada berpose usai sesi pemotretan promosi di Bandung. Dari kiri ke kanan: Muhtio M.M (bass), Fakhril Putra (vokal/gitar), Fariz Halim (gitar), dan Dimas P.P (drum). Band alternatif ini dikenal melalui karya-karya yang mengangkat isu sosial dengan balutan alternative rock atmosferik. (Foto: Dok. Masada)

Bandung, Semartara.News — Di tengah geliat musik independen Kota Bandung, Masada hadir sebagai suara yang tidak hanya menawarkan bunyi, tetapi juga gagasan. Unit alternatif ini menjadikan musik sebagai medium untuk membaca realitas, menyuarakan kegelisahan, sekaligus merekam denyut sosial yang kerap luput dari perhatian.

Terbentuk pada akhir 2024, Masada lahir dari pertemuan empat rekan kerja yang dipersatukan oleh semangat bermusik dan kecintaan pada skena independen. Formasi band ini terdiri atas Fakhril Putra pada vokal dan gitar, Fariz Halim di gitar, Muhtio M.M pada bass, serta Dimas P.P di posisi drum. Meski berasal dari latar belakang musikal yang berbeda, mereka berhasil meramu perbedaan itu menjadi identitas sonik yang kuat dan khas.

Secara musikal, Masada bergerak di wilayah alternative rock dengan spektrum pengaruh yang luas. Lo-fi, noise, post-rock, psychedelic, hingga hardcore berkelindan dalam komposisi mereka. Gitar-gitar mengawang, tekstur mentah, serta nuansa atmosferik menjadi fondasi yang membuat musik Masada terdengar luas, emosional, dan penuh karakter.

Namun, kekuatan utama Masada bukan hanya terletak pada lanskap suaranya. Band ini dikenal melalui lirik-lirik yang sarat kritik sosial dan refleksi terhadap berbagai persoalan modern. Mereka memandang musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog antara seniman, masyarakat, dan zaman yang terus bergerak.

Perjalanan musikal Masada dimulai lewat “Deforestasi”, sebuah lagu yang mengangkat isu kerusakan lingkungan dan relasi manusia dengan alam. Single tersebut menjadi pernyataan awal bahwa Masada datang dengan keberpihakan yang jelas. Tak lama berselang, mereka merilis “Remaja”, lagu yang menyoroti dinamika masa muda, pencarian identitas, serta benturan antara idealisme dan realitas.

Kematangan musikal mereka semakin terlihat melalui single terbaru, “Mereka”, yang dirilis pada 14 April 2026. Lagu ini menyoroti paradoks kekuasaan—bagaimana kursi kepemimpinan kerap diduduki oleh figur yang tidak sepadan dengan tanggung jawabnya. “Mereka” bukan sekadar luapan amarah, melainkan catatan kritis tentang regenerasi kekuasaan yang gagal, ketika yang diwariskan bukan kebijaksanaan, melainkan pola buruk yang terus berulang.

Pemilihan judul “Mereka” dilakukan dengan sengaja. Kata tersebut tidak menunjuk satu individu, melainkan merepresentasikan banyak figur sekaligus. Di situlah letak kekuatan lagu ini: ia relevan di berbagai konteks, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari.

Menariknya, seluruh proses kreatif Masada berlangsung di tengah kesibukan sebagai pekerja kantoran. Lagu-lagu mereka lahir dari obrolan singkat di sela rutinitas, bertumbuh melalui pertukaran ide digital, lalu disempurnakan di Binaural Studio bersama Loevi Wahyudi. Keterbatasan waktu justru menjadi bagian dari energi kreatif mereka.

Di tengah era ketika banyak lagu dibuat untuk sekadar viral, Masada memilih jalur berbeda. Mereka menciptakan musik yang ingin tinggal lebih lama di benak pendengar, memancing refleksi, dan membuka ruang diskusi.

Masada membuktikan bahwa musik independen masih memiliki daya gugat. Bahwa gitar yang mengawang, dentuman drum, dan lirik yang jujur tetap mampu menjadi medium paling manusiawi untuk mempertanyakan dunia. (*)

Tinggalkan Balasan