SEMARTARA, Kota Tangerang – Tradisi berbagi hewan qurban setiap tahun saat merayakan Idul Adha menjadi rutinitas warga di komplek SD Negeri Poris Gaga 1, 3, 4, 5, dan 8 UPT Pendidikan Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Kegiatan tersebut dilakukan sekaligus untuk pembelajaran para peserta didik tentang praktik penyembelihan hewan kurban. Sebanyak 480 paket kurban telah didistribusikan pihak panitia kepada siswa-siswi dan warga sekitar sekolah yang membutuhkan.
“Tahun ini kita kurban 1 ekor sapi. Ini dalam rangka pembelajaran dan menjalin kebersamaan untuk siswa kami di sekolah. Kompetensi siswa baik dalam teori maupun praktik harus seirama dan selaras, sehingga kegiatan ini dapat tertanamkan sejak dini dalam diri anak-anak untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ahmad Romdoni, Ketua Ranting PGRI Poris Gaga, Cabang Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Kamis (23/8).
Kegiatan tersebut melibatkan seluruh civitas pendidikan di wilayah setempat beserta para orang tua siswa di sekolah tersebut. Kegiatan juga terselenggara atas kerjasama seluruh Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kota Tangerang, dan jajaran pengurus PGRI cabang Kecamatan Batuceper.
Ketua KKG PAI Kota Tangerang, Ustadz Bahrul mengatakan, kegiatan tersebut sudah menjadi rutinitas ibadah yang dilakukan pihaknya sejak 12 tahun lalu, terhitung hingga saat ini. Menurut Bahrul, berbagi hewan qurban merupakan salah satu bagian materi pembelajaran PAI yang dipelajari para peserta didik beragama Islam.
“Kegiatan ini tidak bisa kita kenalkan kepada siswa hanya bersifat teorinya saja, namun harus dibarengi dengan praktik, dan kegiatan pemotongan hewan qurban hanya bisa dikenalkan pada bulan idul qurban,” katanya.
Kegiatan ini juga mempunyai nilai tarbiyah, lanjut Bahrul, atau pendidikan yang sangat tinggi, di mana sejak dini peserta didik dibiasakan menjadi hamba yang siap untuk dekat dengan sang Khalik, berqurban, berbagi, dan peduli kepada sesama muslim dan sesama manusia.
“Karena ibadah kurban mempunyai nilai dimensi ibadah kepada Allah juga mempunyai dimensi nilai sosial yakni berbagi dan peduli dengan yang lain,” jelasnya.
Ia menegaskan, pemotongan hewan qurban ini dilakukan anak didik di sekolah sebagai pembelajaran sikap spritual beragama Islam. Maka, sejak dini dikenalkan dan ditanamkan nilai-nilai ibadah, baik di lingkungan tempat tinggal, masyarakat, ataupun di lingkungan sekolah, termasuk ibadah qurban walaupun hanya tahap pembelajaran dan pengenalan penyembelihan hewan qurban.
“Ini bentuknya sukarela dari anak didik atau orang tuanya untuk menyumbangkan sedikit rejekinya dengan berqurban. Karena pada dasarnya anak didik belum mempunyai kewajiban untuk melakukan ibadah qurban. Dalam syariat islam pun kegiatan ini belum dikatakan sah, sebab Islam mengajarkan berqurban untuk satu ekor sapi maksimal tujuh orang, dan satu ekor kambing satu orang. Tapi ini proses pembelajaran,” urainya.
Sementara ketua panitia qurban, Suyono Mahfudz menjelaskan, banyak yang mencemaskan berkaitan dengan pelaksanaan pemotongan hewan qurban di sekolah. Sebab, hal itu berdampak pada kebersihan dan penularan penyakit, maka alasan tersebut terlalu dibesarkan.
“Islam sejak awal menyatakan bahwa “kebersihan sebagian dari iman”, termasuk syarat mutlak dalam berqurban yaitu hewan yang akan diqurban harus sehat, tidak cacat dan memenuhi syarat umur untuk qurban. Dengan syarat mutlak inilah kehawatiran yang dirisaukan. Insya Allah tidak akan terjadi di sekolah ini, baik dari kebersihan lingkungan maupun menularnya diakibatkan darah hewan qurban,” terangnya.
Selain membentuk sikap spiritual, lanjutnya, kurban merupakan ibadah yang mempunyai dimensi sosial. Dimensi sosial dalam hal ini adalah tertanamnya nilai kepedulian antar sesama muslim dan juga antar umat manusia. Disarankan bagi yang mempunyai kelebihan rizki untuk melakukan qurban dan dagingnya didistribusikan kepada sesama muslim atau sesama umat manusia.
“Disribusi daging qurban tidak mengenal golongan, seperti dalam pembagian zakat, bahkan dibolehkan untuk membagikan daging qurban kepada non muslim asal bukan non muslim ‘harbi’,” pungkasnya. (Helmi)