Opini  

Standar Kejantanan dan Maskulinitas Laki-Laki dalam Ranah Patriarki

Konsep maskulinitas dalam patriarki menekan laki-laki dengan standar kelaki-lakian ideal. Artikel ini mengulas dampak dan pentingnya redefinisi.
Sulthonu Diburhan (Foto: Dok. Pribadi)

Opini, Semartara.News – Ketika berbicara tentang patriarki, kita sering membayangkan perempuan sebagai korban utama. Namun, ada sisi lain yang jarang kita sentuh: laki-laki sendiri juga terjerat oleh struktur yang mereka “untungkan”. Maskulinitas, yang sering dianggap bawaan lahir, sebenarnya adalah hasil konstruksi sosial. Ia dibentuk oleh budaya, agama, keluarga, media, dan lingkungan sosial yang menciptakan gambaran tentang “laki-laki ideal”.

Menurut Barker (dalam Demartoto, 2012), maskulinitas ideal diperlihatkan melalui kekuatan, dominasi, keberanian, kemampuan mengendalikan diri, dan orientasi pada pekerjaan. Sebaliknya, sifat-sifat seperti kelembutan, empati, kemampuan berbahasa, atau kedekatan dengan anak-anak dianggap feminin dan karenanya tidak bernilai bagi laki-laki. Ini adalah jebakan sosial yang halus namun kuat.

Patriarki memang menempatkan laki-laki sebagai pihak superior, tetapi pada saat yang sama memaksa mereka hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi yang tidak manusiawi. Laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh terlihat lemah, dan harus selalu siap mengambil alih kendali. Pertanyaannya: benarkah ini “keuntungan”?

Atau justru tekanan yang perlahan mengikis kemanusiaan mereka?

Bagaimana Patriarki Mencetak Maskulinitas “Siap Pakai”

Di Indonesia, konstruksi maskulinitas ditanamkan sejak anak laki-laki membuka mata untuk pertama kalinya. Dari ucapan “anak laki-laki itu harus kuat” hingga permainan yang diarahkan pada kekerasan dan dominasi, masyarakat membentuk citra mengenai kelaki-lakian sebelum laki-laki itu sendiri punya kesempatan mengenal dirinya.

Kita sering mendengar kalimat seperti:

“Namanya juga laki-laki.”
“Laki-laki kok cengeng.”
“Laki-laki kok gemulai.”
“Laki-laki kok pakai skincare.”

Ucapan-ucapan sepele ini adalah mekanisme sosial yang menjaga agar maskulinitas tetap berada dalam koridor tradisional. Akibatnya, laki-laki yang gagal memenuhi standar tersebut akan dianggap tidak “lelaki sejati”. Tekanan ini tidak jarang menimbulkan depresi, kekerasan, atau represi emosional.

Ironisnya, ketika laki-laki melakukan kekerasan, masyarakat justru menormalisasi dengan alasan “memang begitu fitrahnya laki-laki”. Seolah-olah kekerasan adalah bagian dari kelelakian, padahal itu hanyalah produk sosial yang diwariskan turun-temurun.

Evolusi Maskulinitas: Dari Macho hingga Metroseksual

Beynon (dalam Natsir, 2007) membagi perkembangan maskulinitas ke dalam empat era:

1. Sebelum 1980-an – Era Macho Dominan

Laki-laki digambarkan kuat secara fisik, dominan, anti-feminin, dan tidak boleh menunjukkan emosi.

2. 1980-an – Muncul Figur “New Man”

Laki-laki mulai memperlihatkan aspek feminin: membantu pekerjaan domestik, dekat dengan anak, dan lebih empatik.

3. 1990-an – Kembalinya Maskulinitas Tradisional

Gambar laki-laki macho naik lagi. Kekerasan, agresi, dan hubungan non-komitmen menjadi tren.

4. 2000-an – Era Metroseksual

Laki-laki mulai memperhatikan penampilan, gaya hidup, dan perawatan diri.

Namun di Indonesia, perubahan ini tidak diterima sepenuhnya. Perawatan diri atau skin care sering dianggap sebagai ancaman bagi “kelaki-lakian”. Padahal di dunia kerja modern, penampilan profesional justru menjadi syarat penting. Ini menunjukkan betapa konstruksi maskulinitas sering kali bertolak belakang dengan kebutuhan dunia nyata.

Mengapa Maskulinitas Harus Diredefinisi

Jika diperhatikan, inti persoalan bukan pada maskulinitas itu sendiri, melainkan pada bagaimana masyarakat menafsirkan dan memaksakan konsep tersebut. Ketika laki-laki tidak mampu memenuhi standar ideal, mereka sering menutupi rasa gagal itu dengan agresi atau kekerasan. Tidak sedikit kasus kekerasan terhadap perempuan yang berakar dari upaya laki-laki mempertahankan atau membuktikan maskulinitas mereka.

Oleh karena itu, rekonstruksi maskulinitas bukan hanya untuk membebaskan perempuan, tetapi juga untuk membebaskan laki-laki dari jeratan standar yang menyiksa.

Maskulinitas baru harus diletakkan pada nilai-nilai:

  • tanggung jawab
  • empati
  • keterbukaan emosional
  • kesetaraan
  • kemampuan merawat diri dan orang lain

Ini bukan membuat laki-laki menjadi “lemah”, tetapi membuat mereka lebih utuh sebagai manusia.

Langkah Konkret Menghadapi Bias Maskulinitas

1. Pendidikan Gender Sejak Dini

Anak-anak perlu diajarkan bahwa empati bukan kelemahan. Menangis bukan dosa. Kelembutan bukan milik satu gender saja.

2. Mengubah Representasi Media

Media harus menghadirkan laki-laki yang beragam: yang merawat anak, yang menangis, yang memasak, yang merawat diri, yang tidak agresif—tanpa harus dianggap kehilangan kelelakian.

3. Ruang Aman untuk Laki-Laki

Laki-laki butuh ruang untuk curhat, mengeluh, dan mengekspresikan rasa tanpa takut diejek.

4. Kebijakan Publik yang Mendukung

Cuti ayah, edukasi gender di kantor, dan kampanye anti toxic masculinity adalah langkah penting.

5. Refleksi Diri Laki-Laki

Laki-laki harus berani bertanya:

“Siapa yang mengajari saya bahwa menangis itu memalukan?”
“Mengapa saya takut terlihat lembut?”
“Apakah saya benar-benar hidup sebagai diri saya sendiri?”

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pintu menuju maskulinitas yang lebih sehat.

Penutup: Maskulinitas Baru untuk Dunia yang Lebih Adil

Maskulinitas bukanlah sifat bawaan, melainkan konstruksi sosial yang bisa—dan perlu—diubah. Di bawah patriarki, laki-laki memang mendapat keistimewaan, tetapi sekaligus kehilangan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya. Mereka dipaksa kuat, padahal manusia tidak selalu kuat. Mereka dilarang menangis, padahal manusia membutuhkan ekspresi emosi.

Dengan merekonstruksi maskulinitas, kita tidak hanya membebaskan perempuan dari dominasi, tetapi juga membebaskan laki-laki dari tekanan yang tidak perlu. Maskulinitas baru tidak menolak kekuatan, tetapi mendefinisikan ulang apa arti kuat itu. Kuat tidak harus dominan. Kuat tidak harus agresif. Kuat berarti mampu bertanggung jawab, empatik, dan jujur pada diri sendiri.

Transformasi maskulinitas adalah langkah penting menuju kehidupan sosial yang lebih sehat, setara, dan manusiawi bagi semua gender.

Penulis: Sulthonu Diburhan
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

Tinggalkan Balasan