SEMARTARA, Kota Tangerang (21/2) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, bersama SD Negeri Gondrong 3, UPT Pendidikan Kecamatan Cipondoh, selenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dan Penandatanganan MoU Persiapan Calon Sekolah Adiwiyata Tingkat Kota Tangerang Tahun 2019. Adapun kegiatan terlaksana di Aula SDN Gondrong 3, Rabu (21/2).
Kepala Bidang (Kabid) Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, DLH Kota Tangerang, Dra. Eni Nuraeny menyampaikan, ada beberapa klasifikasi terkait sekolah adiwiyata, pertama yakni sekolah adiwiyata tingkat kota, kemudian tingkat provinsi, tingkat nasional, dan terakhir tingkat mandiri.
“Hari ini kita sosialisasi sekolah adiwiyata mandiri tahun 2019, salah satu syarat menjadi sekolah mandiri yaitu harus mempunyai sekolah imbas atau binaan minimal sepuluh sekolah,” kata Eni, seusai acara.
“Dalam aturan minimal sepuluh, tetapi jika sekolah induk mampu merangkul lebih dari sepuluh sekolah imbas, itu lebih bagus,” tambahnya.
Kewajiban sekolah induk atau calon sekolah adiwiyata mandiri ini, kata dia, yaitu membina dan mendorong sekolah imbas menjadi sekolah adiwiyata tingkat kota.
“Calon sekolah mandiri ini harus punya schedule membina sekolah imbasnya, jadi kewajibannya membina untuk satu tahun kedepan. Dan kami sendiri dari DLH akan mendampingi,” jelasnya.
Menurut Eni, SDN Gondrong 3 memiliki potensi yang sangat baik, itu terbukti dengan meraih sertifikat adiwiyata tingkat nasional dan keberhasilannya merangkul sebanyak 12 sekolah imbas.
“Kami secara otomatis akan terus mendorong agar SDN Gondrong 3 berhasil menjadi sekolah adiwiyata tingkat mandiri,” imbuhnya.
Dirinya berharap agar SDN Gondrong 3 terus menciptakan inovasi-inovasi yang baru dan membuat terobosan yang berbeda dengan sekolah lainnya sehingga terbentuk karakter sekolah yang mandiri.
Sementara Kepala SDN Gondrong 3, Hj Tuti Alawiyah mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan membuat jadwal untuk melakukan pembinaan sesuai apa yang disampaikan DLH. Ia juga mengaku akan terus meningkatkan sarana penunjang dan memberikan edukasi lingkungan terhadap peserta didik.
“Setelah ini kita akan membuat jadwal dan membahas program kedepan. Kami juga akan terus melibatkan partisipasi aktif peserta didik dan pihak lainnya,” kata Hj Tuti.
“Alhamdulillah siswa disini juga sudah sangat peduli dengan kebersihan, kebiasaan-kebiasaan positif itu yang selalu kami harapkan kepada siswa. Dan secara perlahan semua warga sekolah tambah peduli dengan kebersihan di lingkungan sekolah,” tandasnya.
Dirinya berharap seluruh stake holder di wilayahnya mampu meningkatkan kerja sama serta terus meningkatkan kepeduliannya terhadap lingkungan sekolah. Hal itu agar proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berjalan sesuai harapan semua.
“Sebetulnya ini kewajiban kita bersama untuk menjaga kebersihan. Karena kalau lingkungan kita bersih dan indah, KBM juga akan jadi lebih nyaman, dan kita jadi betah di sekolah,” pungkasnya. (Helmi)