Sementara itu, Yudi mewajarkan banyaknya sampah organik tersebut karena berbanding lurus dengan jumlah penduduk Kota Tangerang.
“Otomatis. Jadi, setiap penduduk sudah pasti menghasilkan sampah,” ungkap Yudi.
“Wajarlah. Misalnya, Kota Tangerang dengan jumlah penduduk 1,8 hasil volume sampah timbulnya di bawah 1000, malah jadi tanda tanya,” jelasnya.
DLH Kota Tangerang mengolah 10 ton sampah organik perhari
Di sisi lain, Yudi menjelaskan soal pengelolaan sampah organik bahwa setiap harinya pihak DLH mengolah 10 ton.
“Dari sampah organik, kita sudah menangani 10 ton perhari diolah pakai mangot,” papar Yudi.
Selain itu, terdapat kontribusi pengelolaan sampah dari bank sampah yang ada di Kota Tangerang. Hal itu, menjadi sistem Waste Collecting Point (WCS) untuk sampah-sampah rumah tangga.
Di samping itu, DLH mengajak masyarakat agar tidak membangun kampungnya dari segi estetika saja, tetapi dari pola hidupnya juga karena sampah itu ada nilai ekonomis yang sangat tinggi.
“Jadi, kita membangun mindset masyarakat agar peduli dengan sampah mereka sendiri. Mengelola sampah yang ada nilai ekonomisnya dan yang tidak ada, itulah yang benar-benar dibuang ke TPA,” imbuhnya. (Kahfi/Say)