Jakarta, Semartara.News — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan bahwa jumlah pemudik pada tahun ini akan mengalami penurunan hingga 24 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan ini adalah melemahnya daya beli masyarakat, yang disebabkan oleh keterbatasan dana di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok.
Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan tarif tol dan pesawat yang lebih terjangkau, hal ini tidak cukup untuk mendorong antusiasme masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik, mengingat kondisi ekonomi yang sulit.
“Sejak Januari 2024 hingga Maret 2025, diperkirakan sekitar 250.000 orang akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), yang berarti rata-rata 535 orang per hari atau 23 orang per jam,” ungkap Guntur Romli, politisi dari PDI Perjuangan, dalam unggahannya di Facebook yang dikutip oleh Semartara.News pada Selasa, 25 Maret 2025.
Penurunan jumlah pemudik ini berdampak langsung pada perputaran uang yang juga menurun. “Diperkirakan, jumlah orang yang mudik tahun ini akan turun antara 24% hingga 26%, yang berakibat pada penurunan perputaran uang saat Lebaran sebesar 20 hingga 25 triliun rupiah,” tulis Romli.
Di sisi lain, Romli menambahkan bahwa melemahnya daya beli masyarakat juga berkontribusi pada lonjakan pinjaman online (pinjol) yang meningkat hingga 26 persen. “Kondisi ekonomi yang sulit ini mendorong peningkatan angka pinjaman online dan layanan Paylater lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Achmad Nur Hidayat, seorang pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, berpendapat bahwa penurunan jumlah pemudik mencerminkan perubahan dalam pola mobilitas masyarakat dan juga merupakan indikasi adanya gejolak dalam perekonomian nasional.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat cenderung menunda pengeluaran karena ekspektasi harga bahan pangan dan tiket perjalanan yang tinggi, serta adanya ancaman PHK yang membuat mereka lebih berhati-hati dalam berbelanja.
“Proyeksi penurunan jumlah pemudik ini memperkuat indikasi bahwa pelemahan ekonomi sedang berlangsung, di mana daya beli masyarakat tertekan oleh biaya hidup yang meningkat dan ketidakpastian di pasar kerja,” jelas Achmad, seperti yang dilansir dari metrotvnews.com. (*)