Parlemen Indonesia Terdepan Dalam Menggodok Isu Perempuan Pada Sidang IPU ke 144

Parlemen Indonesia Terdepan

Bali, Semartara.News – Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani mengatakan gagasan-gagasan Parlemen Indonesia terdepan pada isu-isu perempuan, selama sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-144.

Bahkan, hal tersebut  banyak diapresiasi di forum Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-144. Banyak delegasi yang merasa Indonesia menjadi contoh nyata kepemimpinan perempuan.

Di Forum of Women Parliamentarians, Puan menyebut Parlemen Indonesia terdepan dalam menggodok beberapa produk regulasi yang berpihak kepada perempuan, dimana salah satu contohnya adalah seperti dalam keterlibatan perempuan dalam mempersiapkan produk kebijakan publik.

“Kepemimpinan perempuan di Indonesia menginspirasi mereka. Banyak yang mau belajar lebih lanjut, bagaimana mereka juga ingin meningkatkan jumlah anggota perempuan di parlemen. Mereka melihat kesuksesan Indonesia” jelasnya dalam rilis media yang dilansir dari situs DPR RI.

Untuk itu, Puan mendorong agar lebih banyak lagi perempuan yang menjadi anggota parlemen. Puan mengatakan, DPR juga terus meningkatkan jumlah anggota parlemen agar kebijakan-kebijakan negara semakin mengedepankan kesetaraan gender karena adanya campur tangan dari perempuan itu sendiri.

“Selama beberapa tahun terakhir ini, kita telah menyaksikan bagaimana perempuan berkiprah di dunia politik. Pada tahun 2021, dari 73 orang yang terpilih sebagai ketua parlemen di seluruh dunia, 18 orang di antaranya atau 24,7 persennya adalah perempuan,” papar politisi fraksi PDIP itu.

Sementara itu, anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Irine Yusiana Roba Putri yang menjadi Ketua dalam 33rd session of the Forum of Women Parliamentarians,  mengatakan, Rancangan Undang-undang (RUU) Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang sempat disinggung Puan dalam forum, mendapat sorotan delegasi-delegasi IPU.

“Dengan RUU TPKS, Indonesia dianggap progresif dalam perlindungan terhadap perempuan. Kemudian terkait pandemi Covid-19, Indonesia juga dapat nilai positif karena kebijakan untuk perempuan dan anak dianggap menonjol, termasuk dalam vaksinasi,” jelas Irine.

Irine mengatakan, kebijakan-kebijakan Indonesia dinilai ramah gender. Selain itu, Indonesia dianggap menjadi role model kepemimpinan perempuan. “Bagaimana tidak? Indonesia sudah punya presiden perempuan, ketua DPR perempuan. Jadi kita dianggap lead by example. Bahkan Amerika negara maju aja belum punya presiden perempuan. Maka banyak mata dunia yang memandang ke kita,” terang Irine.

Anggota Komisi I DPR RI ini pun bercerita, delegasi parlemen Thailand sangat kagum dengan kepemimpinan perempuan di Indonesia. Hal tersebut, kata Irine, terlihat saat pertemuan bilateral antara Puan dan pimpinan parlemen Thailand di sela-sela penyelenggaraan IPU.

Dalam Governing Council IPU pagi ini, Irine membacakan hasil pertemuan Women Parliamentarians. Ada dua resolusi yang dihasilkan oleh forum ini, pertama adalah ‘Memikirkan Kembali dan Membingkai Ulang Pendekatan Proses Perdamaian dengan Pandangan untuk Membina Perdamaian Abadi’. Kemudian resolusi kedua yaitu ‘Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Enabler Sektor Pendidikan, Termasuk di Masa Pandemi’.

Diketahui, Women Parliamentarians dihadiri oleh 129 peserta, termasuk 64 anggota parlemen dari 60 negara. Rinciannya adalah, 55 anggota parlemen perempuan dan 9 anggota parlemen laki-laki. “Saya mengambil kesempatan ini untuk mendorong lebih banyak rekan pria untuk menghadiri Forum dan memperjuangkan kesetaraan gender!” tegas Irine.

Tinggalkan Balasan