Opini  

Menjaga Khidmah NU: Makna Duet Kepemimpinan Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj dinilai mampu menjaga khidmah dan manhaj NU dalam transisi kepemimpinan jam’iyah PBNU!!
H. Ahmad Imron, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, Pengasuh Pondon Pesantren Daarul Falahiyyah. (Foto: Ist)

Opini, Semartara.News — Bagi Nahdlatul Ulama (NU), kepemimpinan bukan sekadar soal siapa yang berada di depan, melainkan tentang bagaimana khidmah kepada jam’iyah tetap terjaga. Setiap transisi kepemimpinan selalu menjadi ujian: apakah NU tetap berjalan di bawah bimbingan ulama, adab, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, atau justru tergelincir oleh kepentingan sesaat. Dalam kerangka itulah, duet kepemimpinan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Said Aqil Siroj menemukan maknanya.

Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak pernah dipahami sebagai panggung kehormatan. Ia adalah amanah yang berat, yang menuntut kesiapan untuk ngopeni, bukan keinginan untuk dipangku. Para masyayikh sejak lama mengingatkan bahwa menjadi pemimpin berarti bersedia mengabdi, bukan dilayani.

Karena itu, perbincangan tentang figur pemimpin NU sejatinya bukanlah soal popularitas, melainkan soal kemampuan menjaga khidmah agar tetap lurus. NU besar bukan karena kuatnya satu tokoh, tetapi karena kokohnya jam’iyah yang dirawat dengan keikhlasan dan adab.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj dapat dibaca sebagai ikhtiar menjaga keseimbangan itu. Bukan semata pasangan struktural, melainkan pertemuan antara generasi yang sedang tumbuh dan pengalaman panjang seorang kiai sepuh dalam merawat NU.

Imam Al-Ghazali pernah menegaskan bahwa kepemimpinan hanya akan tegak bila ditopang oleh tiga perkara: ketaqwaan, akhlak mulia, serta ilmu dan kompetensi. Ketiganya bukan formalitas, melainkan laku hidup yang membentuk cara seorang pemimpin bersikap dan mengambil keputusan.

Gus Salam adalah bagian dari mata rantai keulamaan NU. Ia merupakan dzurriyat KH Bisri Syansuri, muassis NU dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun dalam pandangan warga NU, nasab bukanlah keistimewaan yang diwarisi tanpa syarat. Ia adalah amanah yang harus ditebus dengan kesungguhan berilmu, beradab, dan berkhidmah.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Gus Salam dikenal tekun dalam tradisi bahtsul masail. Ia tidak hanya piawai membaca dan mengurai kitab kuning, tetapi juga berupaya menghadirkannya sebagai penuntun kehidupan umat di tengah tantangan zaman. Fikih dan manhaj NU baginya adalah jalan untuk menuntun, bukan alat untuk mempertajam perbedaan.

Pengalaman Gus Salam dalam struktur jam’iyah NU—mulai dari Katib Syuriyah PBNU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, hingga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur—membentuk kepekaan organisasionalnya. Ia memahami NU sebagai ruang musyawarah, tempat perbedaan dirawat dengan adab.

KH Said Aqil Siroj, di sisi lain, adalah ulama sepuh yang telah lama menjadi rujukan warga NU. Sanad keilmuannya yang berakar dari pesantren-pesantren besar hingga Ummul Qura Makkah menjadi fondasi keilmuan yang kokoh. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode menjadikannya sosok yang matang dalam menyikapi dinamika internal maupun tantangan eksternal.

Dalam perannya sebagai Rais Aam, KH Said Aqil Siroj diharapkan mampu meneguhkan kembali fungsi Syuriyah sebagai penjaga arah dan ruh jam’iyah. Bukan hanya menjaga struktur organisasi, tetapi memastikan khidmah NU tetap berjalan di atas rel manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj merepresentasikan wajah NU yang sejak awal dijaga: keseimbangan antara generasi muda dan kiai sepuh, antara semangat pembaruan dan kearifan tradisi, antara ikhtiar lahir dan doa batin. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tetapi juga tidak berhenti— alon-alon asal kelakon.

Bagi warga NU, ikhtiar ini patut disambut dengan husnuzan. Sebab NU hidup bukan oleh satu figur, melainkan oleh kesediaan warganya untuk menjaga adab, persatuan, dan khidmah bersama. Jika amanah kepemimpinan kelak dipikul oleh mereka yang layak, maka tugas kita adalah menguatkan, mengingatkan, dan mendoakan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin NU, meluruskan niat mereka, meneguhkan langkah mereka, dan menjadikan setiap khidmah sebagai amal yang diridhai. Sebab pada akhirnya, NU tidak sedang mencari siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang paling siap mengabdi.

Banten, Februari 2026

Penulis: H. Ahmad Imron
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah (*)

Tinggalkan Balasan